Agnes Priscilla Siburian

Pijar, Medan. Sobat Pijar pernah merasa cemas saat mengalami ketinggalan suatu informasi di media sosial? Atau pernah merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial? Ternyata itu adalah gejala FOMO, lho!

Singkatnya, FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut ketinggalan yang dialami oleh seseorang. FOMO merupakan salah satu gejala psikologis saat seseorang merasa cemas ketika melewatkan suatu peristiwa atau informasi. FOMO dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang umur dan jenis kelamin.

Dilansir dari Statistica, pengguna media sosial di dunia mengalami peningkatan sebesar 44% selama masa pandemi Covid-19. Melihat aliran informasi yang terus-menerus diberikan kepada pengguna smartphone pada linimasa media sosial sejak pandemi, membuat orang dengan gejala FOMO semakin bertambah pula. Ketika melihat unggahan tentang prestasi, pengalaman, pencapaian dan kesuksesan orang lain, orang yang merasakan FOMO acap kali takut untuk merasakan tertinggal dan menjadi yang terakhir. Proses membandingkan inilah yang sulit untuk dihindari bagi orang yang mengalami FOMO.

Jika kita fokus pada rasa takut ketinggalan ini, tampaknya akan membuat kita mencoba berbagai cara untuk mengonsumsi banyak hal di media sosial bahkan dalam situasi apapun, misalnya saat makan, setelah atau sebelum tidur bahkan saat kelas berlangsung. Orang-orang dengan gejala FOMO merasa bahwa update status di media sosial adalah suatu keharusan. Meski mereka merasa senang berusaha untuk tetap update dengan lingkungannya, namun tak jarang di beberapa kesempatan mereka meragukan upaya-upaya itu.

Przybylski, dkk (2013) menjelaskan bahwa seseorang yang merasakan FOMO akan sering membuka media sosial, entah untuk melihat teman-temannya atau hanya sekedar mengunggah tentang dirinya. Orang yang merasakan FOMO akan gelisah dan menderita ketika orang lain tidak menyukai dan mengomentari unggahannya, mereka ingin menunjukkan bahwa media sosial adalah panggung pertunjukkan baginya karena dapat memberikan kesan yang berbeda dibandingkan orang lain.

FOMO muncul karena adanya keterasingan diri dari dunia nyata, sehingga mereka yang merasakan FOMO akan selalu mencari pengakuan di dunia maya. Itulah sebabnya mengapa orang yang merasakan FOMO akan menderita ketika tidak mendapatkan perhatian di dunia maya.

Walaupun media sosial adalah salah satu faktor penunjang FOMO, pada akhirnya yang menjadi akar permasalahan ini tentunya ada pada pola pikir kita. Jika kita memiliki pola pikir yang berpatokan pada orang lain, tentu akibatnya kita akan lebih sering merendahkan diri sendiri, sehingga fenomena FOMO tidak dapat dihindari.

Dari penjelasan di atas, apakah sobat Pijar sendiri sudah merasakan gejala FOMO? Jika sudah, maka ini saatnya bagi sobat Pijar untuk merubah pola pikir yang lebih positif untuk ke depan. Yuk, fokus ke pencapaian dan upgrade diri sendiri aja!

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment