Hits: 58

Marcheline Darmawan / Jenni Sihombing

Pijar, Medan. Bulan Desember menjadi bulan spesial yang dinantikan setiap tahun di seluruh belahan dunia. Rumah, restoran, toko swalayan, hingga jalanan dihiasi replika pohon pinus, lampu-lampu, serta ornamen-ornamen yang identik dengan warna merah, hijau, dan emas. Semua ini adalah persiapan yang dilakukan guna menyambut hari Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember setiap tahunnya.

Kata “natal” yang digunakan berasal dari bahasa Latin “dies natalis” yang berarti “hari kelahiran”. Sesuai dengan artinya, hari Natal dirayakan untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Penetapan hari kelahiran Yesus menimbulkan cukup banyak perdebatan karena dalam Alkitab sendiri tidak pernah disebutkan tanggal kelahiran Yesus. Hingga pada akhirnya, muncul pernyataan oleh Sextus Julius Africanus pada tahun 211 yang memercayai bahwa tanggal lahir Yesus jatuh pada 25 Desember. Kemudian, pernyataan itu diakui oleh Paus Julius I. Namun, tidak semua orang mengikuti pernyataan universal ini, seperti kaum Kristen Ortodoks di Rusia yang merayakannya pada 7 Januari.

Puncak perayaan terjadi saat malam Natal. Pada malam itu, orang-orang berkumpul bersama, ada yang makan malam dengan keluarga, ada juga yang beribadah bersama di gereja. Rasa sukacita juga dapat dirasakan dari tradisi tukar kado yang melambangkan saling berbagi kasih kepada sesama manusia.

Jika kita menyebut kado dan Natal, akan terbayang sebuah sosok yang identik dengan janggut putih yang membawa karung mainan. Sinterklas, tokoh dongeng itu digambarkan sebagai seorang kakek yang menaiki kereta salju dan pergi mengunjungi rumah-rumah melalui cerobong asap untuk membagikan hadiah kepada anak-anak yang baik.

Kisah ini terinspirasi dari seorang biarawan bernama St. Nicholas. Dikatakan bahwa ia memberikan seluruh harta warisannya dan menjelajahi pedesaan untuk menolong orang yang sakit dan miskin. Kini, cerita kedatangan kakek berbaju merah yang baik hati itu selalu dinanti oleh para anak-anak.

Dua tahun bersama pandemi tanpa acara Natal yang meriah, menjadi kerinduan tersendiri bagi setiap orang yang merayakannya. Kini, masyarakat mulai dapat merayakan Natal kembali bersama keluarga dan teman-teman lainnya.

Berbagai usaha pun dilakukan agar semua orang dapat hadir bersama merayakan kelahiran Yesus Kristus, salah satunya dengan melaksanakan perayaan ini secara hybrid untuk meminimalkan jumlah orang yang berkumpul sehingga kondisi tetap dapat terkontrol.

Namun, di tengah semua kondisi ini kita tetap dapat merayakan Natal bersama dalam damai dan sukacita. Merry Christmas!

(Redaktur Tulisan: Rassya Priyandira)

Leave a comment