Hits: 26
Rizha Ananda
Kata orang, hari Minggu adalah hari yang tepat untuk mendinginkan kepala dan otak yang sudah bekerja keras enam hari lamanya. Namun, tak pernah lagi ku rasakan satu kali pun arti yang dimiliki oleh hari tersebut. Tak heran, aku sudah semester lima, apa yang kuharap? Bahkan diri ini akan sangat merasa menyesal, jika tak berada di depan layar laptop dan mengerjakan sesuatu untuk mengejar deadline yang tak perlu ku jelaskan lagi tingkat stresnya, sungguh Mingguku sudah bagaikan kerja rodi saja. Hampir tak ada Minggu yang tak memberikan kesan yang melelahkan. Pekerjaan organisasi dan tugas kuliah terus berdatangan menjerit untuk dikerjakan dan aku tak bisa menolaknya.
Di tengah fokusku dalam mengerjakan tugas mingguan, tak sengaja ku menemukan secarik kertas yang berisikan coretan cerita abstrak di laci mejaku. Duduk mematung, aku termenung lalu menyimpulkan satu garis senyuman kecil di bibir. Muncullah sosok jiwa yang berteriak seakan berkata, “Aku ini siapa?” Otak turut membalas, aku adalah seorang penulis amatir yang semangat menulisnya sedang surut. Namun, sudah ku tuliskan beberapa kisah yang berujung untuk ku nikmati sendiri. Lama larut dalam nostalgia yang dihembuskan oleh kertas usang, aku tersadar bahwa sosok itu telah pergi sudah lama sekali.
Kertas itu menyadarkanku, bahwa setiap minggu yang ku jalani saat ini sudah berbeda dengan minggu-mingguku beberapa tahun lalu. Tak ada lagi senyum yang mengembang akibat menulis cerita bebas tanpa beban, kini yang ada hanyalah satu papan obat sakit kepala yang sedia menemani di hari Mingguku .
Cukup menyakitkan setelah mengetahui bahwa sosok itu sudah pergi entah sejak kapan. Aku kembali mengenang diriku dahulu yang selalu menyiksa tokoh dalam kisah yang kubuat. Bukan menyiksa secara fisik, melainkan menyiksa mereka dengan perasaan. Sangat menyenangkan membuat mereka jatuh cinta dengan tokoh lain lalu membuat mereka menangis karena insiden-insiden. Juga menyiksa mereka dengan perasaan rindu karena terpisah oleh jarak.
Kurasa karmaku sudah tiba, penderitaan yang dialami oleh tokoh dalam cerita yang ku tuliskan setiap hari Minggu, kini telah beralih padaku tepat di setiap hari Minggu juga. Memang terdengar konyol, tapi cukup masuk akal. Aku masih belum bisa menuliskan kisah lain. Semangatku telah hilang, ideku telah buntu, hatiku tak merasa apa-apa lagi. Sungguh, kemanakah perginya Sang Pengarang itu?
Aku terus bertanya pada diri ini, meski aku mengetahui bahwa tak ada jawaban yang pasti atas pertanyaanku. Sang Pengarang itu memang sudah pergi, dan mungkin tak akan kembali lagi, hal ini menandakan bahwa impian yang sudah ku dambakan sejak kecil harus pergi begitu saja. Aku tak mungkin menjadi penulis jika aku tak suka menulis lagi, dan aku tak mungkin menjadi penulis jika aku tak gemar membaca lagi.
Langsung ku simpan kembali kertas yang telah ku pegang erat, aku tak punya waktu untuk bersedih dan merenungi masa lalu yang hanya akan membuang-buang waktuku. Aku sudah cukup dewasa untuk memahami jika tak semua manusia dapat menjalani hidup sesuai seperti apa yang mereka inginkan. Tetapi aku yakin, apa yang sudah direncanakan oleh Tuhan sudah pasti yang terbaik. Jadi… jalani saja.

