Evan Sianturi / Johns Immanuel

“Sudahkah kau menemukan Tuhan?”

Pijar, Medan. Dimulai dari sebuah pertanyaan singkat dan sederhana, namun bermuatan teologis yang tinggi. Pertanyaan yang dikeluarkan oleh seorang perawat sebuah rumah sakit di tempat Weiner dirawat. Diawali ketika seorang perawat rumah sakit membisikkan sebuah kalimat di telinga Weiner, meski hanya bisikan namun itu sudah cukup baginya.

Kendati akhirnya sembuh, namun kalimat perawat itu ternyata menghantui Weiner dengan keresahan. Beberapa waktu kemudian Sonya, anak perempuannya yang berusia lima tahun sudah mulai bertanya-tanya tentang Tuhan. Semua ini memaksa Weiner untuk segera melakukan pencarian Tuhannya.

Ada delapan aliran kepercayaan yang akan dieksplorasikan Weiner di berbagai tempat yang ada di dunia. Pada berbagai tempat tersebut, ia menyaksikan dan bahkan terlibat langsung dalam berbagai ritual pada delapan kelompok keagamaan yang telah dipilihnya.

Perjalanan dimulai dari sebuah aliran keagamaan bernama Sufisme yang ada di kawasan California. Sufisme merupakan salah satu ajaran keagamaan yang mengatakan Tuhan itu cinta. Ia bergabung dengan sebuah kamp kaum sufi di sana. Tak puas sampai di sana, ia kemudian terbang ke Turki untuk mendalami aliran sufisme. Perjalanan membawanya ke sebuah Tarekat Mevlevi. Ia belajar gerakan sema dan upacara berputar yang dipenuhi simbolisme. Dari sufisme ia belajar untuk tunduk kepada Tuhan, bukan dengan takut tapi dengan cinta.

Kali ini perjalanannya menuju ke Kathmandu untuk belajar Budhisme. Ia juga belajar bermeditasi, memusatkan pikiran sembari melatih diri untuk mengatur napas. Menurutnya Budhisme adalah ajaran yang paling positif di dunia. Karena dalam ajaran Budhisme dikatakan bahwa tidak ada dosa asal dan karena itu pula tak ada kesalahan.

Setelah mengenal ajaran Budhisme, Weiner pergi ke kota New York tepatnya di sebuah penampungan tunawisma yang dikelola biarawan Fransiskan di Bronx Selatan. Di sini ia belajar mengenai ajaran Fransiskan, di mana misi dari ordo ini adalah pelayanan. Weiner mendapat kesempatan untuk menyelusuri lorong-lorong gelap tempat kemiskinan, kejahatan, dan penderitaan para tunawisma. Di sini Fransiskan mengambil peran sebagai dermawan dan tumpangan bagi para tunawisma. Baginya, penderitaan dan kedermawanan adalah bagian penting yang harus mereka lalui agar memahami Tuhan secara utuh.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Las Vagas. Di sana ia berkenalan dengan Realisme, agama terbesar berbasis UFO. Raelian, yaitu sebutan bagi penganut ajaran Realisme mempercayai bahwa ada ras asing yang luar biasa pandai bernama  Elohim. Kemudian yang dipercaya sebagai pencipta manusia di bumi. Dikatakan bahwa Elohim menciptakan manusia hanya untuk bersenang-senang.

Sudah puas mengenal apa itu Realisme. Weiner melanjutkan perjalanan pencarian Tuhan ke Wuhan, Cina untuk mendalami ajaran Taoisme. Taoisme yang sering juga disebut dengan Tao, adalah kekuatan utama didalam alam semesta yang terdapat pada semua benda, terdapat didalam inti segala benda di surga dan di bumi, kekal abadi dan tidak dapat berubah. Perjalanan Weiner kali ini sampai di Washington DC. Di sini ia belajar sebuah aliran bernama Wicca. Aliran ini  menyakinkan bahwa Tuhan itu tidak satu, melainkan ada ratusan.

Masih di kota yang sama, Weiner hadir di sebuah Lokakarya Syaman untuk mengetahui tentang aliran Syamanisme. Aliran ini menitik beratkan bahwa manusia bisa terhubung dan berkomunikasi dengan ruh binatang. Menurut Weiner aliran ini tidak cocok disebut dengan agama, tapi lebih menyerupai praktik spiritual saja.

Pada akhirnya, Weiner menutup perjalanannya ke Tel Aviv, untuk mempelajari aliran Kabbalah. Semua ini dilakukan Weiner untuk mencari tau mengenai keresahan yang mengganggunya pada waktu itu. Di akhir perjalanannya, ia seperti serupa dengan seorang rahib/santo yang membawa banyak kisah untuk dibagikan ke semua orang.

Buku ini merupakan perjalanan dari seorang penulis untuk mengeksplorasi delapan aliran  kepercayaan  yang ada di dunia. Catatan perjalanan Weiner lantas dikumpulkan menjadi  sebuah karya buku setebal 500 halaman. Sebuah perjalanan memori pengembaraan spiritualis, demi menjawab pertanyaan, sudahkah kau temukan Tuhanmu?

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment