Taman Buaya Asam Kumbang Semakin Sulit Bertahan

Hits: 14

Di tengah beragamnya pilihan objek pelancongan, Taman Buaya Asam Kumbang bertahan dengan cirinya sendiri.

Pijar, Medan– Dewasa ini, banyak keluarga di perkotaan sering menghabiskan akhir pekan dan hari libur mereka di mall atau tempat perbelanjaan mewah lainnya. Rasa modern objek cuci mata itu seolah-olah mengalahkan pusat-pusat wisata daerah yang nyata sepi. Ia mulai terlupakan. Taman Buaya Asam Kumbang Medan adalah salah satunya yang hingga saat ini tengah bersusah payah mempertahankan keberadaannya. Taman Buaya yang konon merupakan salah satu taman buaya terbesar di dunia ini beralamat di Jalan Bunga raya Kecamatan Medan Selayang No.59, Desa Asam Kumbang. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari pusat kota Medan, setidaknya menghilang ketika mencapai taman wisata yang pernah mendapatkan penghargaan perintis lingkungan dari pemerintah kota Medan.

Beranda bangunan yang berisi beberapa penghargaan dan senyum hangat Lim Hui Cu menyapa kami tatkala kami hendak memasuki areal wisata. Letaknya yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan lingkungan yang masih asri seakan membayar jauhnya perjalanan untuk mencapai taman wisata ini. Sampai sekarang taman buaya yang didirikan oleh Lo Than Muk pada tahun 1959 ini, mempunyai buaya berjenis muara sebanyak 2000 ekor. Berbeda jauh mengingat pada tahun 1998 buaya di taman wisata ini pernah mencapai 3000 ekor. Penyebabnya antara lain kurangnya perhatian dari Pemerintah Kota Medan.

“Dari dulu dukungan pemerintah sangatlah kurang terhadap taman buaya ini. Dukungan pemerintah kota Medan sekadar perawatan taman, pemasangan pagar dan yang terakhir pemberian conblock. Sampai saat ini pun kami tetap berusaha mempertahankan taman buaya ini melalui pemasukan dari tiket, tetapi seperti yang anda lihat sendiri, hal itu tidak dapat menutupi perawatan taman buaya ini, sehingga banyak buaya yang mati. Ya saya harap Pemko Medan semakin memperhatikan kondisi ini,“ ujar Lim Hui Cu sang pemilik.

Jenis buaya yang terdapat di taman ini adalah buaya muara (Crocodilus porosus) dan juga jenis buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) yang mempunyai kisaran umur 10 tahun. Yang paling besar dan tua adalah buaya berumur hampir 50 tahun. Masing-masing buaya tersebut ditempatkan di kandang-kandang disesuaikan umur buaya.Beberapa buaya yang cukup dewasa bahkan dilepas di sebuah danau, layaknya hidup di alam liar di lahan  seluas hampir dua hektar ini.

Menurut pengakuan Lim Hui Chu istri Lo Than Muk di awal pendirian jumlah buaya di taman ini hanya 12 buaya muara yang kebanyakan ditangkap di berbagai sungai di Kalimantan. Selanjutnya Lo Than Muk mulai mengembangbiakkan buaya, karena melihat adanya peluang bisnis.

Menurut sejumlah pengunjung taman buaya ini terkesan kurang terawat, hingga terasa tidak nyaman. David misalnya berpendapat kurangnya perawatan di sana-sini membuat taman ini banyak mendapat citra buruk dari para pengunjung.

Taman Buaya Asam Kumbang sesungguhnya dapat dioptimalkan oleh Pemko Medan untuk menggenjot perekonomian daerah. Selain itu objek wisata yang dirawat dengan baik mampu mendukung kesuksesan terselenggaranya Visit Medan Years 2012. Tanpa itu Medan akan terlihat biasa-biasa saja. [yi, hdn]

Leave a comment