Hits: 10

Tiara Al Medina

Cukup. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan Rin, gadis berusia 18 tahun yang kini sedang mengenyam pendidikan sarjananya di semester kedua.

Rin selalu menganggap dirinya cukup, cukup dalam artian tak kurang, tapi juga tak lebih. Mulai dari segi fisik, kepintaran, hubungan pertemanan, percintaan, hingga finansial.

Wajah dan penampilan Rin memang tak semenarik gadis-gadis seusianya yang menjadi primadona kampus. Namun, parasnya itu setidaknya cukup membuat Rin merasa nyaman untuk tampil percaya diri.

Dari segi kepintaran, bisa dibilang Rin adalah anak yang cukup pintar. Sedari sekolah hingga kuliah, Rin sering mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan. Akan tetapi, untuk mendapatkan nilai yang memuaskan tersebut, perjuangan yang harus dilakukan Rin sangatlah besar. Rin harus mengerahkan usaha ekstra untuk mengulang dan mempelajari materi yang belum ia pahami sampai ia benar-benar mengerti. Itu karena Rin tahu kalau dirinya tidak diberkati dengan kemampuan memahami pelajaran hanya dengan sekali mendengarkan penjelasan dari dosen saja.

Untuk soal pertemanan, Rin bukanlah tipe orang yang mudah berbaur dan mempunyai banyak teman di mana-mana. Jumlah teman yang ia miliki bahkan bisa dihitung dengan jari. Namun, bukan berarti Rin adalah seorang anti sosial yang tidak mau bergaul. Hanya saja, Rin merasa kalau teman yang dimilikinya saat ini sudah cukup untuk membuat ia merasa senang dan tidak kesepian.

Untuk soal asmara, hingga saat ini Rin belum pernah mempunyai pacar. Bukan karena Rin tidak mau, melainkan memang sepertinya penampilan Rin kurang menarik di mata laki-laki. Namun, juga bukan berarti tak ada satu pun laki-laki yang menyukainya, melainkan memang jumlahnya tidak banyak.

But hei, siapa peduli? Rin sendiri tak pernah mempermasalahkan hal itu. Bagi Rin, laki-laki bukanlah prioritas dalam hidupnya. Yah, meskipun ketika Rin melihat pasangan muda yang sedang asyik bercengkrama di restoran ataupun mal, sering kali terbesit dalam benaknya, “Seru banget deh punya pacar, giliran aku kapan ya?”

Rin juga bukan berasal dari keluarga tajir melintir yang bisa membeli ini itu tanpa harus memikirkan harga. Tak jarang pula keluarga Rin mengalami kesulitan finansial. Namun, setidaknya penghasilan orang tuanya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

Terlebih lagi, Rin bukanlah orang yang selalu diselimuti oleh keberuntungan dalam hidupnya. Jika Rin menginginkan sesuatu, ia harus berusaha mati-matian untuk mewujudkannya.

Rin menganggap kalau hidupnya sangatlah membosankan. Tak ada sesuatu yang begitu spesial yang bisa ia banggakan dan menjadi ciri khas dari dirinya. Jika Rin hilang dalam sebuah kerumunan, mungkin akan sangat sulit untuk menemukannya saking tidak adanya ciri spesifik yang bisa membedakan dirinya dengan orang lain. Semua yang ada dalam diri Rin porsinya itu selalu cukup, cukup, dan cukup.

Kecukupan yang ia miliki ini membuat Rin merasa kalau dirinya tidak berhak untuk mengeluh sebab ia tahu kalau di luar sana masih banyak orang yang hidupnya jauh dari kata cukup. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa terkadang dirinya juga benci menjadi orang yang hanya sebatas cukup saja.

Sesekali Rin juga ingin menjadi sesuatu yang lebih dari cukup. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya dikenal oleh banyak orang karena memiliki suatu kelebihan yang menonjol dibandingkan dengan orang lain. Karena sepanjang hidupnya Rin merasa kalau dirinya hanya menjadi pemeran sampingan baik dalam kisah hidupnya maupun orang lain.

Namun, apa yang ia inginkan itu sangat berbanding terbalik ketika ia berhadapan dengan ayahnya. Dengan menjadi anak satu-satunya, ayahnya membuat seluruh harapan dan ekspektasi memenuhi diri Rin. Tuntutan harus menjadi ini dan harus menjadi itu, harus melakukan ini dan harus melakukan itu, telah memenuhi pemikiran Rin sedari ia kecil.

Hari-hari Rin pun selalu diisi oleh ocehan ayahnya yang sering kali membandingkan dirinya dengan anak lain yang sudah sukses di usia mereka yang masih belia. Tak jarang pula ayah Rin mencemoohnya ketika ia gagal mendapatkan nilai yang bagus. Akan tetapi, saat Rin berhasil mendapatkan nilai yang bagus, ayahnya enggan memberikan apresiasi terhadap hasil kerja kerasnya.

Kalimat-kalimat seperti “Masa kamu gitu aja gak bisa?” “Kamu kok cuma dapat nilai segitu? Kamu kan udah belajar setiap hari” “Lihat nih anaknya temen Ayah, dia udah bisa ngasilin uang sendiri padahal umurnya itu sama kayak kamu”, sudah menjadi santapan sehari-hari Rin.

Saking seringnya ia mendengar kalimat-kalimat tersebut, Rin pun sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menanggapi perkataan ayahnya itu. Biasanya Rin hanya terdiam memendam emosinya sampai semuanya berlalu begitu saja.

Malam itu, seperti biasa Rin tampak sedang sibuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliahnya karena sebentar lagi ujian akhir semester akan segera dimulai. Di tengah kesibukannya itu, tiba-tiba Rin mendengar suara ketukan pintu kamarnya.

Sebenarnya Rin sudah berfirasat buruk setelah mendengar ketukan pintu itu. Akan tetapi, ia tetap berusaha untuk bersikap normal.

“Iya, masak,” jawab Rin sambil menghela napas karena sebenarnya ia sudah tahu siapa orang itu dan apa tujuannya datang ke kamar Rin.

Kemudian, muncullah sosok pria berbadan tinggi yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Rin.

“Kamu lagi ngapain?” tanya ayah Rin.

“Lagi belajar,” jawab Rin singkat.

Lalu Rin pun berusaha menyibukkan dirinya berharap ayahnya sadar kalau dia sedang tidak punya waktu untuk bercekcok dengannya. Namun, hal itu kelihatannya sama sekali tidak digubris oleh ayah Rin.

“Rin, kamu itu ikutan testing CPNS-lah. Lihat nih anaknya temen ayah, dia lulus seleksi CPNS jalur tamatan SMA. Sekarang dia udah kerja jadi sipir penjara dan gajinya juga lumayan,” celetuk ayah Rin.

“Terus kalau kamu jadi PNS hidup kamu itu bakalan terjamin, apalagi kamu itu anak perempuan. Sekarang tuh banyak banget lulusan sarjana yang jadi pengangguran,” tambah ayah Rin.

Belum lagi Rin sempat merespons ucapan ayahnya itu, ayah Rin langsung melanjutkan perkataannya.

“Lagian kamu ngapain sih kuliah ngambil jurusan sastra? Kan udah Ayah bilang dari dulu prospek kerjanya itu ga jelas, tapi kamu tetap aja ngeyel. Kamu mau jadi apa nanti hah?! Pengangguran? Mending kamu berhenti kuliah terus nanti ikut tes CPNS,” ucap ayah Rin.

Setelah mendengar serangan kalimat tajam yang menghunjam dirinya itu, suasana pun menjadi hening sesaat.

Rin berusaha menahan emosinya seperti biasa. Namun entah kenapa, hari itu rasanya kesabaran Rin sudah berada pada batasnya. Apalagi setelah ia mendengar ayahnya menghina jurusan kuliahnya. Rasanya Rin sudah tak kuasa menahan amarah dan rasa perih yang berkecamuk di dadanya.

“Ayah bisa gak sih sekali aja ngomong sesuatu yang baik sama aku? Setiap hari kerjaan ayah itu selalu aja menghina dan ngebandingin aku sama orang lain,” teriak Rin memecah keheningan.

“Aku mati-matian belajar supaya dapat nilai bagus itu untuk siapa? Ya untuk Ayah juga! Supaya ayah bisa bangga sama aku! Tapi Ayah sama sekali gak pernah menghargai aku!” seru Rin dengan nada bergetar menahan air mata.

“Aku tahu aku gak sepintar dan sesukses anak-anak lain, tapi aku pengen Ayah tahu kalau aku itu selalu berusaha untuk jadi yang terbaik! Selalu!” teriak Rin meneteskan air mata.

“Apa sih susahnya mendukung apa yang jadi pilihan aku? Aku juga gak pernah minta yang macam-macam sama Ayah. Aku cuma pengen jadi cukup di mata Ayah! Tapi kayaknya semua usaha yang aku lakuin itu gak pernah cukup buat ayah!” isak Rin.

Malam itu adalah kali pertama Rin meluapkan segala emosi yang selama ini telah lelah ia pendam sendirian.

Tak lama kemudian ibu Rin pun datang untuk melerai pertengkaran mereka.

“Udah udah, kalian berdua berhenti!” perintah ibu Rin.

“Kamu lagi Mas, kamu ini gak ada capek-capeknya ya nyuruh Rin begini nyuruh Rin begitu. Dia itu juga manusia yang punya perasaan. Seharusnya kamu bisa lebih menghargai usaha anak kamu yang udah berhasil bertahan sampai sejauh ini, bukannya malah membandingi dia sama anak lain,” ujar ibu Rin menasihati suaminya itu.

“Loh kamu kok jadi nyalahin aku sih?” jawab ayah Rin ketus.

“Yah jadi siapa lagi?! Kita ini orang tua Rin, kita pasti ingin yang terbaik buat anak kita. Tapi kita harus ingat kalau Rin itu juga punya hak buat nentuin apa yang menjadi pilihan hidup dia,” jelas ibu Rin.

“Pokoknya aku gak setuju kalau Rin berhenti kuliah. Dia itu anak kita satu-satunya. Aku mau dia kuliah sampai jadi sarjana di jurusan yang dia mau!” ujar ibu Rin dengan nada tegas.

“Setiap orang itu punya waktu yang beda-beda buat jadi sukses, jadi gak ada yang perlu dibandingin. Kita cuma perlu percaya sama Rin dan berdoa sama Yang Maha Kuasa, karena aku yakin Rin itu selalu berusaha jadi yang terbaik untuk kita,” tambah ibu Rin.

Tak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya ayah Rin pun memutuskan untuk pergi meninggalkan istrinya dan Rin yang masih sesenggukan di kamarnya.

Setelah itu ibu Rin pun berusaha untuk menenangkan anak semata wayangnya itu.

“Maafin aku ya Mah… gara-gara aku Mama sama Ayah jadi ikut bertengkar. Maafin aku juga karena aku itu pecundang yang bisanya cuma nangis,” ucap Rin dengan nada terbata-bata.

“Sst… jangan minta maaf karena menangis, Rin. Mama justru senang kamu mau mengeluarkan emosi yang udah lama kamu pendam sendirian ini,” ucap Ibu Rin sambil memeluk anaknya itu.

“Aku benci menjadi cukup, namun kali ini aku hanya ingin menjadi cukup di mata Ayah,” batin Rin sambil mengusap air matanya.

Leave a comment