Hits: 27
Claudita Piesesta Tarigan
Pijar, Medan. Hari Makanan Sekolah Internasional adalah hari peringatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi bagi tumbuh kembang seorang anak. Peringatan ini pertama kali diciptakan oleh negara Inggris dan Amerika Serikat pada bulan Maret tahun 2013 yang diberi nama International School Meals Day (ISMD) dan diperingati setiap tahun pada Kamis kedua di bulan Maret.
Ide Hari Makanan Sekolah Internasional ini sudah ada sejak Desember 2010 ketika kedua negara tersebut menghadapi kebijakan yang sama, yaitu mendorong fasilitas gizi yang diperlukan setiap anak sekolah dengan baik serta memberikan edukasi pentingnya mengonsumsi makanan sehat. Ketika hari peringatan ini pertama kali muncul, kalangan masyarakat langsung menyambut peringatan ini dengan baik bahkan dibantu oleh grup Children In Scotland dan mitra global lainnya.
Kebijakan ini merambah secara global dan diikuti beberapa negara maju, salah satunya Jepang yang sadar akan pentingnya menjaga masa depan para generasi muda. Indonesia menerapkan kebijakan ini di awal tahun 2025 yang dikenal dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG adalah program yang dirancangkan oleh presiden Indonesia, yaitu Prabowo Subianto sejak pertama kali terpilih. Hingga saat ini, kebijakan MBG sudah berjalan selama satu tahun dan dikhususkan untuk peserta didik, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.

(Sumber Foto: idnews.co.id)
Meski bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi pelajar, pelaksanaannya di lapangan kerap memunculkan pro dan kontra dari masyarakat. Sejumlah pihak menilai program tersebut belum berjalan optimal. Endang, selaku Ibu Rumah Tangga (IRT) dari anak yang masih duduk di bangku sekolah memberikan tanggapan kontra terkait kebijakan MBG.
“Terkait MBG yang sudah berjalan, sejauh ini saya termasuk orang yang tidak setuju, karena adanya ketidakseimbangan menu, higienitas, dan kebocoran anggaran yang terlalu banyak. Di pengamatan saya, program ini terasa ‘dipaksakan’ harus ada, jadi tidak sesuai ekspektasi saat di lapangan,” jelasnya.
Di sisi lain, S. Simanjuntak, lulusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Medan, juga menambahkan pendapatnya terkait kandungan gizi yang ada pada MBG.
“Makanan pada anak sekolah sangat penting untuk diperhatikan, mereka membutuhkan protein yang cukup dan real food. MBG tidak berjalan sesuai harapan, untuk pemenuhan gizinya ada beberapa yang sudah sesuai standar asupan gizi dan ada yang tidak. Harapan saya, tolak makanan yang di mana MBG-nya mengandung bahan cepat saji, seperti sosis dan nuget. Karena itu makanan yang bukan real food,” ujarnya.
Perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan MBG menunjukkan bahwa pemenuhan gizi pelajar masih menjadi isu yang terus dibahas di masyarakat. Momentum Hari Makanan Sekolah Internasional diharapkan dapat mendorong evaluasi agar program pemenuhan gizi anak benar-benar berjalan efektif.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

