Nadila Tasya Tanjung

Namaku adalah Aisyah. Aku dilahirkan di sebuah dusun di daerah perbukitan yang sangat terpencil. Kedua orang tuaku hanyalah petani miskin yang menggantungkan hidupnya dari menggarap sepetak tanah di lahan perbukitan yang kering dan tandus, jauh dari sumber air. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kuning, punggung mereka kering terbakar sinar matahari.

Aku mempunyai seorang adik laki-laki, Sarifudin, usianya tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, karena ingin memiliki kerudung model terbaru yang mana saat itu hampir semua gadis di desaku memakainya, aku mencuri uang dari lemari ayahku. Beberapa hari kemudian Ayah menyadari telah kehilangaan sejumlah uang. Beliau memaksa aku dan Udin berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya, ia mulai bertanya dengan marah.

“Siapa yang mencuri uang itu?!”

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau membentak dengan kesal,

“Baiklah, kalau begitu kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, Udin mencengkram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Maka tongkat panjang itu pun menghantam punggung Udin bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus memcambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi.

“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, Ibu dan aku memeluk Udin dan mengobati punggungnya yang penuh dengan luka, Udin tidak menitikkan air mata setetes pun. Malam itu, aku tak tahan melihat keadaan Udin dan mulai menangis sejadinya. Udin menutup mulutku dengan tangan kecilnya.

“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengakui perbuatanku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi peristiwa tersebut masih terasa seperti baru kemarin terjadi. Aku tidak akan pernah lupa wajah Udin ketika ia melindungi. Waktu itu kami masih sangat belia, Udin berusia 8 tahun dan aku 11 tahun.

Pada tahun terakhirnya di SMP, Udin lulus ujian dengan baik dan kemudian berhasil masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, dengan ditemani Ibu, Ayah duduk merenung di serambi rumah, menghisap batang demi batang rokok bakaunya. Aku mendengarnya berbicara dengan ibu, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, sangat baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus.” Saat itu juga Udin berjalan keluar kehadapan Ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya, menampar Udin pada wajahnya dan menghardiknya, “Mengapa kamu mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika Ayah mesti mengemis di jalanan, Ayah akan lakukan itu supaya tetap bisa menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”

Aku menghampiri Udin, memeluknya, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku sebaliknya telah memutuskan untuk tidak akan meneruskan pendidikanku ke universitas. Tak disangka-sangka keesokan harinya, sebelum subuh tiba, Udin meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku.

“Kak, masuklah ke universitas walaupun tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan akan mengirim uang untuk biaya pendidikanmu di sana”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis terharu. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang Udin hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, aku sedang belajar di kamar ketika teman sekamarku masuk dan berkata, “ Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” “Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?” Aku berjalan keluar, dan melihat Udin dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku pun bergegas menghampirinya.

“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?”

Dia tersenyum lalu menjawab, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata mememuhi wajahku.

“Aku tidak peduli omongan siapapun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu…” Dari sakunya, Udin mengeluarkan sebuah syal berwarna kuning pastel. Ia memakainnya ke leherku.

“Aku melihat semua gadis di kota memakainya. Jadi, aku pikir kamu juga harus memiliki satu, Kak.” Aku tidak dapat menahan rasa haru lebih lama lagi. Aku menarik Udin ke dalam pelukanku dan menangis.

Beberapa tahun pun berlalu. Aku telah menikah dengan kekasihku, aku tinggal di kota. Aku dan suamiku berkali-kali mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.

“Sekali meninggalkan dusun, kami tidak akan tahu harus mengerjakan apa,” ucap mereka.

Udin juga tidak bersedia meninggalkan dusun. Ia menyuruhku untuk fokus saja menjaga mertuaku dan ia akan menjaga Ayah dan Ibu dengan baik.

Suamiku menjadi direktur di pabrik tempatnya bekerja. Kami menginginkan Udin mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan, tetapi Udin menolaknya dan lebih memilih menjadi pekerja reparasi. Suatu hari Udin sedang bekerja sedang bekerja memperbaiki instalasi listrik di sebuah rumah, tanpa disadarinya ia menyentuh sebuah kabel yang terkelupas selubungnya, seketika ia pun mendapatkan sengatan listrik dan segera dilarikan ke rumah sakit.

Aku melihat gips putih membalut kakinya, dan aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat dirimu sekarang terluka. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Namun Udin dengan teguh membela keputusannya, “Pikirkan suamimu, Kak. Ia baru saja diangkat menjadi direktur, dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menyebar di lingkungan perusahaan?” Aku menanggapinya dengan setengah mengeluh.

Waktu pun berlalu. Di usianya yang ke 30 tahun, Udin menikahi seorang gadis petani dari dusun tetangga. Pada saat resepsi pernikahannya, sang pembawa acara bertanya kepada Udin, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Udin menjawab spontan, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika aku masih sekolah di SD yang terletak di dusun yang cukup jauh dari rumah, setiap hari aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan akan selalu baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Bibirku kelu dan dengan susah payah aku berkata, “Di dalam hidupku, orang yang paling aku sayangi adalah adikku.”

Leave a comment