Dua Puluh Empat Orang Hidup Dalam Satu Tubuh

Hits: 44

Alfi Rahmat Faisal

 

Pijar, Medan. Judul asli: The Minds of Billy Milligan

Jenis buku: Psikologi

Penulis: Daniel Keyes

Penerjemah: Miriasti dan Meda Satrio

Penyunting: Budhyastuti R.H.

Penerbit: Qananita, Bandung

Cetakan: I, Juli 2005

Tebal: 699 halaman

Bagaimana bisa dalam satu tubuh bersemanyam 24 orang? Mungkin begitulah pertanyaan yang muncul ketika membaca buku ini. Adalah William Stanley Milligan atau yang sering disapa Billy yang sempat mencengangkan dunia di akhir 1970-an. Bagaimana tidak, bayangkan dalam satu tubuh seseorang hidup lebih dari dua, bukan tiga atau empat tapi 24 kepribadian yang berbeda bahkan bertolak belakang satu sama lain.  Arthur, pria dengan logat Inggris yang sangat cerdas dan berbakat menjadi dokter; Ragen, seorang komunis ateis yang mampu berbahasa Serbo-Kroasia, menguasai berbagai macam beladiri dan ahli senjata; Allen, jago main drum dan melukis potret wajah; Tommy, ahli melepaskan diri dari segala macam kunci; Danny, anak 14 tahun yang selalu ketakutan;dan  Adalana, seorang lesbian yang selalu kesepian yang merupakan sebagian tokoh kepribadian yang bersemayam di dalam tubuh Billy Milligan.

Buku yang diangkat dari kisah nyata ini bermula saat Billy Milligan ditahan atas tuduhan tindak perampokan bersenjata, dan pemerkosaan di kampus Ohio State University. Berdasarkan saksi para korban akhirnya polisi setempat berhasil menangkap pelakunya. Dalam proses persiapan persidangan, pengacara yang ditugasi membela Billy menemukan bahwa Billy Milligan memiliki kepribadian majemuk dan beberapa dari kepribadian tersebut melakukan kejahatan kriminal tanpa diketahui oleh pribadi lainnya. Dengan alasan inilah para pengacaranya berusaha membebaskan Billy dari segala tuduhan dengan dalih ketidakwarasan akibat kepribadian majemuk. Billy yang kemudian dibebaskan dari segala tuduhan, akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa melalui pengawasan Dr. Caul. Dalam masa perawatannya, 24 kepribadian Billy satu persatu mulai muncul.

Novel hasil tulisan Daniel Keyes yang memiliki judul asli The Minds of Billy – terbit pertama kali 1982 di New York, AS. Novel ini mampu menghadirkan sebuah kisah nyata yang dapat mengejutkan dan menguras emosi. Keyes mampu membuat cerita lebih hidup dengan memaparkannya dalam bentuk flashback (kilas balik) dengan bahasa yang lugas dan cermat. Alur cerita yang pada awalnya agak menggantung dan penuh teka-teki lambat laun menjadi semakin mengalir dan berjalan mulus dengan serita yang lebih kompleks dan lebih filmis yang membuat kita seperti membaca sebuah novel fiksi. Kelemahan novel ini terdapat pada penggunaan beberapa kata yang tidak baku dalam dialog sehingga mengurangi kekuatan tokohnya. Selain itu akhir ceritanya menggantung, tidak seperti kebanyakan novel pada umumnya.

sumber : http://arifabdurahman.com/2013/01/29/24-wajah-billy-dan-hasrat-untuk-berkecimpung-di-kesehatan-jiwa/

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik untuk dinikmati. Sebuah perpaduan antara cerita misteri psikologi dan drama yang sangat menggugah perasaan. Buku ini dapat menjelaskan secara mendetail tentang kepribadian majemuk yang berada pada diri sang subjek. Dan juga penulis mengemasnya dengan cara yang khas sehingga buku ini seakan-akan menarik pembaca untuk dapat merasakan apa yang subjek rasakan. Hal itulah yang membuat buku ini menarik sekali untuk dibaca.

Novel garapan Daniel Keyes ini menghadirkan sebuah realitas nyata manusia yang selama ini masih menjadi misteri. Adalah Billy yang membuka mata dunia,  terasa dekat dengan kita bukan karena dia seorang pahlawan, tapi karena dia hanya manusia yang “berbeda” namun bisa gembira, kecewa, atau sedih bahkan frustasi hingga berulang kali mencoba bunuh diri.

Hasil karya Daniel Keyes ini dapat menghadirkan sebuah realitas kehidupan nyata manusia yang dapat dimaknai dengan berbeda, tergantung dari mana sudut pandang si pembaca melihat. Billy terasa sangat dekat dengan kita karena ia bukan seorang pahlawan yang selalu benar dan menang. Ia hanya manusia yang bisa gembira, kecewa, atau sedih bahkan sedemikian frustrasinya hingga berulang kali berupaya bunuh diri,bahkan ketika sekalipun yang berada di tempat utama adalah Arthur yang sangat rasional dan menganggap bunuh diri adalah perbuatan tolol. Persis seperti pepatah, life is stranger than fiction, kehidupan nyata lebih aneh dari cerita fiksi. Demikian yang tergambar dalam novel ini. Tema tentang diri memang tak akan ada habisnya, tanpa titik, hanya koma.

 

Leave a comment