Hits: 47

Rizha Ananda

Pijar, Medan. Setiap daerah tentu memiliki makanan khas yang menjadi menu untuk berbuka puasa di bulan Ramadan ini. Kota Medan merupakan salah satu daerah yang memiliki menu legendaris untuk dinikmati saat berbuka puasa, yaitu bubur sup melayu khas Masjid Raya Al-Mashun.

Meski disebut dengan nama bubur sup, tetapi masyarakat Kota Medan lebih mengenalnya sebagai bubur pedas. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena dahulu sebelum adanya bubur sup, Masjid Raya Medan memang menyajikan bubur pedas. Namun, tahun 1960 bubur pedas pun berganti menjadi bubur sup sebagai takjil khas Masjid Raya Medan.

Tentunya ada cerita dan sejarah menarik di balik makanan bubur sup khas Masjid Raya Medan ini. Takjil ini disebut legendaris karena sudah ada sejak masa Kesultanan Kerajaan Melayu tahun 1909, tepatnya sejak Masjid Raya Al-Mashun didirikan.

Awalnya bubur ini merupakan menu berbuka puasa dari keluarga Sultan Deli, yang pada saat itu dipimpin oleh Tuanku Sultan Makmum Al-Rasyid Perkasa Alam Syah. Lalu, agar rakyatnya juga dapat menikmati bubur sup tersebut maka setiap harinya pada bulan Ramadan, dibagikanlah takjil itu secara gratis di Masjid Raya Medan dan menjadi tradisi hingga saat ini.

Hamdan, selaku pengurus Masjid Raya Medan, menuturkan tradisi ini sudah dilakukan sedari dulu. Namun, tahun 2020 tepatnya disaat Covid-19 sedang marak, dengan imbauan dari pemerintah tradisi ini pun harus ditiadakan hingga pandemi selesai. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan agar dapat mengurangi penyebaran Covid-19.

“Biasanya, bubur sup ini dimasak sebanyak 1.000 porsi perharinya. Dibagi-bagikannya juga dari sebelum asar sampai menjelang buka puasa. Jadi, tidak hanya orang yang berbuka puasa di masjid aja yang dapat, tapi semua yang datang ke Masjid Raya juga akan kebagian. Nah, melihat kondisi yang tidak memungkinkan, sudah tiga tahun juga tradisi bagi-bagi bubur sup ini ditiadakan,” ucap Hamdan saat ditemui di Masjid Raya Medan.

Sepi, tradisi bagi bagi bubur sup kembali ditiadakan tahun ini. (Fotografer: Rizha Ananda)

Bubur sup ini dimasak langsung oleh para pengurus Masjid Raya Medan, tepatnya di halaman masjid. Meski dimasak 1.000 porsi perharinya, ternyata bubur sup ini hanya dimasak oleh empat orang pengurus masjid saja.

Hamdan juga mengatakan bahwa bubur sup ini, memiliki perbedaan dengan bubur sup lainnya. Perbedaan itu terletak dari bahan yang digunakan untuk memasak. Bubur sup ini dibuat dengan 40 jenis rempah dan daun-daunan yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Jadi, tak hanya rasanya saja yang lezat, tetapi khasiat pada bubur sup ini pun juga sangat baik untuk kesehatan.

Sayangnya, pandemi ini mengharuskan Masjid Raya Medan untuk meniadakan tradisi bagi-bagi bubur sup tersebut. Namun, tidak perlu khawatir, karena bubur sup sudah menjadi takjil khas Kota Medan sehingga keberadaannya tidak sulit untuk ditemukan. Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu, agar tradisi bagi-bagi bubur sup di Masjid Raya Medan dapat dilaksanakan lagi dan kembali dinikmati oleh masyarakat Kota Medan.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment