Lucky Andriansyah

Ketika mentari pagi menjelang di tengah Kota Kembang, aku yang sedang terlelap dalam tidur. Tiba-tiba terdengar suara panggilan yang menyerukan “Didi! Ayo bangun sudah jam enam, nanti kamu kesiangan!” ujar Dodo teman karibku.

Bergegas ku ambil handuk yang tergantung di belakang pintu, lari kecil menuju kamar mandi untuk mandi bebek. Setelah mandi segera berlari menuju kamar untuk memakai seragam sekolahku.

“Didi! Udah siap belum? Lama banget,” sahut Dodo memanggil ku.

“Iya bentar! Gak sabaran banget sih!” balasku.

Bergegasku menuruni tangga dan kulihat muka Dodo yang sudah memasang muka manyun menungguku di depan  pintu. Segera aku menghampirinya, merangkulnya lalu ku jitak kepalanya.“Heleh, gitu aja marah. Huh dasar! Udah ayo berangkat,” candaku kepadanya.

Bergegaslah kami berangkat kesekolah menaiki sebuah motor bebek berwana hitam garis putih pemberian bapak kala itu.

***

Hari Senin pagi yang cukup memberikan udara yang sejuk kala itu. Jalanan yang cukup macet di penuhi dengan kendaraan dari orang-orang yang ingin melakukan aktifitasnya seperti biasa.Dodo terlihat kebingungan memikirkan ujian bulanan yang rutin dilaksanakan tiap bulannya.

“Heleh, ngapain sih kamu ngapal segala? Toh nanti remedial juga,” ujarku.

“Enak aja! Kamu aja yang remedial, aku mah enggak!” sahutnya

“Heh! Kamu tuh gak percayaan banget sih aku bilangin, kita tuh sekarang ujian sama bu Baban, guru asal Medan itu yang paling pelit ngasih nilai, jadi udah deh gak usah capek-capek ngapal, emang kalo ujian sama dia kamu pernah gak remedial?” tanyaku.

“Ya enggak sih, tapi kan setidaknya aku ada usaha, gak kayak kamu!”

“Kalau kamu mau usaha bagusan usaha untuk cari muka sama dia kayak si Uya anak kesayangan dia, yang selalu cari muka di depan dia,” candaku pada Dodo yang terlalu serius.

“Haha bener juga, tapi udah lah, siapa tau rezeki,” sahutnya coba untuk menghentikan pembicaraan.

***

Sampailah kami di sekolah yang satu menit lagi akan di tutup gerbangnya.Ku tancapkan gas sepeda motorku agar tak ketinggalan baris. Sesampainya di parkiran ku lihat si Uya dan Bu Baban yang sedang bercengkrama

 “Tuh liat, kamu mau ikutan cari muka juga gak? Kayak si Uya,” ujarku pada Dodo yang sedang merapikan dasinya.

“Heleh, udahlah kamu jangan ngomongin orang terus, buruan deh beresin helm kamu itu ayo kita baris,” ujarnya.

Sesampainya di barisan, aku berbaris tepat di belakang Zeze salah seorang bintang di sekolahku. Dia juga banyak disukai oleh lelaki-lelaki di kelas 3C yaitu kelasku. Zeze merupakan anak kelas 3A yang sangat pintar, cantik dan ramah pula. Pantas saja dia banyak disukai oleh semua lelaki termasuk aku. Tambah lagi dia mempunyai gingsul di giginya sesuai dengan wanita idamanku. Lengkap sudah, semua ada padanya.

“Hai Didi, kamu terlambat yah?” sapanya padaku.

Rasa senang karena dia tahu namaku tambah rasa malu, semua bercampur menjadi satu.

“Ehh, Hai juga Zeze, iya tadi.. em.. tadi.. macet di jalan,” sahut ku dengan rasa gugup karna di tegur dengan orang yang ku suka.

“Oh, emang rumah kamu dimana?” tanyanya

“Rumahku di komplek Permata Kopo Ze,” ujarku kegirangan.

“Oh sama dong, aku juga tinggal di komplek Permata Kopo Blok K No. 150” sahutnya.

“Hah? Yang bener? Aku di Blok L No. 4.”

“Iya bener, kapan-kapan kita belajar bareng yah!” sahutnya.

Rasa bahagia menyelimutiku serasa ingin saja ku teriakan sangking bahagianya bisa bercengkrama langsug dengan pujaan hatiku. Tambah lagi dia mengajaku untuk belajar bersama.

“Heh berisik banget sih, lagi baris nih nanti di marahin tuh sama Pak Deden, dia dari tadi ngeiatin kamu aja,” tegur Dodo yang berbaris di belakangku.

“Ih biarin aja, jangan sirik dong,” sanggahku.

***

Waktu pulang sekolahpun tiba, ku lihat Zeze yang sedang berdiri di depan sekolah. Bergegas ku tancapkan gas motorku dan ku suruh Dodo untuk turun terlebih dahulu lalu ku hampiri Zeze di depan gerbang.

“Hai Ze, kok keliatannya bingung banget?” tanyaku.

“Iya lagi nunggu jemputan nih, tapi gak datang-datang,” sahutnya dengan muka cemas

“Oh yaudah barengan aja gimana? Kan satu komplek juga,” tawarku.

“Gak ngerepotin? Kan kamu sama temen kamu.”

“Enggak kok. Haduh udah lah gak usah di pikirin si Dodo, dia kan cowo, udah gede juga, bisa pulang sendiri kok.”

“Oh gitu, okedeh.”

Zeze pun naik di boncenganku, ku lajukan gas motorku tanpa sedikitpun menghiraukan Dodo yang berjalan menenteng helm nya.

Selama perjalanan tak henti ku buat percakapan dengan Zeze seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tak datang dua kali. Sesampainya di depan rumahnya ku coba beranikan diri untuk meminta nomor telponnya. Tapi memang usaha tidak akan membohongi hasil, aku berhasil mendapatkan nomor telpon Zeze.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas mengganti baju dan mencoba untuk mulai menghubungi Zeze dari nomor telpon yang diberikannya padaku. Tak lama kemudian Dodo sampai di rumah dengan wajah yang agak murung karena tadi ku tinggalkan di sekolah.

“Hai Do!” sapaku padanya

“Hmm,” jawabnya dengan jutek seperti marah padaku

“Maaf yah tadi gak pulang bareng, karna aku kasian liat si Zeze gak ada yang jemput, dia kan cewe,” ujarku

“Iya gapapa, yang penting kamu seneng,” ujarnya.

***

Esok hari tiba, seperti biasa Dodo yang bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan untuk Didi yang selalu bangun terlambat. Seperti biasa juga Dodo membangunkan Didi dari tidurnya yang nyenyak sambil mengorok.

“Khoookkk…Khookk,” suara ngorok Didi yang terdengar hingga dapur tempat Dodo menyiapkan sarapan.

“Di…woi Didi.. Bangun… udah jam berapa ini?” ujar Dodo membangunkan Didi dari tidurnya.

“Hmmmmm,” sahutnya sambil mengerangkan tubuhnya.

Lagi-lagi seperti biasa Dodo berdiri di depan pintu menunggu Didi yang bersiap-siap menuju sekolah, namun kali ini Didi terlihat tergesa-gesa tak seperti biasanya.

“Hei Do! Kayaknya kamu harus naik angkot deh, soalnya pagi ini aku harus jemput Zeze di rumahnya. Maaf banget yah, mungkin besok kita akan berangkat bareng lagi kok,” ujar Didi memelas kepada Dodo.

“Oh gitu yah? Oke gapapa kok, Good Luck yah!” sahut Dodo.

Pagi ini Dodo datang terlambat ke sekolah, hingga ia tidak bisa masuk karena gerbang sekolah yang telah di tutup. Namun, tak sedikitpun Didi menghiraukan ketiadaan Dodo, dia hanya terfokus kepada chat dari Zeze di ponselnya.

***

Keesokan harinya seperti biasa Dodo yang menyiapkan sarapan Didi dan membangunkannya, kali ini kembali lagi Didi beralasan untuk menjemput Zeze ke rumahnya, hingga tidak bisa berangkat bareng dengan Dodo namun ia tetap memberikan janji untuk bisa berangkat bersama Dodo di esok hari.

Namun hal ini terjadi setiap hari hingga menyebabkan Dodo sering sekali terlambat kesekolah bahkan tidak masuk sekolah karena gerbang yang di tutup.

Hingga pada suatu hari saat Didi terbangun dia tak melihat Dodo.

“Ahh mungkin dia udah berangkat, hmm kasian juga sih,” gumamnya dalam hati.

Saat Didi bergegas untuk sarapan, terlihat sepucuk surat di atas meja dekat sarapan yang telah disajikan dari Dodo untuk Didi.

To :Didi

Hai Di, udah bangunkan? Iya kamu bener, aku udah pergi kok tapi bukan ke sekolah. Tadi pagi orang tua ku menjemputku. Aku harus pergi berobat karena lambung-ku yang semakin parah karena sering terlambat makan dan tidak pernah sarapan. Semoga persahabatan kita yang sudah kita jalin sejak kicil dan tambah lagi tinggal bersama sejak tiga tahun ini jangan kamu lupain yah, walau kamu sekarang udah ada yang bangunin tapi inget yah jangan pernah lupain aku. Aku udah menganggap kamu sebagai adik ku, adik kecil yang males, tapi sekarang kamu udah lebih rajin bangun dan gak pernah terlambat lagi. Semoga kamu bisa bahagia dengan adanya Zeze di kehidupan kamu. Kamu juga harus belajar masak yah buat sarapan kamu setiap hari. Harus semangat terus yah belajarnya!!!

                                                                                                                        Salam Hangat,

                                                                                                                             Dodo”

***

Terkadang cinta memang bisa membuat kita bahagia, menyukai dan mendapatkan seseorang yang kita inginkan memang merupakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri di dalam hati. Namun, indah dan manisnya hubungan cinta, akan kalah dengan manis dan hangatnya persahabatan.

Rasa cinta dari pasangan kita akan kalah dengan rasa sayang dari sahabat kita. Sadarlah bahwa ada orang di sampingmu yang tulus menyayangimu, jangan sampai orang itu pergi meninggalkanmu. Jangan terbuai dengan cinta dari pasanganmu.Pecarayalah bahwa cinta dari pasanganmu tidak kekal seperti kekalnya cinta dari sahabatmu.

Leave a comment