Shalli Anggia Putri

Medan, Pijar. Menjadi dokter merupakan profesi yang dianggap cukup bergengsi karena tingkat kesulitan yang tinggi dalam mendalami bidang ini. Dokter sendiri terbagi lagi dalam beberapa cabang bidang apabila menempuh pendidikan lebih lanjut seperti pendidikan kedokteran spesialis. Salah satu bidang kedokteran adalah patologi. Tau tidak apa itu patologi?

Patologi adalah ilmu kedokteran yang paling dasar untuk dipelajari terkait dengan penyakit dan bagaimana suatu penyakit terjadi. Ilmu patologi memiliki peran dalam membantu para dokter untuk mendiagnosis berbagai jenis penyakit dalam dunia medis. Selain itu, ilmu patologi dimanfaatkan untuk menentukan penyebab dan tingkat keparahan suatu penyakit serta membantu dalam mengambil langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat.

Seperti judul film yang satu ini, yakni Pathology yang merupakan film bergenre crime-horror, dirilis pada tahun 2008 silam. Film ini mengisahkan tentang seorang dokter muda berparas rupawan dan cerdas bernama Ted Grey. Ted yang baru saja lulus, bergabung ke sebuah rumah sakit sebagai seorang patologis. Kehidupan Ted semakin lengkap dengan didampingi oleh Gwen, tunangannya yang cantik.

Di rumah sakit yang baru, Ted yang genius memperoleh tanggapan negatif dari rekan-rekan kerja, salah satunya Jack yang ternyata adalah mantan kekasih dari Gwen, tunangan Ted yang sekarang. Akan tetapi, mereka mulai membuka diri untuk menjadi bagian kumpulan mereka dengan motif tertentu.

Akibat dari rasa penasaran yang bergejolak dari dalam diri Ted, ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Rekan-rekan sekumpulan patologis ini memiliki sebuah permainan yang mengerikan. Mau tidak mau, Ted yang sudah menjadi bagian dari mereka terseret oleh arus permainan yang memaksa untuk menghilangkan nurani. Setiap anggota kelompok wajib melakukan sebuah pembunuhan dengan cara yang kreatif dan nantinya anggota lain akan menebak cara yang digunakan untuk menghabisi korban.

Permainan berbahaya yang terdapat pada film disuguhkan dengan adegan mayat tak berpakaian yang dikuliti, ditusuk, dan diacak-acak organ tubuhnya. Tidak hanya itu, di meja otopsi para patologis memperlakukan mayat manusia seperti bangkai yang tidak berguna. Tubuh mayat yang disayat-sayat sesuka hati, darah yang beserakan dan mengucur, bagian kepala dan perut yang ditusuk dengan benda tajam, leher yang ditebas sampai kepada organ dalam tubuh yang dilempar menjadi tontonan tak bermoral yang ditampilkan oleh para dokter yang ’sakit’. Bahkan untuk menambah kesan “gila”, terdapat adegan pengonsumsian narkoba dan pesta seks di ruang mayat. Bukannya menjadi penghadang penyakit, malahan para dokter tersebut yang menjadi penyakit itu sendiri.

Salah satu dialog yang diulang beberapa kali dalam film ini adalah “We’re an animal” dijadikan dasar dalam melakukan perilaku tak beradab oleh para dokter gila tersebut. Manusia termasuk dalam mamalia, tetapi pastinya kita berbeda dengan hewan. Kita, manusia memiliki akal dan rasa yang wajib digunakan oleh manusia untuk bisa menjadi manusia.

Film ini merupakan tontonan yang dianjurkan untuk dewasa alias di atas 21 tahun dan tentunya harus siapkan mental dalam melihat adegan-adegan mengerikan nan menjijikkan.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment