Hits: 222

Marshella Febriyanti Hutabarat

Pijar, Medan. Pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri, mengapa selalu gagal mencapai tujuan? Atau kamu juga masih bingung dengan apa sebenarnya tujuan hidupmu? Buku Makanya, Mikir! karya Abigail dan Cania ini mungkin dapat menjadi jawaban, kamu akan diajak berpikir dan merancang tujuan hidupmu.

Bagian pertama dibuka dengan penjelasan terkait peta realitas dan cara menentukan tujuan hidup. Untuk mencapai sebuah tujuan, tentu kita harus mempunyai peta realitas yang akurat dan dapat menunjukkan jalur sebab yang benar.

Perjalanan menuju sebuah tujuan, tentu akan menghadapkan kita dengan berbagai keputusan yang harus diambil. Pada bagian kedua, buku ini membahas terkait ranah realitas dan ranah preferensi. Ketika mendapat sebuah infomasi, kita harus mampu membedakan apakah  informasi tersebut termasuk ranah realitas dan preferensi. Cara ini akan berguna dalam proses berpikir dan membuat keputusan nantinya.

Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah kamu akan diperkenalkan dengan sebuah konsep pemikiran yang dinamakan Cost-Benefit Analysis (CBA). CBA membantu kamu untuk menghitung pilihan mana yang memberikan keuntungan paling besar dengan kerugian paling sedikit.

CBA dapat membantu kamu dalam mengambil keputusan mulai dari permasalahan sederhana hingga yang rumit sekalipun. Salah satu contoh ketika kamu ingin membeli sebuah rumah, maka sebelumnya kamu harus tetapkan kriteria rumah yang diinginkan sehingga dapat mempersempit opsi yang ada.

Konsep pemikiran CBA ini juga dapat dikombinasikan dengan Value (V) dan konsep Probability (P). Tidak perlu pusing dan bingung, buku Makanya, Mikir! ini akan menjelaskannya dengan sangat detail beserta contoh yang mudah dipahami. Selain itu, kamu juga akan diberi kesempatan untuk membuat penilaian CBA milikmu sendiri.

Makanya, Mikir! Sebuah Ajakan untuk Berpikir Sebelum Bertindak - www.mediapijar.com
Lembar konsep pemikiran CBA yang dapat diisi sendiri
(Fotografer: Marshella Febriyanti Hutabarat)

 

“Dalam membangun peta realitas maupun membuat keputusan, kadang ada bias-bias atau kesalahan berpikir yang membuat kita sampai pada pemahaman, kesimpulan, atau keputusan yang salah.” —halaman 167.

Maka, buku ini juga menjelaskan secara rinci bias-bias atau kesalahan berpikir yang ada, sehingga kamu tidak akan salah dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang. Salah satu kesalahan berpikir yang dibahas adalah hasty generalisation, merujuk pada bias kognitif yang kemudian menjadikan keadaan atau kenyataan dalam sebuah kasus berlaku pada semua kasus yang serupa.

Hasty generalisation dicontohkan seperti ketika tetangga kita baru saja memperoleh promosi di tempat kerjanya bersamaan dengan peningkatan gaji. Keesokan harinya, ia segera membeli mobil baru yang lebih mahal. Melihat hal itu, kita beranggapan bahwa setiap orang yang mendapatkan kenaikan gaji pasti akan mengganti mobilnya dengan yang lebih mahal.

Dalam mengambil keputusan, kamu juga perlu mengetahui hal mana yang menjadi prioritas dan tidak. Oleh karena itu, perlu untuk membuat daftar pekerjaan yang penting dan mendesak. Terdapat prioritas yang penting dan tidak memiliki tenggat waktu, tidak penting dan memiliki tenggat waktu, serta yang tidak penting sama sekali. Daftar prioritas tersebut akan memudahkan kamu dalam mengambil keputusan dan memulai pekerjaanmu.

Buku berjumlah 295 halaman ini tidak akan membuat kamu bosan, sebab di dalamnya terdapat banyak ilustrasi yang menarik dan penuh warna. Bukan hanya teori, kamu juga diajak untuk ikut mengimplementasikan yang sudah dijelaskan pada lembar interaktif dan kamu bisa isi sendiri.

Selain itu, untuk kamu yang saat ini masih diselimuti pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tadi, setelah membaca buku ini kamu bisa mulai berpikir lebih mendalam dan menemukan jawaban yang mungkin sebelumnya tidak kamu sadari.

“Kemampuan membuat keputusan sebaik mungkin adalah fondasi mencintai dengan hebat.” —halaman 260.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment