Nadila Tasya Tanjung

Pijar, Medan. Di kalangan masyarakat Karo pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok perempuan yang satu ini. Bahkan namanya juga sudah dikenal hingga kancah nasional. Ia adalah Likas Tarigan, sosok wanita asal Karo yang sempat menjadi anggota lembaga tertinggi negara, yaitu sebagai Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Likas Tarigan lahir di Sibolangit, 13 Juni 1934 dan meninggal pada 4 Agustus 2016 di Jakarta saat usia 92 tahun. Nama Likas Tarigan kian tenar di kalangan nasional, karena selain menjadi anggota parlemen, ia juga merupakan istri seorang pahlawan Indonesia bernama Djamin Ginting. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai guru dan politikus Indonesia yang baik dan rendah hati.

Sosok yang akrab dipanggil Likas ini juga dikenal sebagai Kartini Tanah Karo. Tanah Karo yang kerap dipercaya sebagai daerah akan pandangan patriarki yang kuat, kini dapat dipatahkan stigmanya oleh Likas Tarigan. Ia berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan membuktikan bahwa kaum perempuan juga dapat membangun kiprah kesuksesannya.

Upaya Likas dalam perjalanan hidupnya demi mengemban pendidikan tidak selalu mulus. Setelah dinyatakan lulus dan diberi kesempatan menjadi guru yang merupakan cita-citanya itu, ia harus dihadapkan dengan kenyataan tentang persoalan biaya yang cukup menyandung langkahnya menggapai cita-cita. Halangan besar dari sang Ibu yang melarangnya pergi merantau pun ikut menjadi persoalan yang cukup serius. Namun, tekad kuat dalam diri Likas tidak menyurutkan semangatnya untuk menggapai impiannya.

Likas Tarigan sosok Kartini dari Tanah Karo yang menciptakan sejarah patahkan paham patriarki Tanah Karo yang mengakar. (Sumber Foto : karogaul.com)

Dalam perjalanan hidupnya, Likas Tarigan tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Ia ikut dan tergabung ke dalam Dharma Wanita saat Indonesia memasuki era-pasca kemerdekaan. Hal itulah yang membawanya bertemu dengan Djamin Ginting, sosok pahlawan kemerdekaan Indonesia yang juga menjadi suaminya. Likas sebagai perempuan yang berasal dari Tanah Karo, pada masa itu ikut aktif membahas tentang nasib perempuan di Tanah Karo. Ia bahkan tidak segan berpartipasi untuk menyuarakan para pemuda atau calon-calon suami yang terpelajar untuk memberikan kesempatan dan dukungan kepada perempuan agar dapat maju untuk menempuh pendidikan yang tinggi.

Sosok Likas dikenal hangat dan sangat memperjuangkan nasib perempuan Indonesia, terutama pada masa penjajahan Jepang dan paham patriarki yang kuat. Likas juga banyak berjasa dalam kesuksesan suaminya demi membela negara. Ia juga ikut turun tangan dalam hal kesejahteraan Tanah Karo yang dibentuknya dalam organisasi masyarakat Karo berskala nasional pada tahun 1995. Selain itu, ia juga membentuk Persatuan Wanita Karo pada tahun 1956, yang membuatnya mendapat banyak penghargaan.

Dalam mengabadikan sosok Likas yang bersahaja, tegar, dan berani, akhirnya dibuatlah sebuah film yang berjudul “3 Nafas Likas”. Film ini dibuat sebagai bentuk apresiasi terhadap Likas Tarigan sebagai sosok Kartini Tanah Karo yang telah mengembangkan kiprahnya di Indonesia.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment