Hits: 1
Dita Andriani
Judul : Why men don’t listen and women can’t read maps
Penulis : Allan dan Barbara Pease
Penerjemah : Isma B. Koesalamwardi
Penyunting : Noor Aida
Pewajah sampul : Expertoha studio
Pewajah isi : Ayah Navis
Penerbit : Tamaprinter Indonesia
Tebal : 405 Halaman
Pernahkah anda berpikir jika pria dan wanita sangatlah berbeda dalam segala hal?
“Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. Semetara bagi kaum pria, mereka mengira ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah permohonan untuk mendapatkan pemecahan masalahnya,” (Why men don’t listen and women can’t read maps hal.122).
“Why men don’t listen and women can’t read maps” buku ini menjelaskan kepada setiap wanita dan pria bagaimana semestinya mereka mengetahui diri mereka sendiri. Mengungkapkan perbedaan pikiran pria dan wanita agar sukses membina hubungan. Buku ini mengajarkan kita untuk tidak saling membenci perbedaan yang ada pada diri seorang pria maupun wanita. Hal-hal yang tidak kita sadari dapat ditemukan dalam buku ini. Hal sederhana yang tidak banyak orang mengetahuinya sebagai salah satu pemicu pertengkaran.
Hal yang sering kita sadari menyebabkan seorang wanita marah kepada pasangannya dikupas tuntas dalam buku ini. Seperti mengapa pria jarang sekali berbicara. Faktanya pria mengatakan hanya 2000-4000 kata dan 1000-2000 bunyi vokal, dan hanya membuat gerakan bahasa tubuh 2000-3000. Rata-rata hariannya menambahkan “kata-kata” komunikasinya sekitar 7000, jumlah itu hanya sepertiga dari “kata-kata” komunikasi wanita pada umumnya. Maka dari itu ketika pria merasa sudah menghabiskan seluruh kata-katanya dalam sehari ia akan lebih sering tidak berbicara. Buku ini mengupas tuntas bagaimana seharusnya wanita mengatasi perbedaan berbicara dengan pria.
Tidak hanya dalam hal berbicara, buku ini juga mengupas tuntas tentang pemikiran pria dan juga wanita. Dengan bahasa yang mudah dimengerti kita dapat mengetahui dengan jelas susunan demi susunan pikiran pria dan wanita. Semua yang di pikirkan pria tentang wanita tidak selamanya benar, begitu pun sebaliknya. Tetapi bagaimana cara kita memahami hal yang tidak sama menjadi satu kesatuan yang sama dan dapat diterima agar tidak terus terjadi pertengkaran.
Ketika menyimak wanita mengeluarkan 6 ekspresi yang berbeda setiap 10 detik ketika menyimak pembicaraan. Tetapi pada pria mereka hanya diam kaku seperti menggunakan topeng. Topeng tanpa perasaan yang digunakan pria ketika sedang menyimak membuat mereka merasa menguasai diri dan keadaan, tetapi bukan berarti pria tidak memiliki perasaan.
Tidak hanya itu saja perbedaan pria dan wanita yang dapat kita “curi” dari buku ini. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang terkadang kita abaikan dan membuat kita marah karena perbedaan tersebut. Seperti mengapa pria tidak dapat mengerjakan banyak hal sekaligus seperti wanita. Mengapa pria lebih lamban belajar eja dibandingkan dengan wanita. Mengapa pria bisa menetukan arah utara padahal mereka tidak tahu dimana mereka berada. Mengapa wanita senang curhat. Banyak pertanyaan yang akan muncul dalam benak pembaca karena terlintas pengalaman yang sesuai dengan yang tertulis di buku.
Membaca buku “Why men don’t listen and women can’t read maps” seperti menyelam dalam pikiran pria dan wanita. Membuat para pembaca semakin mengerti satu sama lain.

