Hits: 3

Aura Qathrunnada Gultom

Pijar, Medan. Bagaimana jika kisah kehidupan pasangan suami istri tidak hanya digambarkan dengan romansa dan kebahagiaan, tetapi dengan latar thriller (triler) psikologis yang menegangkan? Berbentuk jalan cerita yang menimbulkan tanda tanya dan pengungkapan yang mengejutkan, kisah misteri di dalam hubungan domestik ini disajikan dalam Buku Novel Gone Girl karya Gillian Flynn yang dirilis pada tahun 2012.

Buku fiksi ini mengisahkan tentang hubungan yang tidak sehat, antara sepasang suami istri Nick Dunne dan Amy Dunne. Awalnya Amy dan Nick bertemu di Kota New York dan akhirnya saling jatuh cinta, hingga mereka memutuskan untuk menikah dan membangun kehidupan bersama.

Namun, kisah pasangan ini tidak seperti pasangan pada umumnya. Hubungan yang ada di antara mereka mungkin terlihat manis dari luar, tetapi di dalamnya penuh dengan permasalahan. Mulai dari masalah keuangan, perbedaan pandangan, hingga perselingkuhan yang dilakukan oleh Nick. Konflik yang terjadi pun tidak hanya sekadar permasalahan yang sering muncul di hubungan pernikahan, tetapi juga melibatkan tindak kriminal dan manipulasi.

Setelah pernikahan mereka berjalan selama setengah dekade, Amy tiba-tiba menghilang. Nick melaporkan kehilangan tersebut kepada pihak kepolisian. Namun, berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh polisi, bukti malah mengarah kepada Nick sendiri sebagai kemungkinan tersangka untuk diselidiki lebih lanjut.

Kasus ini menjadi isu yang sangat hangat, tidak hanya di lingkungan tempat mereka tinggal, tetapi juga di seluruh penjuru negara Amerika Serikat. Dengan naiknya kasus ini hingga ke media, publik mulai menunjukkan opini dan dukungan mereka. Masyarakat banyak yang menuduh Nick sebagai dalang di balik kasus hilangnya Amy. Belum lagi Amy dianggap sebagai sosok yang terpelajar dan inspiratif oleh orang terdekatnya, hal ini menyebabkan masyarakat menuntut agar keadilan kepada Amy untuk segera ditegakkan.

Kisah dalam buku ini disajikan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Nick sendiri dan sudut pandang dari Amy melalui buku catatan hariannya. Dengan menghadirkan kedua sudut pandang ini, penulis membawa pembaca untuk merasakan pengalaman peralihan (shifting) yang mungkin terjadi, shifting ini hadir dalam bentuk keberpihakan pembaca kepada dua narator yang dijabarkan oleh penulis.

Buku ini juga terkenal dengan kutipan “cool girl”, yaitu menggambarkan standar yang tidak masuk akal oleh masyarakat kepada perempuan.

“Men always say that as the defining compliment, don’t they? She’s a cool girl. Being the Cool Girl means I am a hot, brilliant, funny woman who adores football, poker, dirty jokes, and burping, who plays video games…,” — halaman 210.

Selain itu, runtutan tragedi yang ditulis Gillian juga menyajikan plot twist di dalam alur ceritanya. Meskipun pengungkapan ini hadir di tengah cerita, twist tersebut menjadi salah satu bagian yang mengejutkan para pembaca. Atmosfer yang diberikan berupa rasa penasaran terhadap misteri yang belum terjawab, ditambah dengan suasana dingin yang dideskripsikan dengan gaya bahasa yang unik. Detail-detail ini membangun perasaan yang gundah dan bermain dengan pikiran pembaca.

Di luar kisah yang diceritakan, menariknya, setelah menamatkan buku ini para pembaca memiliki pandangan yang berbeda-beda. Ada yang merasa salah satu dari pasangan ini melakukan tindakan mereka bukan tanpa alasan, tetapi disebabkan perlakuan yang buruk oleh pasangannya, baik itu Amy ataupun Nick. Ada pula yang melihat kedua individu ini sebagai orang yang sama-sama tidak kompeten dalam membangun hubungan mereka, sehingga berujung pada rangkaian permasalahan.

Cerita ini tidak hanya dikisahkan dalam buku, tetapi juga sudah diangkat dalam bentuk film yang telah ditayangkan di layar lebar pada tahun 2014 dengan judul yang sama, disutradarai oleh David Fincher dan ditulis kembali oleh Gillian Flynn.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment