Hits: 20
Alfi Rahmat Faisal
Pijar, Medan. “A football team is like a beautifull woman. When you do not tell her, she forget she is beautifull.”-Arsene Wenger–
Ungkapan pelatih salah satu klub Premier League ini agaknya meneguhkan keindahan olahraga yang satu ini. Ya, sepakbola. Euforia sepakbola telah menyebar ke setiap lapisan masyarakat. Tak peduli anak-anak, orang tua maupun lansia. Jika berbicara masalah sepakbola tentu tak ada habisnya. Mulai dari para pemain, pelatih sampai klub sepakbola itu sendiri. Dari sederet klub sepakbola mentereng di seluruh benua, beberapa klub mempunyai kisah dan cerita tersendiri. Salah satunya adalah Barcelona.
Bagi penggemar si kulit bundar tentu tak asing lagi dengan klub yang satu ini. Klub asal Catalan ini telah banyak mengukir prestasi di sepanjang sejarahnya. Sederet trofi bergengsi adalah buktinya. Diantaranya La Liga, Copa Del Rey, piala dunia antar klub dan tentu saja trofi paling bergengsi sejagat, Liga Champions. Selain itu pemain-pemain mentereng pun banyak yang telah malang melintang di klub ini. Seperti Luis Figo, Romario, Ronaldo Da Lima, Ronaldinho, Maradona dan pemain terbaik dunia 4 kali bertutur-turut Lionel Messi. Klub ini juga pernah mengalami masa keemasan dengan meraih 14 trofi berturut-turut di bawah asuhan Pep Guardiola. Begitupun akademi yang dibangunnya La Masia, yang telah menghasilkan pemain-pemain hebat sekaliber Lionel Messi, Cesc Fabregas, Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez. Namun dibalik sederet prestasi cemerlangnya tidak banyak yang tahu Barcelona punya sejarah kelam.
Klub ini berdiri pada 29 November 1899. Adalah dia Joan Gamper, seorang bangsawan Swiss yang datang ke Spanyol untuk urusan bisnis yang jatuh cinta pada sepakbola dan Spanyol. Melalui prakarsa Joan bersama 11 orang lainnya klub dengan nama Barcelona ini terbentuk. Nama Barcelona sendiri diambil dari nama ibukota Catalonia. Barcelona merupakan salah satu provinsi tertua di Spanyol dengan jumlah penduduk lebih dari 7 juta jiwa. Catalonia adalah sebuah provinsi yang dulu kala dalam sejarahnya termasuk kedalam kerajaan Aragorn, sebuah kerajaan yang tidak terikat oleh kerajaan Spanyol. Maka dari itu, mereka mempunyai budaya dan bahasa yang berbeda dari bangsa Castilan atau Spanyol. Singkat cerita pada akhirnya Catalonia takluk juga oleh kuatnya dinasti kerajaan Spanyol. Namun sebagian besar bangsa Catalan tetap tidak terima dan membangkang terhadap raja. Mereka merasa tidak menjadi bagian dari kerajaan Spanyol dan menjadi pemberontak. Sejarah inilah yang melatarbelakangi gerakan separatisme pada bangsa Catalan bahkan sampai saat ini.
Perjalanan sejarah tidak hanya sampai disitu saja, hubungan Catalan dan kerajaan Spanyol terus meruncing hingga perang saudara antara 1936-1939 yang menyebabkan Raja Spanyol Alfonso XIII turun tahta dan dibuang ke pengasingan. Lalu muncullah pemerintahan baru yang dikuasai kaum Republikan. Tapi masalah tidak selesai sampai disitu, justru kudeta inilah yang menjadi awal sejarah kelam negeri Spanyol. Kaum Nasionalis dan pro kerajaan yang tergulingkan bersembunyi dan menyusun kembali kekuatan mereka. Dalam masa berkuasanya kaum Republikan, mereka melakukan kesalahan fatal dengan membubarkan pasukan militer karena dianggap warisan dari kerajaan yang telah mereka runtuhkan. Hingga terjadilah pemberontakan yang berhasil dimenangkan oleh kaum Nasionalis yang bergabung dengan militer dibawah pimpinan Jenderal Fransisco Franco yang kemudian berkuasa.
Di bawah rezim Franco, publik Catalan benar-benar memasuki masa kelam. Ia melarang penggunaan bendera dan bahasa daerah Catalan. Barcelona kemudian menjadi tempat dimana orang-orang Catalan dapat berkumpul dan berbicara dengan bahasa daerah mereka. Hal ini membuat Franco geram. Josep Suol, Presiden Barcelona waktu itu, dibunuh oleh pihak militer dan sebuah bom dijatuhkan di FC Barcelona Social Club pada tahun 1938.
Permasalahan politik ini kian rumit hingga memasuki ranah sepakbola. Ya, El classico. Siapa yang tidak tahu rivalitas dua klub besar dunia Barcelona dan Real Madrid. Seteru abadi yang selalu menyuguhkan atmosfer panas di setiap laga. Barcelona FC dianggap cerminan dari dendam ‘pemberontakan’ dan perjuangan sosial-politik kaum tertindas, terpinggirkan, terjajah di sebuah wilayah kekuasaan yang bernama kerajaan Spanyol.
Di lapangan sepakbola, titik nadir permusuhan ini terjadi pada tahun 1941 dalam sebuah laga El classico. Saat itu Barcelona mendapat tekanan yang sangat hebat, dengan dipaksa mengalah dibawah ancaman Franco. Pengawal Jendral Franco masuk ke ruang ganti dan mengancam para pemain Barca. Pengawal mengatakan membawa bola ke daerah pertahanan Madrid dapat dianggap sebuah tindakan tidak patriot kepada Franco. Pada laga itu Barca menerima kekalahan telak 11-1. Namun ada hal yang menarik dalam laga tersebut, satu-satunya gol yang dicetak Barca merupakan sebuah simbol perlawanan yang ditujukan kepada rezim Franco. Barca bisa saja menang pada laga tersebut, namun saat itu mereka berada dalam tekanan penguasa. Satu gol lebih dari cukup mewakili perlawanan mereka dan seluruh bangsa Catalan. Sesuai dengan slogan mereka “Mes Que Un Club”, lebih dari sebuah klub.


