Hits: 47

Richard Berry Ginting sedang memegang kaosnya | Foto : Be Fame Publisher

Medan, Pijar. Richard Berry Ginting, pria ini tidak pernah bermimpi menjadi PNS. Suatu hari saat  iseng-iseng mengisi waktu luang dan berkat dukungan dari orangtua ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti seleksi CPNS. Setelah lulus, pekerjaannya sebagai PNS tidak menghalanginya untuk menggeluti bidang yang ia minati, yaitu fotografi.

Kecintaannya pada seni dan budaya pulalah yang mengantarkan Richard kepada sebuah mega proyek yang tidak jauh dari nuansa seni. Saat ini Richard dan beberapa orang rekannya sedang mengerjakan bisnis clothing Batik Gorga yang dinamai Moro-Moro. Awalnya ide ini muncul berkat kecintaan mereka terhadap Danau Toba dan sekitarnya, khususnya Tuk-Tuk yang merupakan pusat konsentrasi turis di Pulau Samosir. Walaupun Richard bukan seorang Batak Toba, namun dia sangat mengagumi warisan budaya Batak Toba.

Salah satunya yaitu, kekaguman Richard terhadap “Gorga”. Gorga merupakan ukiran atau pahatan pada bagian luar rumah adat Batak Toba. Gorga bagi suku Batak Toba merupakan ornamen yang dipercaya dapat menolak bala. Gorga biasanya hanya menggunakan tiga macam warna, yaitu merah, putih dan hitam.  Ceritanya, karena pada zaman dahulu manusia masih menemukan warna secara alami, jadi warna yang didapat juga masih terbatas.

Keunikan dan kerumitan ukiran Gorga ini ‘menggelitik’ bakat seni yang dimilikinya. Pria humoris ini pun kemudian tertarik untuk mengaplikasikan Gorga menjadi corak pada kaos. Mengapa harus kaos? Alasan mereka adalah karena sebagian besar turis yang mengunjungi Danau Toba dan sekitarnya tertarik membeli cendera mata berupa kaos, agar mereka bisa menggunakannya saat travelling. Dalam bisnis clothing ini mereka tidak main-main. Pemilihan kualitas kain juga sangat mereka pertimbangkan.

Sesuai dengan warna ukiran Gorga yang terdiri atas tiga warna merah, hitam dan putih, batik Gorga ini pun demikian. Menurut Richard, justru disitulah letak keunikannya. Hanya tiga warna, namun dapat menghasilkan corak yang indah dan menarik. Berkat keterampilannya mendesain, batik Gorga ini dapat tercipta dengan berbagai desain yang berbeda-beda. Satu desain hanya untuk lima kaos, jadi jumlahnya unlimited atau terbatas.

Namun, tidak tertutup kemungkinan juga mereka akan merambah mengaplikasikannya dalam bentuk bentuk lain. Karena rencananya, pria yang gemar membaca novel klasik ini beserta teman-temannya juga akan hadir dengan “Dilehon.” Dilehon berasal dari bahasa Batak Toba yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah diberikan. Hampir sama dengan Moro-Moro, hanya saja proyek ini lebih menekankan corak pada gaun atau pakaian wanita. Dalam pengerjaan proyek ini mereka melibatkan para pengukir Gorga di desa Garoga, Pulau Samosir.

Biasanya, para pengrajin ini mengukir, memahat atau melukis Gorga untuk dijadikan hiasan pada bagian luar rumah adat Batak Toba. Dan mereka sama sekali belum pernah melukis pada kain. Jadi, untuk membiasakan mereka melukis pada kain menggunakan canting, Richard dan teman-temannya memberikan pelatihan pada para pengrajin Gorga ini. Jadi, mereka juga memberdayakan para pengrajin Gorga di Desa Garoga ini.

Filosofi arti kata “moro-moro” sendiri menurut Richard Berry diambil dari bahasa Finlandia yang artinya “horas” dalam bahasa Batak. Pemilihan arti kata ini karena mereka melihat sebagian besar turis dari Finlandia sangat mencintai Tuk-Tuk dan bahkan menganggap Pulau Samosir sebagai Negara kedua mereka.

Target pasar yang utama dari Moro-Moro ini adalah turis dari manca Negara yang berkunjung ke Tuk-Tuk di Pulau Samosir, adventurer dan anak muda. Seusuai dengan tema yang diangkat dari Moro-Moro, yaitu bohemian dan ethnic. Bohemian lebih kepada gaya gypsi dan ethnic lebih kepada budaya. Pria kelahiran 14 Oktober 1983 ini pun dipercayakan rekan satu timnya untuk mendesain dan mengelola blog serta mendesain kaos Moro-Moro Toba.

Impian Richard Berry dan teman-temannya yang lain yaitu membuka taman baca di Desa Garoga. Ini berkat kepedulian mereka terhadap anak-anak yang memiliki minat baca yang besar, namun tidak memiliki bahan bacaan yang bermutu atau bahkan tidak ada sama sekali. Sejauh ini pengumpulan buku-buku dari berbagai donatur sedang berjalan. Mereka sekarang sedang meninjau lokasi yang mana yang tepat untuk tempat membangun taman baca di Desa Garoga.

Sejauh ini respon yang diterima moro-moro dari para turis cenderung positif. Desain batik Gorganya yang unik, jenis kain yang digunakan juga turut mendukung kesuksesan Moro-Moro. Impian terbesar Richard adalah mengangkat Gorga menjadi salah satu ikon untuk menjaring wisatawan dan menjadikan Tuk-Tuk sebagai salah satu destinasi wisata yang utama. Dan apabila ada kesempatan, Richard masih akan terus berkreasi dengan mengangkat ukiran-ukiran dari suku lain yang sangat beragam di Indonesia.

Penulis : Be Fame Publisher

Leave a comment