Anggi Yessika Situmorang / Dasmida

Pijar, Medan. Berbicara tentang kata “asrama”, mungkin kebanyakan orang akan memikirkan suatu tempat tinggal atau penginapan yang ditujukan kepada murid sekolah atau suatu kelompok yang sedang menempuh dunia pendidikan. Tetapi asrama yang dibayangkan tersebut nyatanya sangat jauh berbeda dengan asrama yang ada di dalam film Level 16 ini.

Film yang dirilis pada 1 maret 2019 ini memiliki genre yang menggabungkan antara fiksi ilmiah dan thriller. Drama ini telah memikat perhatian banyak masyarakat karena alur ceritanya yang menarik. Ditulis dan disutradarai oleh Danishka Esterhazy, Level 16 mengisahkan tentang sekelompok gadis yang tinggal di sekolah asrama dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, jauh dari paparan sinar matahari, dan memiliki banyak peraturan layaknya penjara bawah tanah.

Para gadis ini merupakan anak-anak yang berasal dari jalanan, lalu diambil dan disekolahkan. Sejak kecil, gadis-gadis ini terjebak dalam asrama “The Vestalis Academy” yang dijalankan oleh Dokter Miro (Peter Outerbridge) dan Nona Brixel (Sara Canning). Mereka dijanjikan akan diadopsi oleh keluarga baru yang kaya raya ketika mereka sudah berhasil sampai ke level akhir, yaitu level 16.

Aturan yang ditetapakan sekolah sangat ketat, mereka tidak diperbolehkan keluar asrama dan harus menjaga sopan santun. Mereka diwajibkan meminum vitamin khusus setiap hari untuk menjaga kulit tetap bersih dan sehat. Mereka didoktrin bahwa sinar matahari dan udara luar sangat berbahaya agar mereka tidak melarikan diri. Apabila terjadi kesalahan dan ketidakpatuhan, mereka akan mendapatkan hukuman dan ancaman tidak mendapatkan adopsi.

Bermula dari seorang siswi yang bernama Vivien (Katie Douglas) yang menjaga dirinya sendiri dan tidak mempercayai siapa pun karena pengalaman kelamnya dikhianati seorang teman yang bernama Sophia (Celina Martin), sewaktu berada di level 10. Ketika sudah mencapai level akhir, ternyata ia dipertemukan kembali dengan Sophia yang sekaligus berada di kamar yang sama. Hingga tiba waktunya di mana ia mencoba mengikuti saran Sophia untuk tidak meminum vitamin harian.

Ketika Vivien sadar akan kenyataan mereka, kedua teman lama itu mulai menyelidiki tujuan sebenarnya dari sekolah tersebut. Kecurigaan mereka semakin besar ketika melihat sebuah mayat yang bernama Rita (Amalia Williamson) yang sudah diadopsi terlebih dahulu. Lalu apakah usaha mereka untuk keluar dan mengungkapkan kebenaran yang mengerikan di balik asrama itu akan berhasil?

Film ini relevan dengan keadaan sekarang karena penyajiannya yang mengaitkan eksploitasi dengan obsesi masyarakat yang haus akan kemudaan, umur panjang, dan kecantikan yang tak menua. Film ini menampakkan betapa serakahnya manusia dengan melakukan hal yang di luar nalar pikiran manusia demi mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Walaupun bergenre thriller, nyatanya film ini dikemas dengan ringan tetapi masih memiliki alur yang tidak mudah ditebak dan cocok untuk dinikmati oleh semua kalangan.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment