Rizka Aulia Maghfira

Sebuah mobil berhenti didepan rumahku. Aku heran, mengapa dimalam yang selarut ini masih ada saja yang bertamu kerumahku? Keluarga kami bukanlah keluarga besar, hanya terdiri dari satu ayah dan ibu, aku sebagai anak sulung, dan adik laki-lakiku sebagai anak bungsu. Lalu siapakah dia? Yang mengendarai mobil itu?

Setahuku teman-teman ayah dan ibu tidak ada yang menggunakan mobil merk Xinon itu. Teman-teman ayah kebanyakan adalah orang-orang yang sederhana, yang lebih senang mengendarai sepeda motor ataupun sepeda sebagai alat transportasinya. Ibu tidak bekerja. Rekannya diluar sana bisa dihitung jari. Ibu hanya berteman dengan tetangga kami. Sebagai teman arisan dan juga pengajian. Untuk apa teman-teman ibu datang dimalam yang selarut ini? Pakai mobil pula.

Dan adikku, Bagas, adalah seorang ABG berumur 13 tahun yang baru saja mahir mengendarai sepeda motor tua ayah. Mungkinkah itu temannya? Apa mungkin anak berumur 13 tahun mengendarai mobil dimalam yang selarut ini? Rasanya tidak. Kalaupun memungkinkan, mereka pasti bersama orangtuanya. Tapi untuk apa datang selarut ini?

Dan aku adalah gadis remaja berumur 17 tahun yang kuper dan lebih memilih menulis dan membaca disudut perpustakaan daripada berteman dengan orang-orang bermobil seperti itu. Teman baikku hanya ada dua, Bona dan Desy. Keduanya sangat sederhana. Bona hanya mengendarai sepeda motor butut peninggalan kakeknya dan Desy hanya mengendarai sebuah sepeda antik pemberian ibunya.

Mesin mobil dimatikan. Aku masih mengintip lewat jendela kamarku yang menghadap kedepan rumah. Seorang pria berjas dan berkacamata turun dari mobil. Walaupun sudah selarut ini, rambutnya masih rapi disisir kebelakang. Lelaki itu berwajah ramah dan teduh. Sedikit ketakutanku akan hal-hal buruk mulai menghilang.

Aku mengamati lelaki itu. Ia mulai memasuki pekarangan rumahku yang penuh dengan bunga dan pohon. Ibuku suka menanam dan ayahku suka kehijauan. Perpaduan yang pas. Lelaki itu mengetuk pintu rumahku dan mengucapkan salam. Aku membalas salam dalam hati. Aku terlalu takut untuk membukakan pintu rumah untuk seseorang yang asing bagiku.

Kudengar suara pintu kamar ayah terbuka. Aku menghela nafas lega. Ayah belum tidur. Aku mendengar suara pintu depan dibuka dan percakapan singkat pun terjadi.

“Maaf, Pak, mengganggu malam-malam. Apakah benar ini rumahnya Rizkya?” tanya lelaki itu kepada ayahku.

“Ya, benar. Anda siapa ya?”

“Oh, maaf Pak, perkenalkan nama saya Ardian Syahputra. Saya redaktur dari koran Sejahtera. Kemarin Rizkya mengirimkan karya tulisnya ke kantor kami. Dan saya tertarik untuk mengajaknya bekerja dengan kami.”

“Oh begitu. Tapi mengapa Anda datang kerumah saya selarut ini?” nada bicara ayah mulai curiga. Ayah selalu begitu. Sangat teliti dengan segala hal yang berhubungan dengan dirinya.

“Begini, Pak. Tadi sore kami baru saja mengadakan rapat besar. Saya mengajukan nama Rizkya sebagai penulis cerita fiktif di koran kami. Terjadi perdebatan yang cukup serius pada saat rapat tadi. Hal tersebut dikarenakan umur Rizkya yang masih belia dan ia belum memiliki jam terbang sama sekali. Namun saya meyakinkan mereka dengan menunjukkan hasil karya Rizkya kepada mereka. Setelah perundingan yang cukup alot, akhirnya mereka setuju saya merekrut Rizkya. Maka dari itu, saya baru bisa datang kesini selarut ini karena besok atasan saya ingin bertemu dengan Rizkya, Pak,” jelas lelaki bernama Ardian itu dengan nada yang sopan. Sama sekali tidak terganggu dengan nada curiga yang ayah lontarkan tadi.

Ayah mengangguk-angguk. Ia mulai memegangi jenggotnya yang agak panjang. Bertanda sedang berpikir.

“Baiklah, besok Rizkya dan saya akan kesana. Pukul berapa atasan anda ingin bertemu dengan Rizkya?” tanya ayah.

“Pukul 09.00 WIB, Pak,” jawab Ardian. Ayah mengiyakan dan lelaki itu pamit pulang. Ayah menutup pintu. Kudengar suara langkah kaki ayah mendekati kamarku.

Ayah masuk. Menceritakan semua yang sudah kudengar sebelumnya. Ayah mengizinkan aku bekerja. Sebagai penambah uang saku. Dan ayah berjanji akan menemaniku esok hari. Ayah mencium keningku. Mengucapkan salam dan keluar dari kamar.

Aku tersenyum. Impianku menjadi penulis semakin dekat. Dan tentu saja aku sangat senang karena ayah mengizinkan aku untuk terus berjalan sesuai dengan kemampuanku, kegemaranku. Aku bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku.

Leave a comment