Hits: 36

Pijar, Medan. Apa jadinya kalau virus Papercraft mulai menyebar di kalangan mahasiswa? Kertas pun bisa “disulap” menjadi sebuah robot? Tidak percaya? “PeRI kertas Medan” membuktikannya.
Mengubah lembaran kertas menjadi suatu alat yang dipergunakan manusia sudah ada sejak tahun 1940-an. Pembentukan kertas yang pertama yaitu berupa kendaraan perang dan bentuk bangunan. Menurut wikipedia, sejarah asal usul papercraft berasal dari Amerika serikat, Inggris dan Eropa yang kemudian mengalami perkembangan pesat ke Asia terutama di Jepang.
Di Indonesia, pembentukan komunitas Paper Replika Indonesia, disingkat PeRI, di Jakarta pada tahun 2009 dianggap sebagai awal perkembangan Papercrafter di tanah air. Seiring perkembangannya, bermunculan lah komunitas Papercraft diberbagai daerah di Indonesia seperti Yogjakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan daerah-daerah lainnya.
Untuk Kota Medan sendiri, komunitas Papercraft didirikan pertama kali pada tanggal 24 Maret 2012 dengan nama “PeRI Kertas Medan”. Wahyu Ulil Amri (22), sebagai ketua komunitas PeRI Kertas Medan menyebutkan bahwa didirikannya komunitas Papercraft di Medan ini berawal dari coba-coba membuat Danbo dari kertas, tapi kemudian mendapatkan persetujuan dari komunitas Papercraft di Jakarta.
Wahyu mengatakan, awalnya PeRI Kertas Medan beranggotakan hanya tiga orang saja. Seiring berjalannya waktu, kalangan Mahasiswa mulai tertarik akan komunitas yang tergolong kreatif ini dan anggotanya pun terus bertambah. Hingga jumlah anggota PeRI Kertas Medan saat ini berjumlah dua puluh orang. Latar belakang angota PeRI Kertas Medan sangat beragam seperti Mahasiswa, Karyawan bahkan pengusaha roti. “Kemarin ada rombongan anak sekolah dari Tanjung Morawa yang datang,” ujar pemuda yang juga pegawai parkiran Fakultas MIPA.
Tujuan didirikannya PeRI Kertas Medan adalah untuk mengasah kreativitas dan hal-hal positif lainnya yang tentu sangat bermanfaat bagi setiap anggotanya. Semua anggota Peri Kertas Medan biasa berkumpul di Thamrin Plaza pada hari minggu. Akan tetapi, para anggota yang berstatus mahasiswa, menjadikan kampus, tepatnya di parkiran sepeda motor Fakultas MIPA sebagai tempat tongkrongan mereka.

*Membuat Papercraft susah-susah gampang
Menurut Wahyu, tidak diperlukan skill yang tinggi untuk membuat sebuah karya Papercraft, karena yang dibutuhkan hanyalah minat, ketelitian yang ekstra dan kesabaran. “Untuk membuat satu jenis Papercraft, bisa dikerjakan satu hari saja” tuturya. Wahyu sengaja tidak mengorientasikan produk buatannya ini ke dunia bisnis karena memang tujuannya hanyalah untuk mengajari orang-orang yang ingin tahu lebih banyak tentang Papercraft. “Kalau untuk teman-teman, saya kasi langsung tanpa dibayar,” tambahnya.
Untuk proses pembuatan satu jenis Papercraft pertama kali didesain melalui software Auto Cad atau 3D Max dan dipecah (diatur kembali-red) dengan program total pola designe, lalu diprint dalam format JPEG atau PDF. Bahan yang diperlukan untuk satu jenis Papercraft terdiri dari kertas Basic, penggaris, gunting, pisau, pulpen kosong (bekas), pinset dan lem khusus. Setelah di-print ikuti petunjuk garis kertas yang dicetak, lakukan pemotongan sesuai garis, kemudian cipratkan lem ke area yang sudah dilipat. Proses pembuatan seperti ini menurut Wahyu sudah cukup bagi pemula.
Kertas untuk Papercraft di Medan masih sulit ditemukan. “Kalau pun ada, itu hanya di Gramedia dan harganya sangat mahal. Sejauh ini saya beli dari Bandung,” ungkap wahyu. “Kalau ini, bahannya dari Itali” tambahnya, sambil menunjukkan salah satu karyanya yang berjenis robot.
Sejauh ini, penghargaan dari pemerintah untuk Papercraft karya Wahyu ini memang belum ada. Akan tetapi, mereka sudah pernah tampil di media massa nasional seperti Metro TV, TV one, Antv, Deli TV, Spacetoon dan iRadio. Menurutnya, itu sudah merupakan perhatian yang luar biasa.
Saat ini, Wahyu sedang menyelesaikan satu Papercraft yang mirip robot Anime yang direncanakan selesai akhir tahun ini. “Kalau udah siap, nanti akan kita pajang disini (parkiran FMIPA),” ujarnya mantab. Kita tunggu dan doakan saja para PeRI Kertas ini menyihirnya. [mhs]
