Nadila Tasya Tanjung / Arsy Shakila Dewi

“Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali”- Sang Penyair.

Pijar, Medan. Semua hal yang telah terjadi di kehidupan ini tentu ada sejarah yang melatarbelakangi. Ada Sejarah yang terlupakan atau sengaja dilupakan, sejarah yang sengaja dikubur lekat karena kenangannya mencabik banyak hati, sejarah yang dengan sengaja dipadamkan karena takut apinya menyambar, dan sejarah bias yang banyak kau temui memenuhi lembaran-lembaran buku sejarah sekolah.

Apapun macamnya, sejarah itu tetap harus kau baca agar menemukan titik terang. Termasuk sejarah di buku sekolahmu itu. Tetapi, jangan cepat mengambil kesimpulan pada setiap kata demi kata yang tertulis di buku sejarah manapun itu.

Banyak macam sejarah, banyak pula macam cara menyampaikannya. Salah satu diantaranya dikemas dalam novel berjudul “Laut Bercerita”.

Laut Bercerita, saat dihadapkan novel ini, siapapun akan takjub dengan sampulnya. Menampilkan kaki dengan ikatan rantai dan ikan-ikan kecil yang menyebar. Sebagian mungkin akan fokus terhadap ikatan rantai, ah sedikit menakutkan. Sebagian lagi akan lebih memperhatikan ikan-ikan kecil yang menyebar, sungguh cantik memang. Selalu ada dua sisi bukan di setiap perkara yang ada? Kau akan mengetahui dua sisi yang terkandung dalam novel setebal 379 lembar ini.

Dikisahkan Laut tepatnya Biru Laut Wibisono, seorang mahasiswa sastra inggris yang aktif dalam pergerakan mahasiswa, sedang bercerita bagaimana ia menemui kematian di suatu pagi dengan deburan ombak dan beberapa kali ledakan—setelah  tiga bulan disekap. Diawali oleh pertemuannya dengan Kinanti di bab Seyegan 1991, mahasiswi yang aktif dalam organisasi yang dinamakan Wirasena. Konon, Wirasena ini melakukan kegiatan-kegiatan yang menurut pemerintah adalah sebuah aktivitas terlarang. Padahal mereka hanya melakukan diskusi-diskusi untuk membahas buku seperti buku karangan Pramoedya Ananta Toer. Sampai pada akhir bab yaitu Di Sebuah Tempat, di Dalam Kelam, 1998. Di sanalah ia menemui kematiannya.

Aku mendengar debur ombak yang pecah, mencium aroma asin laut di antara angin yang mengacak rambut. Lalu di dalam kegelapan itu, aku membayangkan ribuan ikan kecil berwarna kuning dan biru berkerumun menantikan kedatanganku; puluhan ikan pari meloncat ke atas permukaan laut menyambutku seperti seorang saudara yang telah lama pergi”.

Cerita pun berlanjut dengan sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut Wibisono. Pada bab ini, dikisahkan keadaan keluarga yang kehilangan dan perjuangan mereka sehingga lahirlah “Aksi Kamisan” untuk menuntut tanggung jawab negara dalam menuntaskan kasus pelanggaran HAM yang terjadi.

Alur yang diceritakan Laut bersifat maju-mundur. Di sini Laut menceritakan kehidupannya di Laut lalu menceritakan kilas balik kenangan-kenangannya mengenai Ibu, Bapak, Adiknya yaitu Asmara Jati, Pacarnya yang tak lain dan tak bukan adalah Anjani, beserta dengan teman-teman pergerakannya.

Sebagian novel juga diambil dari kisah sang pemilik yaitu, Nezar Patria seorang jurnalis yang merupakan salah satu dari tiga belas korban penculikan aktivis pada masa orde baru, ia termasuk yang dipulangkan. Laut adalah fiksi yang nyata dikarenakan sang penulis, Leila S Chudori ingin menyampaikan kepada kita tentang sejarah kelam bangsa ini agar dikedepannya tak ada laut-laut lain yang menjadi korban kepentingan pemimpin yang diktator.

Novel laut bercerita menceritakan secara gamblang bagaimana kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Mereka yang kritis akan dibungkam, rakyat hidup dalam tekanan dan penderitaan, tembak di tempat dan penghilangan orang secara paksa adalah hal yang biasa. Banyak dari mereka yang diculik dan tak pernah kembali.

Jika pada buku sekolahmu tak dijelaskan siapa yang hilang dan siapa yang kembali, maka dengan gaya penceritaan yang santai namun tetap tak kehilangan esensi, Leila menyampaikannya kepada kita semua untuk #melawanlupa akan sejarah yang pernah ada. Untuk orang-orang yang dihilangkan, semoga damai dan surga bersama kalian. Untuk keluarga yang ditinggalkan dan masih berjuang menuntut keadilan, semoga berujung pada sebuah tuju dan nyata. Semoga apa-apa yang terjadi dalam novel ini serta tak lupa mengenai sejarah kelam negeri ini tak pernah terulang kembali di kedepannya.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk Sobat Pijar yang ingin mengetahui sejarah kelam bangsa ini dengan penuturan yang apik dan tentunya tidak menguras otak. Panjang umur perjuangan!

(Editor : Lolita Wardah)

Leave a comment