Hits: 18

Nadila Tasya Tanjung

Pada beberapa akhir tahun yang lalu, ada seorang anak perempuan miskin yang hidup dengan menjual jasa semir sepatu dari pintu ke pintu. Setelah cukup lama berkeliling menjajakan jasanya yang belum juga laku sama sekali, ia pun mulai kelelahan dan baru menyadari bahwa di kantongnya hanya tersisa uang beberapa rupiah saja, sementara kala itu dia lapar sekali dan sangat kehausan.

Anak kecil manis tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi, anak kecil itu kehilangan keberanian ketika seorang pemuda tampan membukakan pintu rumah. Bocah itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air putih saja.

Pemuda tersebut memperhatikannya dengan penuh selidik. Setelah melihat betapa pucatnya wajah anak itu, ia pun berpikir bahwa anak perempuan tersebut pastilah sangat lapar dan haus. Oleh karena itu, ia segera masuk dan kembali dengan membawakan segelas besar susu segar dari dalam lemari esnya.

Untuk beberapa saat anak kecil itu tertegun dan heran, tetapi kemudian ia segera meminum segelas susu tersebut dengan pelan-pelan, seraya ditatap dengan penuh iba hati oleh sang pemuda. Tak lama kemudian, anak kecil itu bertanya dengan polos, “Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini?”

Pemuda itu menjawab dengan tersenyum, seraya berkata,

“Kamu tidak perlu membayar apapun, Dik. Semenjak kami masih kecil, ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran atas segala bentuk kebaikan,” kata lelaki itu dengan suara yang bijak dan terdengar ikhlas.

Dengan menitikkan air mata, bocah perempuan itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata dalam hati,

“Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berterima kasih banyak kepada Anda. Semoga Tuhan membalas ketulusan dan kebaikan Anda.”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tidak terasa, 20 tahun kemudian, pemuda tersebut menjadi tua dan mulai sering sakit-sakitan. Hingga suatu ketika, ia mengalami sakit yang serius dan keadaannya sangat kritis. Para dokter di seluruh kota besar di Sumatera Barat sudah tidak ada yang sanggup menangani penyakitnya.

Oleh keluarganya, ia akhirnya dikirim untuk berobat ke Kota Jakarta, tepatnya di sebuah rumah sakit terkenal di mana terdapat seorang dokter spesialis yang masih muda tetapi sangat ahli dan cukup ternama. Dokter spesialis itu diharapkan akan mampu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih dalam dan dapat menangani penyakit langka tersebut.

Pada saat dokter spesialis itu mendengar nama dan kota asal si pria dari perawatnya, terbesit sekilas pancaran aneh pada mata dokter tersebut. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui lorong rumah sakit, kemudian menuju ke kamar di mana si pasien pria dirawat.

Dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa keingintahuan yang sangat tinggi, dokter muda tersebut segera menemui pasien pria itu. Sejenak ia tertegun, tetapi kemudian ia langsung mengenali pria itu hanya dalam sekali pandangan. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi tim dokter dan memutuskan untuk melakukan upaya paling terbaik untuk menyelamatkan nyawa pria itu. Sejak hari itu, ia selalu memberikan perhatian yang istimewa dan khusus pada kasus penyakit pasien pria tua yang satu itu.

Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, akhirnya diperoleh juga sebuah kemenangan dan keajaiban. Pria tua itu sembuh!

Segera dokter ini meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan dan rekapitulasi pengobatannya. Tidak lama berselang, dokter tersebut melihat tagihannya dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, kemudian mengirimkannya ke kamar pasien lewat salah satu perawatnya.

Sejenak lelaki tua itu merasa takut untuk membaca tagihan tersebut. Di benaknya ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihannya, walaupun harus dicicil seumur hidupnya, karena ia sadar ia hanya tinggal sebatang kara di dunia ini. Sekarang, ia tidak menikah, tidak memiliki kerabat, dan orang tuanya sudah meninggal dunia.

Akhirnya dengan diawali basmalah, ia pun memberanikan diri untuk membuka dan membaca tagihan tersebut. Ia sangat terkejut begitu mengetahui, bahwa ternyata semua tagihan untuknya selama dua bulan perawatan dirinya di rumah sakit sudah dibayar lunas. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan tebal yang dicap stemple rumah sakit dan berbunyi…, “Telah dibayar lunas 22 tahun yang lalu dengan segelas besar susu.” Tertanda (nama dokter spesialis yang merawatnya).

Pria tua itu sungguh tidak bisa memercayai peristiwa ini, spontan ia pun menangis bersimbah air mata kebahagiaan yang membajiri matanya. Ia berdoa lirih seraya mengucapkan,

Subhanallah…, terima kasih ya Allah, bahwa cinta dan kasih sayang-Mu telah menyirami seluruh bumi ini melalui hati dan tangan-tangan hamba-Mu yang kau kehendaki.”

Demikianlah, setiap kebaikan yang dilakukan dengan keikhlasan hati oleh seorang manusia kepada sesama manusia yang lainnya, yaitu makhluk ciptaan-Nya, kelak pasti akan dibayar dengan cara yang tidak pernah diduga-duga. Begitupun sebaliknya.

Leave a comment