Hits: 203
Bagus Prakasa/Lucky Andriansyah
Pijar, Medan. Banyak cara orang untuk menjaga hidupnya agar tetap sehat, salah satunya dengan olahraga. Kita sudah banyak mengetahui olahraga-olahraga seperti renang, lari, sepak bola, bola voli dan lainnya. Tetapi ada beberapa olahraga yang belum akrab terdengar di telinga orang, yaitu anggar.
Anggar (fencing) merupakan salah satu olahraga beladiri yang mempunyai seni tersendiri. Gerakan-gerakan dalam anggar diatur sedemikian mungkin sehingga terlihat indah pada saat dimainkan. Dimulai dari salam hormat, kuda-kuda, hingga langkah maju/mundur telah ditentukan, sehingga meneguhkan keindahan olahraga yang satu ini. Perbedaan anggar dengan olahraga lain diantaranya untuk melatih kecerdasan, kelincahan dan kesabaran. Cabang atletik ini juga menekankan pada pertahanan tubuh dan kecepatan dalam melakukan serangan-serangan terhadap lawan.
Setiap olahraga mempunyai alat pendukung, begitu pula dengan anggar. Olahraga ini mempunyai perlengkapan untuk pemain, seperti kabel badan, celana anggar, plastron (pelindung ketiak), masker atau pelindung wajah, sarung tangan, baju jaket yang terbuat dari bahan kuat yang berwarna putih dan juga mempunyai beberapa jenis pedang. Tiga jenis pedang dalam anggar dibedakan sesuai dengan sasaran pada tubuh, seperti Degen, Floret, dan Sabel. Degen merupakan jenis pedang yang sasarannya tertuju pada seluruh bagian tubuh, Floret memiliki titik serangan yang terletak pada bagian badan saja, sedangkan Sabel sasarannya terletak dari bagian kepala sampai badan.
Sasaran-sasaran tersebut menentukan jumlah poin dalam anggar ini. Kostum anggar dilengkapi dengan kabel khusus yang dihubungkan dengan sistem penilaian elektronik yang akan bereaksi apabila terkena tusukan untuk mendapatkan nilai. Poin juga didapatkan dari serangan yang ditujukan kepada lawan dan menangkis serangan dari lawan, sesuai dengan keputusan dari wasit. Nomor-nomor yang dipertandingkan dalam cabang atletik ini diantaranya Prakadet (paling dasar), Kadet, Junior dan Senior.
Buat sobat PIJAR yang tertarik dengan anggar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk masuk dalam cabang olahraga ini, setidaknya calon atlet harus berusia minimal 10 tahun. Untuk perlengkapan yang dibutuhkan, anggar menghabiskan biaya sekitar 5 juta rupiah. Dana yang cukup mahal itu mengakibatkan masih kurangnya peminat permainan adu pedang ini.
Yusrizal Herdiansyah, atlet anggar kota Medan mengungkapkan, “Bajunya, masker, sepatu, pedang dan lainnya masih jarang di Indonesia. Kalaupun ada, masih kualitas nasional. Untuk pertandingan internasional, biasanyadiimpor lagi dari Jerman, makanya agak mahal.”
Untuk di kota Medan, perkembangan anggar sudah cukup baik. Hal itu didukung dengan semakin berkembangnya klub ataupun komunitas olahraga asal Perancis ini. Setidaknya ada delapan klub yang menaungi atlet-atlet di Medan, diantaranya Flogensa Fensing Club Medan, Tritech Fencing Club (TFC) Medan, Medan Fencing Club (MFC), Gardu Fencing Club, Emsendu Fencing Club, Khairuman Fencing Club dan sebagainya.
“Saya gabung di anggar sekitar satu setengah tahunan, udah ikut beberapa kali turnamen dan mendapatkan satu medali emas dan tiga perak. Semoga pemerintah daerah lebih memperhatikan anggar ini supaya makin banyak yang tau tentang olahraga anggar ini,” jelas Rizal.
Anggar (fencing) sendiri berasal dari Perancis “en garde” yang berarti “bersiap”. Di Indonesia, anggar dibawa oleh tentara kerajaan Belanda yang sebelumnya tujuan dari anggar itu adalah berkelahi dan olahraga.

