Shofiyana Fadhiilah

Seperti biasa, setiap paginya Zeline pergi ke sekolahnya. Namun hari ini ada hal yang berbeda, sekolahnya kedatangan guru baru yang menurutnya usianya masih cukup muda. Banyak sekali murid yang cukup penasaran dengan guru baru ini. Tepat di dalam kelasnya, guru baru itu memperkenalkan diri.

“Selamat pagi murid-murid, perkenalkan nama saya Abian Delardy. Mulai saat ini saya akan menjadi guru Biologi kalian yang baru. Mohon kerjasamanya,” ucapnya dengan ramah-tamah.

Sontak murid-murid di kelas Zeline banyak yang terpukau dengan guru tersebut. Bagaimana tidak, senyum dan wajahnya yang menawan tentu saja telah menarik hati banyak kaum hawa di kelasnya.

“Kalo gurunya begini mah, aku betah belajar Biologi sampai pulang,” ujar salah satu teman Zeline yang cukup genit di kelasnya. Membuatnya cukup jengah.

Memang sih, menurutnya guru ini cukup terlihat menarik, ramah, serta cukup sabar dalam mengajar muridnya. Bahkan guru ini selalu menjelaskan pelajaran dengan sangat detail tanpa tertinggal sedikit pun, ia akui itu.

Pada hari-bari berikutnya, guru ini tetap memiliki sifat yang sama, membuat para siswa melabelinya sebagai guru terbaik dan “good looking” satu sekolahan.

Pak Abian ini juga terlihat sangat peduli kepada hewan, Zeline sering sekali menemui Pak Abian yang sedang mengobati kucing yang terlantar. Ia juga mendengar bahwa gurunya ini juga seorang pemilik dari klinik kesehatan hewan, dan menurutnya itu adalah hal yang cukup mulia.

Hingga pada suatu hari saat sepulang sekolah, Zeline iseng mengikuti Pak Abian. Tentu saja ia ingin mengetahui di mana klinik tersebut. Hitung-hitung ia bisa lebih dekat dengan gurunya itu. Tidak munafik, ia cukup tertarik dengan Pak Abian setelah ia memperhatikan perilaku gurunya itu setiap hari.

Ketika sudah sampai di klinik tersebut, Pak Abian keluar dari mobilnya sambil membawa anjing cacat yang berada digendongannya. Ia pikir gurunya akan membawa hewan tersebut kedalam klinik itu, tapi ternyata Pak Abian membawa anjing itu kebelakang klinik. Dengan rasa penasaran yang tinggi Zeline mengikutinya.

Betapa terkejutnya Zeline melihat peristiwa yang mengenaskan itu tepat di depan matanya. Dengan tidak punya hati nurani, gurunya itu menginjak bahkan memukul kepala anjing yang tidak berdosa itu dengan menggunakan batu hingga anjing itu tidak bernyawa lagi. Bahkan Pak Abian masih sempat tersenyum menatap anjing tak berdaya itu.

Zeline hanya bisa menangis dalam diam, tidak menyangka bahwa guru favoritnya adalah seseorang yang bejat. Ketika ingin kabur dari tempat persembunyiannya, alangkah sialnya ia menginjak triplek yang cukup menimbulkan suara yang keras. Membuat gurunya menoleh dan menatapnya tajam.

Setelah Zeline ketahuan, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi kepadanya. Sejak saat itu, ia tidak pernah pulang bahkan pergi ke sekolahnya. Orang tuanya juga sangat sedih dan mencari-cari gadis tersebut. Bahkan polisi menambahkannya ke daftar orang-orang yang hilang.

Leave a comment