Rosha Asthari

“Nanti juga tiba saatnya. Bertahan sampai bisa.

 Sampai tiba kita, terbiasa biasa.”

Pijar, Medan. Sebuah amplop kecil berwarna oranye terang akan didapati begitu membuka cover buku yang didominasi dengan warna biru dan putih ini. Tertera sebuah tujuan nama, ‘Untuk: Awan (2047)’, di depannya. Isi nya adalah pesan yang tercatat pada tanggal 31 Desember 2018.

“Awan, katanya ‘kamu terlalu banyak bercanda’. Mereka benar… Tapi bisa lewati masa sulit dengan jenaka. Rasanya, kamu bukan orang biasa.” tulis Awan saat itu untuk dirinya di masa depan.

Sosoknya yang ‘gampangan’ menghadapi situasi getir, dan jarang memperlihatkan kesedihan membuat mereka-mereka yang melihat Awan, mengecapnya ‘terlalu banyak bercanda’. Padahal Awan juga punya masalah. Nafasnya sering diam-diam menderu menahan amarah. Jelas ada saat di mana ia muak dan ingin mengamuk saja pada semesta. Ia pula, punya ingin yang harus diredam agar tidak ada angan raga lain yang berduka.  Seperti manusia selayaknya.

Awan hanya menyimpannya. Persis, seperti kita. Menginjak usia 18 tahun, Awan memutuskan untuk mulai mengenal dan menerima sisi gelap kehidupan. Perasaan-perasaan negatifnya diluapkan oleh jemari yang memeluk erat pena di atas kertas, walau akhirnya berujung berubah bentuk karena setelah itu diremuk sekuat tenaga. Bola-bola ini kemudian ditumpuk di dalam kotak kayu dan dikubur di halaman belakang rumah.

Tidak seperti amplop kecil sebelumnya, kertas-kertas ini tidak dikirimkan Awan. Karena bukan kemarahan yang ingin ia wariskan ke masa depan.

“Kita sedih, kita marah, kita takut. tapi, kita simpan.” (Fotografer: Rosha Astari)

Karakter Awan disini, tak lain dan tak bukan adalah Awan yang sama pada buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, yang dirilis oleh pengarang kawakan, Marchella FP. Jika ratusan halaman NKCTHI ditulis akan pengharapan, kabar baik di masa depan, dan janji akan hangatnya sebuah dekapan. Pada KTBB, ratusan lainnya menggambarkan sisi yin dari yin yang kehidupan.

Buku ini berisikan tumpahan hari-hari mendung saat perasaan Awan terikat cuaca dan terikut suasana. Beberapa halaman terpenuhi oleh untaian kata, beberapa lainnya cukup dua-tiga kalimat saja. Begitu pun semuanya tidak ada yang missed, selalu tepat sasaran. Potongan gambar-gambar yang dipilih pun mewakilkan yang ingin disampaikan dengan pas.

Pembahasannya tidak hanya satu, bahkan cenderung terkesan abstrak. Tidak dapat diketahui dengan jelas yang dirasakan Awan saat itu, hanyalah umpan di permukaan laut emosinya. Tapi alih-alih tak dalam, justru menarik pembaca masuk ke dalam momennya sendiri dan berdalih, “ah.. iya… benar sekali” sembari membalik satu lagi lembaran terdalam jiwa Awan.

Melaju ke masa depan, ternyata tenang tidak kunjung tiba dalam 10 tahun terakhir hidupnya. Semua tidak baik-baik saja. Bercanda nyatanya hanya defence mechanism menghadapi realitas, sebuah solusi sementara. Memang, marah pun tidak akan membuat jalan cerita berubah. Tapi lukanya tak kering jua walau gumpalan kertas sudah jauh tertimbun dalam tanah.

Awan lalu kembali ke halaman rumahnya lagi. Tidak hanya kertas-kertas putih yang digali, tapi ikut pula rasa sedih, amarah yang membuat tersakiti, dan banyak ego yang mengoyak diri. Tidak, tidak untuk memperbaiki. Hanya untuk, akhirnya, dihadapi. Mempersiapkan hatinya agar berani bertarung gelap demi terang esok hari.

Buku Kamu Terlalu Banyak Bercanda menjadi catatan bagi setiap pembacanya. Sebuah pengingat bahwa masing-masing dari kita selalu punya cerita di balik tawa yang tersungging. Bahwa hidup tidak selalu dipenuhi pelangi, kupu-kupu, dan mentari. Bahwa selalu ada dua sisi koin dan tak perlu malu ataupun takut untuk menggenggam keduanya.

Persis, seperti Awan.

Di halaman akhir buku ini, Marchella lalu memberikan sebuah dedikasi spesial,

 “Untuk semua teman yang sedang berproses. Berdamai dengan sisi manusiawi dari sisi gelap manusia.” apresiasi nya.

Semoga kita masih punya waktu bercanda,

Di tengah repotnya hidup kita.

(Editor: Lolita Wardah)

Leave a comment