Laura Nadapdap / Indah Ramadhanti

Pijar, Medan. Sejak 1992, setiap tahunnya pada tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Difabel Internasional atau International Day of People with Disability (IDPWD). Penetapan hari besar ini dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tujuan agar setiap orang turut menyadari dan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas dari berbagai aspek, seperti aspek sosial, pembangunan, ekonomi, budaya, hingga politik.

Dalam setiap peringatan Hari Difabel Internasional, PBB menetapkan suatu tema. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini PBB melalui UNESCO mengangkat tema yang yang berkaitan dengan pandemi COVID-19, yaitu Building Back Better: towards an inclusive, accessible and sustainable post COVID-19 world by, for and with people with disabilities. Pasca pandemi, dunia diharapkan dapat segera bangkit dan menuju dunia yang lebih baik oleh, untuk, dan dengan penyandang disabilitas.

Indonesia juga memperingati Hari Difabel Internasional setiap tahunnya. Tema yang diusung tahun ini adalah “To Respect, To Fulfill, To Protect”. Melalui tema ini, masyarakat didorong untuk mewujudkan kesejahteraan dan kesetaraan penyandang disabilitas.

Menteri Sosial Indonesia, Juliari P. Batubara, sangat mengharapkan dan mendukung difabel agar memiliki kesempatan yang lebih besar. Hal itu diwujudkan dengan telah disediakannya fasilitas khusus beserta peralatan lengkap guna mengembangkan keterampilan penyandang disabilitas. Contohnya, Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BRSPDI) Ciung Wanara dan Balai Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BRVPD) di Cibinong, Bogor.

Tidak hanya itu, pada peringatan tahun ini Kementrian Sosial (Kemensos) mengadakan rangkaian acara yang telah dilakukan sejak 18 November lalu hingga 3 Desember. Seluruhnya disiarkan secara daring dan serentak melalui kanal YouTube Kemensos, TVRI, dan RRI.

Dibuka dengan acara Disabilities Creative Gallery dan Opening Ceremony & Prescon di hari pertama, dilanjutkan dengan Disability Creative Award dan Key Opinion Leader Support, Disability Show pada hari berikutnya, dan Closing Ceremony pada hari terakhir.

Kemensos juga mengadakan lomba Disability Vlog dan Tiktok Challenge bagi para peserta yang berasal dari Balai Rehabilitas Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Yayasan Disabilitas. Hal ini membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga dapat melakukan hal yang orang lakukan pada umumnya, tidak dikucilkan dan dianggap sebelah mata.

Ketidaksempurnaan fisik seringkali dianggap sebagai suatu hal yang menjadikan penyandangnya lemah. Padahal, para penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk sejahtera dan setara di tengah masyarakat. Melalui peringatan Hari Difabel Internasional ini, mari kita ubah stigma yang seolah menganggap kaum difabel tak berharga dan kita wujudkan kesetaraannya.

Kalau bukan kita, siapa lagi?

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment