Hits: 115
M. Malikul Saleh Azhari / Kiki Nabila Tusu
Pijar, Medan. Kamu pernah tidak merasakan sesuatu yang ada di batas kata “hampir”? Brian Khrisna, seorang penulis muda Indonesia yang dikenal lewat karya-karyanya, menulis sebuah buku berjudul The Book of Almost. Buku ini berisi kumpulan sajak-sajak pendek mengenai cinta, kehilangan, serta segala sesuatu yang hampir.
Meskipun ditulis dalam bahasa yang puitis dan penuh perumpamaan, The Book of Almost bukanlah buku yang sulit dipahami. Justru sebaliknya, buku ini ditulis dengan gaya yang hangat, jujur, dan dekat dengan pengalaman banyak orang. Brian menulis dengan ritme yang halus, tanpa kehilangan makna, sehingga setiap bait yang dituliskan terasa dekat dan mudah dicerna, bahkan oleh pembaca yang tidak terbiasa dengan bacaan puitis. Hal inilah yang membuat buku The Book of Almost begitu menarik.
Buku The Book of Almost mengajak para pembaca untuk menelusuri ruang antara keberhasilan dan kegagalan, antara cinta yang sempat tumbuh dan hubungan yang tidak pernah tercapai. Setiap sajak yang tertulis di dalamnya, seolah mewakili perasaan yang pernah singgah di hati siapa pun, rasa rindu yang belum terucap, pertemuan yang terlambat, dan kenangan yang masih menggantung di ujung kalimat. Dalam setiap kata “hampir”, ada kesedihan yang melanda, tetapi juga keindahan yang menenangkan.
Daya tarik lain dari buku The Book of Almost adalah ketika Brian memadukan gaya tutur lembut dengan tema-tema emosional yang sesuai (relate) dengan pengalaman pembaca. Ia tidak hanya menulis tentang cinta yang indah, tetapi juga tentang kehilangan yang pahit, kerinduan yang tidak terbalas, dan keberanian untuk melepaskan. Setiap halaman yang dituliskan terasa seperti percakapan pribadi antara penulis dan pembacanya.
Dalam sampul dari buku The Book of Almost, Brian menulis sebuah kutipan,
“Tak ada yang lebih menyakitkan dalam jatuh cinta, kecuali kata hampir.”
Kalimat sederhana ini menggambarkan betapa kuatnya rasa hampir yang menjadi pusat dari keseluruhan buku. Kata hampir di sini bukan hanya tentang kegagalan, melainkan tentang momen-momen kecil yang tidak sempat menjadi pernah. Dengan pendekatan ini, The Book of Almost tidak hanya berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang penerimaan bahwa tidak semua yang hampir harus disesali.
The Book of Almost adalah buku yang bisa menyentuh sisi perasaan terdalam dari setiap pembacanya. Buku ini tidak hanya menghadirkan keindahan kata-kata, tetapi juga mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang cinta, kehilangan, serta keberanian untuk terus melangkah setelah semua itu.
Membaca buku ini terasa seperti bercermin dan melihat diri sendiri, bukan sekadar menyadari luka yang pernah ada, tetapi juga belajar bagaimana berdamai dengan masa lalu. Di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tekanan, karya Brian Khrisna ini mengingatkan kita bahwa ada ketenangan dalam keheningan dan ada makna berharga di balik kata hampir. Segala sesuatu yang hampir tidak berarti akan berakhir buruk.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

