Hits: 7

Tasya Hapsari

 

Pertama, kata yang sering terdengar sejak mengenal dunia

Pertama, posisi yang selalu ingin diraih untuk sekejap bahagia

Pertama, menjadi seorang anak dalam sebuah keluarga

Pertama, melakukan banyak hal yang tak sesuai cita-cita

 

Hati ini tak kuasa menahan gelisah diam-diam saat yang lain menyapa

Si rapuh akhirnya mengalah, berusaha membagi yang dia punya

Bagai berjalan dalam kabut, ia tak tahu bagaimana caranya

“Mereka harus memberi kasih itu dengan rata,” ungkap benaknya saat marah

 

Mengapa harus menjadi pilar, sumber bahagia, atau menjadi kebanggaan?

Tak bisakah hanya menjadi yang paling dicinta?

Beribu usaha ditampakkan, namun apa? Selalu teralihkan

Bahkan tak ada yang mendengar cerita luka dibalik menjadi juara

 

Mengapa marah pada benda berkilau yang patah?

Tak tahukah mereka? Bahkan bukan hanya lutut ini yang berdarah

Jauh di dalam hati, tersayat ribuan pisau dari yang terkasih

Tapi, merekalah yang menjauhkan dari mati

 

Diri ini sakit berjuta kali, telinga berdengung lirih

Tubuh ini harusnya tiada dari lama, tapi mata ini selalu bersedih

Kepala ini mengingat mengapa ia tercipta

Disitulah ia sadar bahwa tak ada manusia yang sempurna

 

Ia hanya berpikir apa yang tak diberikan padanya

Mereka berpikir apa lagi yang bisa diberikan untuk permatanya

Dewasa ini, rasanya tak berhak untuk selalu menyalakan api dalam dada

Kadang berkaca, “Apakah keluhku sebanding dengan susah mereka?”

 

Hasrat dari lubuk hati hanya ingin mereka semua bahagia

Saat itulah, mungkin rasa sayang ini akan menyembuhkan seluruhnya

Perihal banyak angan yang tak sampai pun akan terasa nyata

Itulah mengapa terkait mereka, matanya selalu berkaca-kaca

Leave a comment