Hits: 9
Yohana Gradela Evelin Silaban / Tamara Laisa Damanik
Pijar, Medan. Kasih sayang seorang ibu tidak selalu hadir dalam bentuk pelukan atau kata-kata manis. Terkadang, cinta justru terlihat dari setiap usaha yang dilakukannya untuk mempersiapkan orang yang dicintai agar tetap mampu menjalani kehidupan, bahkan ketika suatu hari ia tidak ada lagi berada di sisi kita.
Kehangatan dan pengorbanan itulah yang tergambar dalam film Ibu Bagaimana Aku Tanpa Mu?, sebuah drama keluarga yang mengajak penonton merenungkan kembali arti kehadiran seorang ibu dan betapa berharganya setiap waktu yang dapat dihabiskan bersama.
Diproduksi oleh Falcon Pictures, film Ibu Bagaimana Aku Tanpa Mu? resmi tayang pada 24 September 2026. Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini merupakan adaptasi dari drama Korea Selatan berjudul Wedding Dress yang dirilis pada 2010. Kisahnya berpusat pada cinta seorang ibu kepada putrinya yang tengah dihadapi kenyatan pahit bahwa waktu kebersamaan mereka tidak lama lagi.
Cerita bermula dengan kehidupan Stella, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai perancang gaun pengantin dan tinggal bersama putri semata wayangnya, Rere. Hari-hari mereka semula berjalan seperti keluarga kecil pada umumnya. Namun, keadaan berubah ketika Stella mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit serius. Kenyataan tersebut membuat Stella menyadari bahwa waktu yang dimilikinya bersama Rere mungkin tidak akan berlangsung selamanya.
Kesadaran bahwa waktu kebersamaannya dengan Rere terbatas membuat Stella mulai memikirkan masa depan putrinya.
Alih-alih hanya larut dalam ketakutan, Stella berusaha mengisi waktu yang tersisa dengan hal-hal berarti. Ia mengajarkan berbagai keterampilan kepada Rere agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri. Bagi Stella, persiapan tersebut bukan sekedar mengajarkan anaknya melakukan berbagai hal, melainkan bentuk kasih sayang agar Rere tetap mampu melangkah menghadapi kehidupan apapun yang akan terjadi di kemudian hari.
Tokoh Stella diperankan oleh Marsha Timothy, sementara Rere diperankan oleh Fara Shakila. Keduanya menjadi pusat cerita yang menggambarkan kedekatan emosional antara ibu dan anaknya. Melalui hubungan mereka, penonton diajak memahami bahwa kasih sayang tidak selalu disampaikan melalui ucapan. Tekadang, cinta justru hadir melalui perhatian kecil, pengorbanan yang tidak terlihat, serta usaha untuk memastikan orang yang dicintai tetap baik-baik saja.
Lebih dari sekadar kisah tentang penyakit dan perpisahan, film ini membawa penonton pada pernyataan sederhana yang kerap terlupakan dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah kita menghargai waktu bersama ibu? Kesibukan, rutinitas, dan berbagai urusan sering kali membuat kehadiran orang tua terasa biasa saja. Padahal, obrolan singkat, perhatian sederhana, hingga kebersamaan di rumah merupakan bagian dari kehidupan yang belum tentu dapat dirasakan selamanya.
Film Ibu Bagaimana Aku Tanpa Mu? mengingatkan bahwa cinta seorang ibu tidak hanya hadir ketika Ia berada di samping anaknya. Cinta itu juga hidup dalam pelajaran, kenangan, dan nilai-nilai yang ditinggalkan untuk bekal menjalani kehidupan. Sebab, meskipun waktu bersama tidak selamanya, kasih sayang seorang ibu dapat terus tumbuh dalam hati anaknya, menjadi kekuatan untuk melangkah dan keberanian untuk menghadapi hari-hari mendatang.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

