Hits: 164
Gunawan / Shafna Jonanda Soefit Pane
Pijar, Medan. Beberapa buku diterbitkan, dibaca, lalu perlahan terlupakan. Namun, ada pula yang tetap berbekas di pikiran pembaca hingga bertahun-tahun lamanya. Tulisan Sastra karya Tenderlova adalah salah satunya. Sejak pertama kali terbit di bawah naungan LovRinz Publishing pada tahun 2020, novel ini tak hanya menarik hati pembaca, tetapi begitu membekas hingga terus terkenang dan masih kerap muncul sebagai perbincangan di media sosial hingga saat ini.
Tenderlova, sang penulis, bukan nama asing di dunia literasi daring. Sebelum Tulisan Sastra, ia telah dikenal melalui sejumlah karya yang berawal dari platform Wattpad hingga kemudian menjelma menjadi buku fisik. Namanya semakin diperbincangkan setelah Tulisan Sastra meraih banyak perhatian dari pembaca muda hingga akhirnya dijadikan bahan penelitian akademis di berbagai kampus. Dalam beberapa jurnal, Tulisan Sastra dikaji dari sisi nilai-nilai pendidikan dan aspek psikologis tokohnya. Artinya, karya ini bukan hanya populer di kalangan penggemar fiksi romantis, tapi juga diakui dalam dunia ilmiah.
Hal yang menarik, meski sudah lima tahun sejak perilisannya, Tulisan Sastra masih sering diperbincangkan. Kisah dan emosi di dalamnya terasa dekat dan manusiawi hingga pembaca dapat merasakan secara tidak langsung keadaan dan kejadian yang ada di dalam ceritanya, terasa nyata meski buku ini seratus persen fiksi.
Buku ini menampilkan perjalanan seorang tokoh muda bernama Sastra yang bergulat dengan impian, keluarga, dan cinta. Bahasanya ringan dan mengandung komedi, tetapi tetap meninggalkan kesan mendalam. Tidak ada yang berlebihan, semuanya terasa seperti potongan kehidupan yang bisa dialami siapa saja.
Andhika Sastra Gautama adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Lahir dari keluarga sederhana, tetapi begitu hangat dan harmonis dirasa. Berlimpah kasih sayang dan cinta, Sastra tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, disenangi dan disayangi semua orang dari berbagai kalangan usia. Dalam bukunya, Sastra tidak banyak bicara tentang dirinya. Namun uniknya, meski begitu, rasanya para pembaca dibuat begitu lekat dengan karakter dari anak tengah ini.
Kehadiran buku ini di dunia digital juga memberi napas panjang bagi kepopulerannya. Di TikTok, kutipan-kutipan dari Tulisan Sastra kerap berseliweran, dijadikan video singkat dengan penuh nuansa sendu atau reflektif. Salah satu komentar di Instagram bahkan menulis dengan bangga, “Gue beli yang cetakan pertama, (waktu) covernya masih biru.” Komentar sederhana itu seperti simbol bagaimana para pembaca punya ikatan emosional dengan buku ini. Bukan hanya membaca, mereka juga menyimpan kenangan bersamanya.
Dari beberapa sumber yang sempat memuat ulasannya, Tulisan Sastra disebut sebagai karya dengan bahasa yang cair dan jujur. Konfliknya tidak dibuat-buat, penuh keseharian, dan kadang terasa seperti potongan kisah hidup sendiri.
Meski setiap karakter dari keluarganya telah diceritakan satu persatu dalam buku-buku lainnya, karakter Sastra tetap ada dan terus diperbincangkan di dalamnya. Seolah Sastra adalah benang merah dari kisah setiap saudaranya. Walau raganya tidak tampak, tetapi setiap langkah para saudaranya bersandar pada Sastra. Nasihat darinya, bahkan percakapan ringan yang pernah terjadi selalu dikenang oleh setiap karakter di dalam buku tersebut. Kehilangannya adalah guncangan besar bagi orang sekitarnya.
Kini, berbagai ulasan di blog, situs sastra, dan portal media masih terus menyinggungnya, Tulisan Sastra terbukti bukan hanya sekadar tren sesaat. Ia menjadi cerminan bagaimana cerita yang jujur dan tulus bisa bertahan melampaui waktu. Dalam dunia sastra populer yang sering berganti arah, Tenderlova berhasil menunjukkan bahwa karya yang ditulis dari hati akan selalu menemukan tempatnya baik di rak buku, di linimasa, maupun di ingatan para pembaca yang pernah jatuh cinta pada ceritanya.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

