Hits: 32
Umniyatiy Nurul Atqiya
Pijar, Medan. ”Kalau uang di m-banking ada 2,5 juta berarti yang bisa dipakai cuma lima ratus ribu. Kalau uang kita ada 675 ribu berarti kita harus cari 25 ribu lagi untuk genapin.”
“Kalau belanjanya di bawah Rp100.000,00, itu kayak belanja gratis.”
Girl Math adalah tren yang akhir-akhir ini ramai menarik perhatian banyak orang di media sosial karena konsepnya yang menghibur dan sedikit nyeleneh. Istilah ini menggambarkan tentang bagaimana logika unik perempuan (walaupun tidak terbatas pada perempuan saja) untuk membenarkan pengeluaran mereka.
Contohnya, saat kita membeli barang diskon, kita merasa sudah menghemat uang, padahal sebenarnya tetap mengeluarkan lebih banyak karena membeli sesuatu yang mungkin tidak dibutuhkan. Atau saat menggunakan uang tunai, logika perempuan akan menganggap seolah mereka tidak mengeluarkan uang sama sekali karena saldo rekening tidak berkurang.
Dilansir dari kumparan.com, istilah Girl Math berasal dari Selandia Baru, tepatnya bermula dari salah satu segmen di sebuah stasiun radio ZM saat seorang pendengar menelepon guna mencari validasi untuk membenarkan pengeluaran belanjanya yang mahal.
Ibarat dua sisi mata uang, fenomena ini bisa membuat pengelolaan keuangan menjadi berantakan atau sebaliknya, tergantung pada mindset setiap orang.
Di satu sisi, manajemen keuangan bisa jadi berantakan jika kita terus membenarkan pengeluaran tanpa logika yang jelas. Namun, dari sisi positif, Girl Math memberi sudut pandang baru tentang cara mengelola uang, dan topik keuangan yang biasanya serius menjadi lebih santai untuk dibicarakan.
Tren ini juga membuat kita sadar akan kebiasaan belanja kita. Bahkan, kadang kita bisa tertawa sendiri saat menyadari betapa seringnya kita menggunakan logika semacam itu.
Namun, perlu diingat, Girl Math juga bisa menjadi alasan untuk belanja impulsif atau boros. Saat segala pengeluaran dibenarkan dengan logika yang tidak realistis, kita bisa kehilangan kontrol dalam mengelola keuangan. Misalnya, menganggap belanja besar karena diskon sebagai penghematan padahal tetap mengeluarkan uang.
Menurut salah satu Perencana Keuangan Finansialku, dilansir dari laman finansialku.com, Laurensia Vina Dharmawan, beranggapan bahwa Girl Math adalah fenomena bersifat “bias”.
“Girl math menurutku suatu fenomena yang tergolong dalam mental accounting bias, artinya memiliki cara pandang berbeda terhadap setiap pengalokasian uang, sehingga memengaruhi adanya perbedaan kebiasaan berbelanja dan menabung,” ucapnya.
Jika fenomena ini terus menerus dijadikan pembenaran dalam jangka panjang, maka pengelolaan keuangan dapat terganggu. Padahal, pengelolaan uang yang baik sangat penting untuk memastikan stabilitas finansial, terutama di tengah tekanan gaya hidup konsumtif di zaman sekarang.
Jadi, Girl Math memang lucu dan menghibur. Paling terpenting, kita perlu tetap bijak dalam mengelola uang, agar logika yang digunakan untuk membenarkan pengeluaran tidak justru merugikan diri sendiri.
(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

