Hits: 490

Deswita

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.” -R.A. Kartini

Pijar, Medan. Seorang pahlawan untuk kemajuan kaum perempuan Indonesia, begitulah orang-orang menyebutnya. Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat (R.A. Kartini), merupakan wanita kelahiran 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah.

Sosok yang tak asing kita kenal ini bukanlah pahlawan yang namanya besar karena ikut angkat senjata pada suatu peperangan. Kepahlawanannya juga bukan berasal dari perjuangan fisik, karena ia merupakan pejuang emansipasi wanita.

Pada masanya, putri dari Raden mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah ini berjuang untuk menyamakan hak antara kaum wanita dengan laki-laki, terutama dalam hal pendidikan. Ia berusaha tanpa pamrih mengajarkan cara membaca dan menulis bagi kaum wanita dari usia anak-anak hingga dewasa. Meskipun banyak yang menentang usaha tulusnya, ia tak pernah patah semangat.

Tak hanya dikenal sebagai pahlawan wanita yang berjuang sebagai pelopor emansipasi wanita, ia juga dikenal sebagai penulis buku yang berisi kumpulan surat berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Kumpulan surat tersebut kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht, yang secara harfiah artinya adalah “Dari Kegelapan Menuju Cahaya.”

Dedikasi untuk mengingat perjuangan Kartini, akhirnya dibuatlah peringatan Hari Kartini yang pertama kali diresmikan sebagai salah satu hari nasional oleh Soekarno, sekaku Presiden pertama RI berdasarkan Kepres RI No. 108 pada 2 Mei 1964. Selain itu, juga menetapkan R.A. Kartini sebagai salah satu pahlawan wanita.

Penetapan Hari Kartini pada tanggal 21 April, yaitu sesuai dengan hari kelahiran Kartini. Peringatan Hari Kartini ini dilakukan agar kaum wanita masa kini dapat meningkatkan peran, pengetahuan, dan pembangunan bagi negara Indonesia. Selain itu, juga untuk memupuk persatuan dan kesatuan sesama kaum wanita agar andil dalam meningkatkan kualitas di berbagai bidang kehidupan.

Adanya peringatan Hari Kartini ini diharapkan untuk generasi sekarang hingga yang akan datang agar tidak melupakan berbagai kebudayan yang ada di Indonesia dan terus mengharumkan nama bangsa bahkan dengan hal-hal kecil sekalipun. Kita sebagai wanita tak hanya berkewajiban untuk membangun diri sendiri dan keluarga, tetapi juga membangun masyarakat bahkan negara.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment