Hits: 26
Grace Kolin
Judul : To Kill a Mockingbird
Genre : Fiksi
Penulis : Harper Lee
ISBN : 978-602-1637-87-6
Penerbit: Qanita
Terbit : September 2015
Tebal : 396 Halaman
“Kalian boleh menembak burung bluejay kalau bisa, tapi ingat, kalian berdosa apabila membunuh mockingbird.”
Kutipan kalimat legendaris itu berasal dari novel To Kill A Mockingbird, sebuah novel kini sudah berusia 56 tahun sejak pertama kali diterbitkan. Meski novel ini merupakan karya sastra lama, novel ini tetap eksis dan masih diminati oleh para penggila sastra. Bagaimana tidak, novel ini meyimpan cerita ‘emas’ yang tak pernah lekang oleh waktu. Harper Lee selaku penulis berhasil menyuguhkan bacaan moral yang layak mendapatkan pujian pada dunia. Lee adalah putri bungsu dari empat bersaudara. Lahir dari pasangan Amasa Coleman Lee dan Frances Finch Lee. Ayahnya seorang pengacara dan editor surat kabar setempat. Berbekal pendidikan hukum di University of Alabama, ia mengasah bakat menulisnya dengan bergabung menjadi editor humor kampus, Ramma Jamma. Lee juga berhasil mengantarkan To Kill A Mockingbird pada Pulitzer Award 1961, Presidential Medan of Freedom 2007 dan The Highest Civilian Honor USA.
Dengan terjual sebanyak 40 juta kopi di seluruh dunia, diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan diadaptasi ke dalam film pemenang Academy Award, To Kill a Mockingbird menjadi buku paling berpengaruh dan paling laris pada abad ke-20, sekaligus menjadi tonggak sastra dunia. Kini, buku klasik ini telah diterbitkan lima kali dalam empat edisi oleh Penerbit Qanita sebanyak 396 halaman di Indonesia. Berkali-kali juga termasuk dalam jajaran sepuluh besar buku fiksi terjemahan versi goodreads.com dan buku best seller di toko buku Gramedia.
Meski To Kill a Mockingbird tidak menyajikan cerita dengan genre sihir magis ala Harry Potter, roman-fiksi ala Twilight saga, sains-fiksi ala Hunger Games, buku ini tetap orisinal dan renyah untuk dibaca oleh siapa saja. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga cukup sederhana dan kaya akan makna. Alur ceritanya juga runut dan tidak monoton, sesekali diselingi oleh canda dan humor. Dari awal hingga akhir, kita akan menyelami satu-persatu kisah dalam buku ini lewat sudut pandang seorang gadis tomboi berusia sebelas tahun, Scout Jean Louis.
Scout, tidak seperti gadis kulit putih kebanyakan. Ia mengenakan pakaian overall, sesekali berkata kasar, berkelahi, dan sangat keras kepala. Ia juga memiliki seorang abang yang berselisih empat tahun darinya, Jeremy Atticus Finch (Jem-red). Berbeda dari adiknya, Jem sedikit lebih dewasa dan rasional. Mereka tinggal bersama Atticus Finch, ayah yang mengasuh mereka semenjak ibu mereka meninggal. Selain bersama sang ayah, Scout dan Jem juga diasuh oleh Calpurnia, pembantu rumah tangga kulit hitam yang setia. Kehidupan sehari-hari mereka berlangsung di Maycomb, kota tua yang berjarak sembilan puluh kilometer dari Saint Stephens.
Masa kecil mereka yang datar-datar saja semenjak berubah ketika Charles Baker Harris (Dill-red), si cebol dari Meridian memberi gagasan pada mereka untuk memancing sosok yang terkenal menakutkan di Maycomb, Boo Radley untuk keluar dari rumahnya. Boo berasal dari keluarga Radley yang tertutup. Salah satu keluarga di Maycomb yang tidak pernah pergi ke gereja ataupun menyeberang jalan untuk rehat kopi pagi hari bersama tetangganya.
Jem memberikan gambaran masuk akal tentang Boo: tinggi badannya dua meter, dilihat dari jejaknya; dia memakan tupai dan kucing yang bisa ditangkapnya mentah-mentah, karena itu tangannya selalu bernoda darah – kalau kau memakan hewan mentah-mentah, kau tak akan pernah bisa mencuci bersih noda darahnya. Ada bekas luka panjang bergerigi melintasi wajahnya; giginya yang tersisa kuning dan busuk; matanya menonjol, dan air liurnya menetes hampir sepanjang waktu (Hal. 29).
Mendengar deskripsinya saja, orang manapun di Maycomb tidak akan pernah berani untuk bertandang ke rumah Boo Radley, apalagi melintas di depan rumahnya. Memancing Boo keluar dari rumahnya sama saja dengan melepas singa dari kandangnya. Usaha yang dilakukan Scout, Jem dan Dill pun sia-sia. Tidak ada tanda-tanda Boo akan keluar dari rumah. Sampai-sampai Scout mengira Boo sudah mati berlumut akibat terkurung di dalam rumah yang lembab. Anehnya, meski Boo belum mati, Scout dan Jem selalu menemukan barang-barang unik di dalam ceruk pohon yang tumbuh di depan rumah Boo, mulai dari sepaket permen karet, medali, jam saku, hingga patung sabun kecil yang diukir menyerupai miniatur mereka berdua.
Beralih sejenak dari Boo, Atticus, sang ayah sekaligus pengacara senior di Maycomb ditunjuk Hakim Taylor untuk membela Tom Robinson, warga kulit hitam yang dituduh telah memperkosa Mayella Ewell di pengadilan. Tugasnya yang diembannya sungguh berat dan sempat mendapat komentar miring dari warga Maycomb, bahkan dari anggota keluarganya sendiri. Menjelang hari pengadilan kian dekat, Atticus benar-benar fokus untuk memenangkan kasus ini.
“Ayahnya melihatnya, dan terdakwa sudah bersaksi tentang komentar sang ayah. Apa yang dilakukan ayahnya? Kita tidak tahu, tetapi ada bukti tidak langsung yang menunjukkan bahwa Mayella Ewell dipukuli dengan bengis oleh seseorang yang kidal. Kita tahu sebagian perbuatan Mr. Ewell: dia melakukan apa yang akan dilakukan lelaki berkulit putih yang terhormat, gigih, dan takut pada Tuhan dalam situasi itu – dia menandatangani surat gugatan, tak diragukan lagi ditandatangani dengan tangan kiri, dan Tom Robinson sekarang duduk di hadapan Anda, setelah diambil sumpah dengan satu-satunya tangan yang dapat digunakannya – tangan kanannya” (Hal. 290-291).
Sayangnya, setelah melalui proses pengadilan yang cukup alot dan panjang, sebelas juri sepakat untuk memutuskan bahwa Tom Robinson bersalah. Padahal, para saksi yang hadir di ruang sidang tahu bahwa keputusan itu sama sekali tidak benar (mengacu pada bukti yang ditunjukkan Atticus selama proses pengadilan berlangsung). Tetapi, mereka semua tidak dapat berbuat apa-apa terhadap vonis yang telah dibacakan Hakim Taylor. Beberapa hari kemudian, Mr. Ewell tetap saja melayangkan teror dan ancaman pada Hakim Taylor dan Atticus, bahkan ia sendiri mengancam akan membunuh Atticus meskipun dia sendiri sudah memenangkan gugatan pengadilan.
Tibalah pada suatu malam seusai pementasan Halloween di auditorium sekolah menengah, Scout dan Jem diserang oleh Mr. Ewell dalam perjalanan pulang ke rumah. Jem dipukuli sampai luka-luka dan tak sadarkan diri, sedangkan Scout jatuh dan terjebak dalam kostum daging ham. Mr. Ewell tiba-tiba roboh dan tak sadarkan diri setelah sebilah pisau dapur menancap di tulang iganya. Jem dilarikan oleh sesosok manusia misterius ke rumahnya, dan Scout mengikutinya dari belakang. Beruntungnya, setelah diperiksa oleh Dr. Reynolds, Jem tidak mengalami cedera yang serius.
Untuk pertama kalinya pada malam itu, Scout untuk pertama kalinya berjumpa dengan Boo Radley, sosok monster masif menakutkan yang selama ini menjadi bahan pembicaraan tabu bagi penduduk Maycomb. Mr. Arthur Radley alias Boo kini menjelma jadi pahlawan baginya.
Atticus benar. Dia pernah berkata, kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya. Hanya berdiri di serambi Radley pun cukup. (Hal. 394).
Ada begitu banyak alasan mengapa buku ini layak dicintai para pembaca. Salah satunya karena kepiawaian Harper Lee dalam mengemas pendidikan moral dan toleransi dalam satu cerita utuh yang begitu menyentuh hati nurani. Poin-poin yang menyangkut tentang rasisme, prasangka, cinta dan kasih sayang, semuanya terangkum sempurna dalam satu tarikan nafas. Alih-alih, kita juga akan mencintai karakter Atticus karena kebesaran hatinya dalam menerima perbedaan. Dia adalah sosok ayah sekaligus sosok pengacara yang bijaksana. Tidak aneh apabila Scout sangat mencintai Atticus dan mengikuti segala perintahnya. Akhir kata, To Kill a Mockingbird adalah semiotika sastra yang cerdas dan memukau, persembahan terbaik Harper Lee untuk penikmat sastra di dunia.

