Intan Husnul Khatimah

Pijar, Medan. Terletak di ujung barat Indonesia, pesona Aceh tidak pernah padam dan tetap mencuri perhatian. Mulai dari wisata alamnya yang indah, budayanya yang unik dan kulinernya yang tak kalah sedap. Salah satunya adalah Timphan.

Timphan merupakan kue tradisional khas Aceh yang berbentuk pipih lonjong berbalut daun pisang muda. Ukurannya hampir sama dengan dua kali jari orang dewasa. Kue basah ini mempunyai tekstur yang lembek dan kenyal serta rasa yang manis. Berbahan utama tepung ketan dan pisang, timphan memiliki beberapa jenis yang dibedakan dari isiannya. Isi dalam timphan biasanya berisi kelapa campur gula ataupun selai srikaya.

Kue ini juga merupakan hidangan khas dan wajib di saat merayakan acara-acara istimewa juga saat Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Jika sudah mendekati hari lebaran, para ibu-ibu biasanya memetik daun pisang muda di kebun atau membelinya di pasar untuk jadi bahan pembalut timphan. Rasanya tidak lengkap jika tidak menyediakan penganan ini untuk dicicipi oleh sanak saudara maupun kerabat yang datang ke rumah ketika hari lebaran tiba. Kuliner ini terbilang jarang absen di rumah warga Aceh ketika lebaran.

Tidak ada orang Aceh yang tidak tahu timphan, hampir semua kalangan masyarakat Aceh menyukai kue ini. Begitulah kiranya untuk menggambarkan betapa primadonanya timphan di Aceh.

Bagi orang-orang Aceh di perantauan, kue ini menjadi pemantik rindu untuk mudik di kala hari lebaran. Keberadaan timphan dan keunikannya ini membuat para endatu (orang tua dulunya) menjadikannya dalam bentuk ungkapan yang berbunyi, “Uroe geut buluen geut, timphan ma peugoet beumeutemey rasa”. Yang artinya, “Hari baik bulan baik, timphan buatan ibu harus dapat ku rasa”.

Bahan utama berupa pisang pun bisa diganti dengan buah labu kuning yang rasanya juga tidak kalah sedap. Proses pembuatan timphan juga terbilang tidak terlalu sulit. Awalnya tepung ketan dan pisang dihaluskan dengan santan, bahan tersebut ditaruh di atas daun pisang muda yang telah diolesi minyak goreng, dan ditipiskan. Bagian tengahnya diisi dengan kelapa parut ataupun srikaya, lalu digulung hingga terbungkus daun pisang. Proses terakhir adalah, timphan dikukus sampai matang.

Tak jarang orang tua yang mempunyai anak di perantauan sering membekali atau mengirimkan makanan ini, karena timphan dapat tahan sampai empat hari, bahkan seminggu. Timphan juga bisa dibuat untuk camilan dan sangat mudah ditemukan di warung-warung kopi. Namun, dengan teknologi yang semakin berkembang, sekarang timphan dapat dinikmati dengan mudah karena sudah banyak yang menjual timphan secara online di berbagai media sosial maupun aplikasi belanja online. Sobat Pijar sudah merasakan kenikmatan timphan belum? Yuk coba, pasti akan teulom-teulom alias ketagihan dan rindu menyantapnya.

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment