Yayang Prilli Wandari

Pijar, Medan. Simalungun termasuk salah satu kabupaten di Sumatera Utara, di mana penduduk aslinya merupakan Suku Simalungun itu sendiri. Suku Simalungun dikenal sebagai salah satu suku yang memiliki beragam jenis makanan khas dan kuliner tradisional. Kulinernya sangat beragam dan seringkali dihidangkan di berbagai prosesi adat. Beberapa di antara kuliner Suku Simalungun ini bahkan sudah cukup terkenal, misalnya Nitak.

Berbeda dengan Itak dari Toba yang bentuknya dikepal atau di pohul-pohul, Nitak biasanya disajikan tanpa dimasak. Selain itu, Nitak Simalungun dikenal lebih kaya akan rempah seperti tepung beras, kelapa gongseng, gula merah, lada hitam, kencur, jahe, kelapa parut dan garam.

Adapun cara pembuatan Nitak tergolong sangat mudah, yaitu dengan cara tumbuk beras menggunakan lesung selama setengah jam hingga menjadi tepung. Setelah itu masukkan lada hitam, garam, kencur, jahe, kelapa gongseng, kelapa parut dan gula merah. Setelah lengket dan menjadi adonan, Nitak pun dibentuk serta siap dihidangkan.

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdigbud.go.id, makanan ini umumnya tidak bisa dijumpai sehari-hari, melainkan hanya di saat-saat tertentu saja. Hal ini disebabkan makanan ini lebih bersifat makanan adat. Maka dari itu, Nitak biasanya disajikan pada kegiatan yang bersifat ritual seperti perkawinan, kematian, menempati rumah baru, lulus sekolah, baptis atau pesta adat lainnya.

Contohnya saja ketika usai pesta pernikahan, esok hari setelah pesta, pengantin akan langsung membuat Nitak. Ini hal pertama yang dilakukan pengantin perempuan di rumah mertuanya. Hal ini menunjukkan bahwa pengantin perempuan berada dalam pengharapan, dan berhati suci saat berada di rumah mertuanya.

Contoh lain saat acara memasuki rumah baru, sebagai ucapan syukur atas kerja keras dan rezeki sehingga dapat membangun rumah. Maka dibuatlah Nitak dengan harapan keluarga akan selalu berada dalam kesehatan, menjadi keluarga yang harmonis, berlimpah rezeki dan semua orang yang berada di dalam rumah itu memiliki kedamaian hati.

Seperti yang diketahui, setiap makanan khas atau makanan tradisional dari suatu etnis pasti memiliki kisah atau cerita unik di baliknya, begitu juga dengan Nitak Simalungun ini. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun bernama Dharmawati Damanik yang merupakan keturunan asli dari Suku Simalungun.

“Kalau kami menyebutnya dengan nama Nitak Siang-siang, katanya biar Siang Paruhuran. Jadi ceritanya dulu Raja Rondahain mau pergi berperang dan dikasihlah Nitak Siang-siang sama orang tuanya biar selamat-selamat, dapat keberuntungan dan agar menang perang gitu. Jadi sekarang ini juga kalau ada anaknya yang mau berangkat cari kerja, sekolah atau kemanapun dikasih makan Nitak juga,” ungkapnya.

Selain itu, masyarakat etnis Simalungun ini pun percaya bahwa bumbu rempah-rempah pembuatan Nitak dapat membersihkan tubuh dari segala macam penyakit. “Kami pun percaya kalau Nitak ini bisa membersihkan tubuh melalui bumbu rempah-rempah tadi, jadi ada bahan untuk menghangatkan tubuh, terus bisa membuang angin dari tubuh gitu sehingga tubuh tetap terjaga kesehatannya,” tambah Dharma.

Nitak memang umumnya ditemui pada acara-acara adat saja, namun, tidak menutup kemungkinan juga disediakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai menu santapan keluarga. Kuliner yang memiliki cita rasa manis ini menjadikan Nitak cocok untuk menjadi makanan penutup setelah mencoba makanan yang bercita rasa gurih dan pedas.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment