Hits: 622

Septrian A. M. Tarigan

Pijar, Medan. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman mulai dari budaya, adat, kepercayaan, suku, dan sebagainya. Setiap daerah pasti memiliki ciri khas tertentu yang membedakan satu dengan lainnya terkhususnya dalam kebudayaan. Sobat Pijar pasti penasaran, gimana sih budaya di suatu daerah itu? Nah kali ini kita bakal membahas salah satu kebudayaan dari wilayah Sumatera Utara, yaitu Tanah Karo.

Tanah Karo, kabupaten yang identik dengan sapaan “Mejuah- juah” ini ialah salah satu tempat yang memiliki kebudayaan beragam mulai dari musik, pakaian, adat, bahasa, dan sebagainya. Kali ini kita akan membahas tentang kebudayaan di Tanah Karo terkhususnya dalam model pakaian adatnya. Ada hal yang unik dari pakaian adat masyarakat Karo. Pakaiannya tidak hanya meliputi baju, celana, atau sarung. Dalam masyarakat Karo, ada pakaian adat yang paling mencerminkan budayanya, yakni kain khas yang sering disebut dengan “Uis Karo”.

Kata uis merupakan bahasa Karo yang berarti kain. Setiap orang Karo terkhususnya yang sudah menikah pasti memiliki uis, karena uis ini sangat berharga dan sering digunakan pada acara- acara adat yang diselenggarakan. Setiap orang yang memakai uis dianggap “mehaga” atau berharga di mata masyarakat.

Uis Karo memiliki banyak jenis, contohnya uis beka buluh, uis jongkit, uis nipes, uis ragi barat, uis arinteneng, uis julu, uis kelam- kelam, dan yang lainnya. Setiap uis ini memiliki motif, warna, dan kegunaan masing- masing, contohnya uis beka buluh yang identik dengan warna merah terang digunakan dalam acara mengket rumah (peresmian rumah baru), kerja adat, dan lainnya. Uis beka buluh sering digunakan sebagai penutup kepala bagi pria, sering disebut dengan “bulang- bulang” juga digunakan di pundak disebut dengan “cengkok- cengkok”. Contoh lainnya yaitu uis arinteneng yang digunakan sebagai alas pinggan yang dipakai pada saat penyerahan mas kawin dan alas piring pengantin saat makan bersama dalam satu piring di malam setelah pesta adatnya.

Pada acara pesta adat kematian, uis disebut sebagai “maneh- maneh” yang dimaknai dengan media pembayaran utang adat kematian. Pembayaran utang adat kematian dimaksudkan sebagai pemberian kenangan bagi keluarga yang ditinggalkan dalam bentuk uis. Setiap anggota keluarga akan diberikan uis yang menjadi tanda bahwa keluarga yang ditinggalkan akan baik- baik saja ke depannya. Hal ini sudah menjadi tradisi turun- temurun. Pada pernikahan biasanya mempelai wanita dan pria yang menggunakan pakaian adat lengkap akan landek (menari) berdua. Dalam tarian Karo, ada bagian di mana pria akan memberikan uis-nya kepada wanita. Sebaliknya wanita juga akan memberikan uis-nya kepada pria. Pemberian uis dalam penikahan ini dimaknai sebagai simbol saling menghargai antara si pria dan wanita. Pemberian uis ini juga sebagai tanda kasih sayang antara mereka berdua.

Pemakaian uis pada setiap pesta sukacita maupun dukacita juga sangat penting. Pemakaiannya disesuaikan dengan tegun (bagian apa yang diambil) pada pesta tersebut. Misalnya pada pesta dukacita, tudung (kain yang digunakan di kepala wanita) yang dipakai oleh anak mendiang akan berbeda kainnya dengan tudung yang dipakai oleh keluarga lainnya. Selain itu, banyak masyarakat Karo yang memasukkan uis ke dalam peti mati sebagai tanda penghormatan kepada mendiang yang lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Pada masa kini, uis Karo tidak hanya dijadikan sebagai pelengkap pakaian bagi masyarakat. Banyak hasil kerajinan uis Karo yang kini diaplikasikan menjadi barang seperti tas, dompet, syal, masker, baju, gaun, dan masih banyak lagi. Tak jarang, banyak ditemui masyarakat yang menggunakan dompet atau tas murni dari uis Karo. Uis Karo terbilang cukup mahal, mengingat proses pembuatannya, bahannya, dan kesakralannya bagi  masyarakat Karo. Harga uis Karo berkisar antara Rp 300.000 sampai dengan Rp 1.000.000 tergantung jenisnya.

Uis Karo sebagai warisan budaya memang harus tetap dilestarikan. Keberadaan uis akan mengingatkan generasi selanjutnya tentang identitas suku Karo. Selain itu, uis Karo juga dapat menambah daya tarik Tanah Karo di mata wisatawan lokal dan mancanegara . Sobat Pijar yang berkunjung ke Karo jangan lupa untuk mengunjungi tempat tenun uis Karo ya!

Leave a comment