Hits: 11

Jihan Ananda Purnama/Putri Theresia

Pijar, Medan. Sekitar 645 juta orang di dunia mengalami kelaparan pada tahun 2025, sementara 2,69 miliar orang tidak mampu membeli makanan bergizi. Data dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada laman fao.org tersebut, menjelaskan bahwa ternyata persoalan pangan bukan sebatas tersedia atau tidaknya makanan bergizi saja, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengaksesnya.

Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang dirilis oleh lima badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada laman who.int, mencatat bahwa prevalensi kelaparan global menurun dari 8,1 persen pada 2024 menjadi 7,8 persen pada 2025. Meskipun mencerminkan perbaikan, penurunan tersebut belum cukup untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2, yaitu Tanpa Kelaparan (Zero Hunger), pada 2030.

Persoalan ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk konflik, ketidakstabilan ekonomi, serta gangguan iklim yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan. Berdasarkan kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan saja belum cukup untuk  menjamin pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Di Indonesia, tantangan kewaspadaan pangan juga tergambar dalam Laporan Eksekutif Situasi Kewaspadaan Pangan dan Gizi Nasional yang dirilis Badan Pangan Nasional di laman resmi data.badanpangan.go.id pada Januari 2026. Laporan tersebut mencatat bahwa 18 dari 38 provinsi di Indonesia berada dalam kategori waspada. Kategori ini didasarkan pada pemetaan aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.

Persoalan akses tersebut sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026, “Innovate Today. Nourish Tomorrow”. Tema ini berfokus pada pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang  dikombinasikan dengan kearifan lokal untuk membangun sistem pangan yang berkelanjutan demi masa depan.

Dalam pesan peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 yang dimuat di laman resmi PBB di Indonesia yakni indonesia.un.org, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menekankan pentingnya memastikan akses pangan yang aman, bergizi, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.

“Bersama-sama, mari kita pastikan bahwa setiap orang, di mana pun mereka berada, memiliki akses terhadap makanan yang aman, bergizi, dan terjangkau,” tegas Antonio.

Di tingkat lokal, usaha untuk meningkatkan aksesibilitas pangan juga dapat dilakukan melalui penyediaan bahan pangan dengan harga yang lebih murah. Contohnya, Pemerintah Kota Depok mengadakan bazar dan penyediaan pangan murah untuk merayakan Hari Pangan Sedunia 2026. Kegiatan ini bertujuan membantu masyarakat mendapatkan produk pangan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

Mengutip dari berita.depok.go.id, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Depok, Dadan Rustandi, menyampaikan harapannya mengenai kegiatan tersebut.

“Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses berbagai produk pangan berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment