Hits: 25
Lowla Santa Claudia Manurung
Pijar, Medan. Lebaran merupakan hari yang sangat dinanti umat Islam di seluruh dunia. Hari raya yang menjadi momentum kumpulnya semua keluarga, melepas rindu, tertawa bersama, hingga mencicipi makanan yang mungkin jarang kita konsumsi. Tidak jarang, banyak orang ingin memberikan yang terbaik pada momen perayaan sekali setahun ini.
Pembelian secara masif sebelum Lebaran, secara tidak langsung menjadi kebiasaan yang kerap dilakukan banyak orang. Gaya hidup ini seolah-olah memberikan asupan makanan pada media sosial hingga masyarakat. Tidak berhenti sampai disitu, beragam hal saling berkaitan layaknya toko online yang berbondong-bondong memberikan potongan harga hingga ongkos kirim yang gratis.
Beragam platform belanja daring juga tidak ingin melepaskan kesempatan pada momen Lebaran ini. Sejumlah trik dilakukan, seperti promosi bulanan, sistem bundling, hingga harga produk yang jauh lebih murah. Permintaan pasar yang dua kali lebih meningkat merupakan alasan banyak platform turut serta dalam momentum ini.
Perayaan sekali setahun ini juga menjadi ajang unjuk diri bagi sosial. Baju keluarga yang harus seragam, barang pribadi yang harus dibeli baru, kue Lebaran yang harus lengkap, hingga hal lainnya. Kebiasaan ini secara diam-diam menjadikannya sebuah tradisi yang berkembang di masyarakat. Jika tidak dilakukan, maka pandangan menghakimi dan opini buruk adalah hal yang akan diterima.
Alasan negatif seperti itu menghasilkan tindakan implusif yang kemudian dilakukan untuk memenuhi standar sosial yang dibentuk, seperti peminjaman online. Selain itu, rasa malu dan tidak percaya diri akan muncul dan berkembang dalam pikiran yang berujung penarikan diri dari sosial.
Lantas, apakah kebiasaan ini sebenarnya merujuk pada hal positif atau negatif? Semua bergantung kepada batasan yang bisa kita ciptakan. Melakukan pembelian untuk persiapan Lebaran bukanlah sebuah tindakan buruk yang wajib dihindari, karena setiap orang pasti ingin menunjukkan versi terbaik dari dirinya. Terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam, sebab telah banyak orang yang menantikan hari bahagia ini untuk memperlihatkan hasil kerja keras mereka.
Meski demikian, harus dipahami bahwa kebiasaan ini bukanlah suatu keharusan yang dilakukan semua orang. Menggantikan sesuatu yang lama dalam kondisi yang baik dengan hal baru tidaklah tindakan yang dilabeli dengan kata “kewajiban”. Jika kamu masih memiliki barang lama yang bagus, maka kamu masih bisa untuk tetap mempertahankannya. Mengikuti standar sosial yang ada merupakan pilihan dalam hidup.
Kalau kamu memiliki kondisi keuangan yang baik dan ingin melakukan pembelian terhadap berbagai barang, seperti baju Lebaran yang seragam, kue Lebaran, atau hal lainnya, maka kamu bisa melakukannya. Adapun yang menjadi batasan yang harus diketahui oleh setiap orang dalam mengikuti kebiasaan ini, yakni pada kondisi keuangan. Intinya, pembelian massal diperbolehkan selama kondisi keuangan mencukupi. Namun, jika keadaan berbalik, maka berpikir dua kali adalah tindakan yang harus dilakukan.
Mungkin sedikit tips bisa membantu kamu dalam menentukan pilihan di bulan Ramadan ini. Pertama, cek kondisi keuangan kamu, apakah kamu masih memiliki uang lebih untuk melakukan pembelian. Kedua, jika uang kamu pas-pasan, maka tentukan skala prioritas terlebih dahulu. Barang apa yang sebaiknya dibeli di posisi pertama dan barang apa yang tidak wajib dibeli. Ketiga, kalau bukan barang penting dan kamu masih memiliki barang lama dengan kondisi yang bagus, sebaiknya simpan uang kamu untuk hal penting lainnya.
Ingat, pembelian dalam jumlah banyak yang kerap dilakukan banyak orang menjelang Lebaran adalah pilihan. Memutuskan ingin mengikuti standar sosial seperti apa adalah keputusan dalam hidup kita. Dalam menjalani kehidupan, prioritaskan kebutuhan penting terlebih dahulu, bukan kebutuhan sosial.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

