Dheandra Hanani Br Meliala / Nia Nuryanti Barus

Pijar,Medan. Seiring berkembangnya olahraga olahraga modern, sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda mulai melupakan berbagai macam olahraga tradisional asli Indonesia, misalnya saja Ndikar. Mungkin sebagian dari kita tidak lagi mengenal olahraga bela diri tradisional satu ini. 

Di Sumatra Utara, khususnya pada masyarakat suku Karo, terdapat salah satu olahraga bela diri tradisional yang disebut ‘Ndikar’. Ndikar merupakan salah satu olahraga bela diri, yang dalam gerakannya terdapat campuran keterampilan seni tari dan bela diri. Orang yang menguasai bela diri satu ini disebut dengan istilah Pandikar. 

Pada saat memperagakan bela diri yang satu ini, Ndikar akan selalu diiringi dengan gendang karo atau musik karo dan sang Pandikar akan menyelaraskan gerakannya sesuai dengan irama music atau gendang, sehingga ketika dilihat, gerakannya akan terlihat seperti sedang menari tarian daerah Karo.

Untuk gerakan yang terdapat dalam bela diri satu ini pun tidak jauh berbeda dengan pencak silat, sehingga banyak masyarakat Karo yang menyebut Ndikar dengan sebutan silat Karo. Ndikar juga tidak hanya fokus pada kekuatan otot, poin penting dalam olahraga bela diri ini adalah mendedikasikan interaksi antara manusia satu dengan lainnya dan dengan lingkungannya. 

Dilansir dari correcto.id, dalam melakukan pertunjukannya, Pandikar akan berusaha menujukkan jurus terbaiknya untuk menaklukan lawannya dalam pertarungan. Pertarungan akan dimulai dengan tempo yang lambat dan para Pandikar akan menyesuaikan gerakannya dengan tempo yang ada. Disini lah kesempatan Pandikar untuk memberi hormat, melakukan pemanasan dan melihat kelemahan lawannya. 

Namun, Seiring berjalannya waktu, semakin banyaknya olahraga-olahraga luar yang masuk ke Tanah Karo, sehingga menjadikan olahraga ini semakin terkikis dan diabaikan oleh sebagian besar masyarakat Karo, khususnya kaum millennial. Sehingga sudah banyak masyarakat tidak mengenal atau bahkan mempelajari olahraga seni bela diri satu ini.  

Pada zaman sekarang ini, Ndikar hanya dapat dilihat di event-event besar di Tanah Karo seperti ulang tahun Tanah Karo, Pesta Bunga dan Buah di Berastagi, serta PIARA (Pekan Iman Anak dan Remaja) pada tahun 2010 yang dihadiri oleh ribuan pasang mata, yang  dimainkan oleh para anak Remaja.

Tetapi, masih ada juga orang yang tak jarang menerapkan Ndikar ini di kancah professional ia adalah seorang petarung One Pride MMA Indonesia, Brando Mamana. Ia mengatakan bahwa salah satu faktor yang membuat olahraga bela diri ini sudah tidak banyak yang digeluti, karena olahraga bela diri ini harus dipelajari dengan kemauan hati untuk mendatangi sang pelatih Ndikar, “Karena dalam tata kramanya, setiap orang yang ingin menguasai bela diri ini harus mendatangi sang guru, dan sang guru tidak dapat mendatangi muridnya untuk memberikan pelatihan, sehingga tidak ada yang membuka kursus untuk mempelajari seni bela diri ini” ujar Brando.   

Ada baiknya kita sebagai masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda mulai mengenal dan mempelajari olahraga seni bela diri asli Indonesia, agar olahraga tradisional ini dapat terus dilestarikan dan keberadaannya tetap dapat dilihat serta tidak terancam punah.

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment