Hits: 3

Shafna Jonanda Soefit Pane

Pijar, Medan. Perubahan iklim yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir, berdampak pada banyak aspek dalam kehidupan; kesehatan hingga kesejahteraan. Sebagian manusia yang merasakan langsung perubahan iklim tersebut pastinya merasakan keresahan sewaktu-waktu saat kejadian. Ditambah dengan arus media sosial yang kian cepat menyebar, meningkatkan stres hingga kecemasan, depresi, dan hilangnya harapan untuk masa depan. Fenomena ini, lebih dikenal dengan istilah Climate Anxiety atau kecemasan iklim.

Dilansir dari bmkg.go.id, Climate Anxiety ialah perasaan di mana seseorang merasa gelisah, takut, dan tidak berdaya akibat memikirkan krisis iklim yang berlangsung, serta ancamannya bagi masa depan. Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan saja, tetapi juga bisa merambah pada kesehatan mental manusia. Kecemasan iklim ini banyak dirasakan oleh generasi muda, sebab mereka yang harus melewati dan diwarisi dunia yang semakin tidak stabil secara ekologis ini.

Melihat kondisi bumi yang semakin menurun, banyak anak muda yang mulai mengedukasi diri dan mencari cara untuk menjaga kelestarian dan kesejahteraan bumi. Namun, karena banyaknya informasi yang beredar, mereka justru ikut cemas dan mempertanyakan bagaimana masa depan yang akan datang jika kondisi bumi memburuk dan tidak teratasi.

Dalam sebuah studi dari jurnal The Lancet Planetary Health yang terbit pada 2021, didapat hasil bahwa 59% dari 1000 responden muda dari sepuluh negara di dunia, merasa sangat khawatir terhadap perubahan iklim yang terjadi. Banyaknya informasi yang didapat terkait perubahan iklim tersebut, bercampur dengan pemberitaan mengenai minimnya gerakan pemerintah di negaranya terhadap respons saat bencana, sehingga memperburuk kecemasan mereka.

Meski belum secara formal dinyatakan sebagai penyakit mental, Climate Anxiety dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan jika tidak ditangani dengan baik, apalagi jika memiliki riwayat kecemasan sebelumnya. Climate Anxiety dapat memicu gangguan tidur, rasa tidak berdaya, hingga kelelahan secara emosional.

Seorang pakar kesehatan mental, John, melalui United Nations Children’s Fund (UNICEF), mengatakan bahwa ada beberapa kesalahpahaman mengenai Climate Anxiety.

Climate anxiety bukanlah gangguan mental, melainkan respons alami.” Jadi, walau terlihat berbahaya, hal ini wajar dialami oleh seseorang sebab dinilai sebagai respons yang sehat secara mental saat menghadapi masalah lingkungan.

Climate Anxiety dapat menyerang siapa saja. Meski dinyatakan sebagai respons mental yang sehat oleh pakar kesehatan, hal ini harus tetap diwaspadai. Ada beberapa cara yang direkomendasikan para pakar tersebut, agar seseorang, terutama anak-anak, terhindar dari Climate Anxiety.

“Ajari anak Anda cara untuk merasa baik-baik saja di dunia yang seringkali tidak terasa baik-baik saja,” ungkap Caroline, dalam wawancaranya bersama UNICEF terkait cara penanganan Climate Anxiety pada anak-anak.

Cara lain yang dapat diterapkan adalah dengan memilah informasi yang masuk ketika dihadapkan dengan informasi mengenai lingkungan. Hindari skenario yang belum tentu terjadi, dan fokus dengan membantu memperbaiki. Adanya hal ini dapat meningkatkan kewaspadaan kita terhadap kondisi bumi, sehingga kita dapat ikut merawat dan menyanyangi bumi agar hidup dan bertahan lebih lama lagi.

Meski begitu, jika sudah merasa cemas berlebih dan dirasa parah, segera periksakan diri ke ahlinya, ya!

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment