Hits: 951
Nurmala Sari/Novita Arum/Nadya Htg
Pijar, Medan. Saat mendengar kata sirih, banyak hal yang mungkin muncul di kepala sobat Pijar, seperti beragam manfaat kandungannya bagi tubuh manusia. Bisa saja untuk mengobati gangguan pencernaan, batuk, asma, menahan pendarahan, sembelit hingga bau tak sedap. Hal tersebut karena kandungan daun sirih mengandung minyak atsiri yang memiliki kemampuan membunuh bakteri sehingga dapat menghilangkan adanya infeksi. Zat lainnya seperti seskuiterpen, pati, diatase, gula, zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, juga antioksidasi dan fungisida sebagai anti jamur.
Bagian daun dari tanaman asli Indonesia ini, tentunya juga mengingatkan kita pada aktivitas “nyirih” yang fenomenal. Di Indonesia tradisi menyirih telah membudidaya dari Sabang hingga Merauke, bahkan masyarakatnya memberikan sapaan lain terhadap tanaman yang tumbuhnya bersandar pada batang pohon lain ini.
Komposisi menyirih umumnya berbeda di satu daerah dengan daerah lain atau satu suku dengan suku lain. Tetapi secara lumrah, bahan utama menyirih adalah daun sirih sebagai pembungkus satu paket isian yakni gambir, tembakau, kapur sirih dan buah pinang muda. Ada juga sebagian pelaku menggunakan tembakau dan menjadikannya sebagai sugi (tembakau yang dibulatkan dimasukan di antara atau di sela-sela gigi dan bibir). Biasanya menu paket “nyirih” menjadi sarapan di pagi hari. Kebiasaan “nyirih” pun berlanjut setelah makan, saat aktifitas padat dalam sehari-hari mereka dan menjelang tidur malam.
Mengapa Menyirih?

Fotografer : Nurmala sari
Adalah opung Buharim berusia 65 tahun, sirih pinang sudah menjadi kebutuhan pokok dan cenderung sulit untuk dilupakan baginya. Hampir pasti, setiap bangun pagi selama 15 tahun, setelah mencuci muka atau pun bahkan tidak sama sekali, Opung Buharim langsung meraih wadah penyimpan sirihnya. Selain sebagai ajang pengakraban sanak saudara, menurut opung, banyak dampak positif dari ritual “nyirih” bagi kekebalan tubuhnya yang sudah tua. Bagi Opung, paduan kenikmatan antara sirih, pinang dan gambir sepertinya sudah menjadi candu bagi orang-orang seusianya.
Kata opung, di tahun 2016 saat ini, sirih masih saja mampu bertahan dengan rasa yang khas dan tradisinya yang kuat. “Pasti masihlah ke depannya, ini sudah tradisi jadi bakalan terus ada sampek cucu seterusnya,” ujarnya ketika ditanyakan eksistensi menyirih.
Menariknya, pada masyarakat suku Karo, “nyirih” digunakan sebagai suguhan kehormatan untuk tamu-tamu yang dihormati atau pada upacara pertemuan dan pesta pernikahan. Bahkan menyirih menjadi budaya secara turun-temurun dan menjadi suatu menu andalan dalam setiap prosesi adat.
Bagi ruang lingkup Sumatera Utara sendiri, mengunyah sirih telah menjadi pelengkap berkomunikasi, gambaran keramahan dan penghormatan terhadap tamunnya. Sirih juga telah menjadi salah satu simbol budaya melayu, juga pergaula sosial masyarakat budaya Melayu. Hal tersebut mudah dilihat dari tradisi lisan Melayu yang kerap memunculkan perangkat sirih pinang sebagai metafora maupun pijakan membangun ajaran moral adat. Dilansir melaui melayuonline.com, sirih pinang kerap muncul dalam tunjuk ajar melayu, misalnya: Sirih pembuka pintu rumah / Sirih pembuka pintu hati / Yang jauh jadi dekat / Yang renggang kembali rapat.
Akibat Lain
Daun sirih memang memberikan banyak manfaat bagi tubuh. Mengunyah daun sirih dengan rutin juga sebenarnya dapat mencegah mulut dari aroma nafas yang tidak sedap. Daya anti bakteri pada daun sirih juga mampu mengurangi pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang. Daun sirih juga memiliki sifat mampu mengerutkan jaringan sehingga mampu mengencangkan gusi dan menghentikan pendarahan.
Namun ada akibat lain yang jarang diketahui masyarakat. Amiril M. Sir, drg selaku dokter gigi di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Sumatera Utara memaparkan, Dampak negatif ataupun kerugian yang bisa saja terjadi ini dikarenakan daun sirih memiliki efek mengerutkan jaringan, pada kondisi tertentu justru akan menyebabkan keringnya rongga mulut, sariawan dan juga mengerutnya papila lidah sehingga fungsi indera pengecap akan menurun.
Salah satu penelitian, Ko et al pada tahun 1995 membuktikan bahwa kebiasaan menyirih merupakan faktor utama terjadi kanker rongga mulut di Taiwan. Selain itu, kapur yang digunakan utuk menyirih dapat meningkatkan keasaman (pH) rongga mulut, sehingga memicu terbentuknya radikal bebas yang dapat merangsang pertumbuhan sel yang bersifat karsinogenik. Penggunaan tembakau ketika menyirih juga dapat meningkatkan resiko terjadi kanker. Menurut penelitian yang dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) terbukti bahwa menyirih dengan tembakau dapat meningkatkan risiko terjadi kanker rongga mulut. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti komposisi, frekeuensi dan lamanya pengunyahan saat menyirih.
Untuk itu sobat Pijar, jangan ragu mengingatkan orang-orang di sekitar kita terkait dampak negatif yang bisa saja terjadi, serta mengurangi frekuensi menyirih yang telah mendarah daging pada masyarakat Indonesia.

