Hits: 28Rizha Ananda Aku masih terdiam membisu. Sudah dua menit, sudah. Mungkin. Bukan tak ingin membalas perkataannya, tetapi aku hanya…
Suara favorit para siswa itu terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Dengan semangat, mereka berhamburan keluar kelas menuju tujuannya masing-masing. Ya, aku tahu rasanya belajar selama kurang lebih 7 jam, sangat melelahkan. Apalagi jika dilanjutkan dengan kegiatan organisasi, badan yang lelah, dan rasa bertanggung jawab pun berdebat untuk dituruti kemauannya.
Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Mencari titik terang di dalam kegelapanku saat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Lalu seketika terlintas di benakku, apakah aku harus melepaskan semua kebahagiaan dan kenyamanan yang pernah ku dapat dan kurasakan? Pertanyaan dalam diriku yang terus menerus menjadi bebanku. Tidak kutemukan jawaban dalam diriku dengan keadaanku.
Sebelum hari itu
Mereka yang masih tertawa
Mereka yang masih ceria
Mereka yang tak pernah menduga
Sebulan setahun bahkan seratus tahun
Aku selalu menunggu
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Menunggu suatu harapan darimu
Menunggu sesuatu yang tak akan pernah terwujud
Selangkahku.
Harus aku yang mati?
Atau kau biarkan aku dalam keadaan sungguh-sungguh sekarat?
Aku pria 3 dimensi tanpa mimpi,
Yang kukejar kenapa selalu sekadar eksistensi?
Aku ingin pergi, berlalu dan tenggelam. Tapi sungguh, aku lupa segalanya. Aku lupa bagaimana cara mengakhiri canduku kepada senja. Senja.. tak pedulikah kau dengan kerinduanku ini?
Dibawah puluhan bintang malam ini, aku mengingat begitu banyak memori indah bersama sahabatku Risa. Ia sahabat yang begitu amat pengertian dan sabar dalam menghadapi segala hal dan situasi. Bersamanya, aku sosok yang sangat mudah panik ini selalu merasa nyaman.
