Hits: 53

Shofiyana Fadhiilah

Pijar, Medan. Saat ini sedang terjadi perubahan besar dalam bidang jurnalistik. Hal ini seirama dengan penyampaian oleh Ray Wijaya, anggota Dewan Pers periode 2013-2016 dalam webinar bertajuk “Problem Etika Jurnalisme dalam Tekanan Harta dan Tahta”. Seminar daring ini diadakan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie pada Sabtu (24/04) pukul 10.00 WIB.

Webinar yang dilaksanakan melalui platform Zoom meeting ini mendatangkan dua pemateri lainnya setelah Ray Wijaya, yaitu Wenseslaus Manggut yang merupakan Ketua Umum AMSI, serta Dr. Aryo Subarkah, M.Si, selaku Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie.

Berbicara mengenai harta dan tahta, tentunya bukan hanya sesuatu yang ada di film saja. Namun, hal ini juga menggerogoti media yang di dalamnya penuh akan pelanggaran etika. Terkhusus pada era digital seperti saat ini, kepatuhan terhadap etika jurnalistik sangat menjadi tantangan berat.

Dalam dunia media, rating dan traffic bukanlah satu-satunya peluang. Tetapi itu bisa menjadi sebuah pilihan. Pilihan untuk menjadi media yang independen atau menjadi yang populer. Karena seharusnya informasi yang dibagikan ke Media tidak hanya harus akurat serta terpercaya, tetapi harus dibangun secara objektif dan bukan karena suatu kepentingan belaka.

Ray Wijaya selaku pemateri pertama memaparkan lebih mendalam tentang bagaimana jurnalistik dengan mindset baru. Di mana, arus perubahan dalam Jurnalistik sudah semakin besar dalam waktu yang singkat. “Tentunya, kita haruslah tahu bahwa ada perubahan besar yang sedang berlangsung. Kita harus tahu apa-apa saja yang berubah, yang paling penting lagi tentunya kita mau berubah. Kita juga harus memiliki wawasan-wawasan baru dan juga keterampilan-keterampilan baru,” ujarnya.

Saat ini jurnalisme sudah berada di jalan teknologi. Di mana para perusahaan pers praktis hanya sebagai produsen konten, sehingga distribusi atas konten dikendalikan oleh perusahaan teknologi. “Perusahaan teknologi ini sudah menjadi saluran distribusi semua jenis konten dari sumber manapun. Mulai dari media, blog, akun-akun private dan lain-lainnya,” jelas Wenseslaus.

Penyampaian materi oleh Wenseslaus Manggut mengenai Jurnalisme di Jalan Teknologi dalam webinar yang berlangsung pada Sabtu (24/4).
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Kemudian, Aryo Subarkah juga menyampaikan tentang kritisinya mengenai ekonomi politik media dalam tekanan harta dan tahta. Ia menjelaskan bahwa ada sekitar 700-800 dugaan pelanggaran etika jurnalistik pada tahun 2020, di mana pelanggaran ini didominasi oleh media cyber.

“Penyebabnya sangat beragam, terutama ekosistem. Apalagi ekosistem sekarang itu memaksa kita untuk melakukan banyak hal, seperti menyiasati konten agar prefik meningkat. Tetapi ujung-ujungnya didominasi oleh 2 kepentingan besar, yaitu harta dan tahta atau ekonomi dan kekuasaan,” tegas Aryo.

Jurnalisme penting bagi demokrasi, kekuasaan maupun skandal haruslah serta merta diawasi. Dengan memperkuat jurnalisme dan tetap menjaga hal yang dibutuhkan oleh publik. Persoalan yang terjadi memanglah tidak gampang, tetapi tidaklah mungkin jika kita tidak dapat melakukannya. Dengan menjaga kualitas konten yang bagus dan tetap mengambil jalan tengah, persoalan tersebut tentunya dapat teratasi.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment