Hits: 2

Annisa Al Mahgfira

Pijar, Medan. Kegagalan masuk perguruan tinggi yang diimpikan sempat membuat Dira Riyani merasa kecewa. Walaupun begitu, akhirnya ia diterima melalui pilihan kedua UTBK, sehingga kini ia merupakan mahasiswi Program Studi (Prodi) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU). Dari rasa kecewa tersebut, Dira memotivasi dirinya dalam mencari cara untuk kembali bangkit.

Kompetisi menjadi salah satu ruang yang ia pilih. Bukan hanya untuk mengejar prestasi, tetapi juga untuk kembali aktif setelah sempat larut dalam kekecewaan. Ia mulai mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari organisasi, kepanitiaan, hingga kompetisi.

Sebenarnya, ketertarikan terhadap kompetisi bukan hal baru bagi Dira. Sejak SMA, ia telah mencoba berbagai bidang, seperti olimpiade ekonomi, pidato, reporter, baca berita, hingga bela diri. Memasuki dunia perkuliahan, ia mulai mengarahkan minatnya pada bidang yang lebih dekat dengan bidang manajemen.

“Semakin belajar tentang manajemen, aku justru semakin tertarik dengan bisnis, ekonomi, dan bagaimana sebuah masalah bisa diubah menjadi ide atau solusi yang punya nilai,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut kemudian ia kembangkan melalui berbagai kompetisi. Mulai dari kompetisi seputar business plan, business model canvas, kewirausahaan, esai, ekonomi Islam, hingga karya tulis ilmiah. Seiring berjalannya waktu, Dira tidak hanya mengejar hasil dari kompetisi, tetapi mulai menikmati proses mencari ide, melakukan riset, berdiskusi, hingga mempresentasikan gagasan.

Perjalanan tersebut juga tidak selalu diisi kemenangan. Dira pernah mengalami kekalahan lima kali berturut-turut sebelum akhirnya meraih kemenangan pada kompetisi berikutnya. Pengalaman tersebut membuatnya mulai melihat kembali kekurangan dalam ide, presentasi, kerja sama tim, hingga persiapan kompetisi.

“Kalau gagal, coba lagi. Karena menurut aku, kalau hari ini belum berhasil, bukan berarti harus berhenti. Kalau jatuh 1.000 kali, kita harus bangkit 1.001 kali,” ungkapnya.

Dari proses tersebut, sejumlah penghargaan mulai diraih Dira. Pada 2025, ia berhasil meraih Juara I Kompetisi Rencana Bisnis Internasional Universitas Khairun dan Juara II Kompetisi Business Model Canvas Internasional yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Purworejo bersama Camarines Norte State College dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Pahang Branch, Malaysia.

Prestasi lainnya juga datang dari berbagai kompetisi nasional. Dira meraih Juara I Kompetisi Rencana Bisnis Temu Ilmiah Regional (TEMILREG), Juara I Kompetisi Esai Glory Fest Universitas Jambi, Juara II Kompetisi Menulis Nasional Inteleksa x Himpunan Mahasiswa Ekonomi Universitas Andalas, serta sejumlah prestasi lainnya. Pada 2026, ia juga meraih Medali Emas Sriwijaya Innovation National Essay and Poster Award dan Juara II Mahasiswa Berprestasi FEB USU.

Namun, dari berbagai kompetisi tersebut, ada satu pengalaman yang paling membekas bagi Dira. National Writing Competition Inteleksa di Universitas Andalas menjadi kompetisi yang menurutnya memiliki cerita berbeda. Bersama tim, ia melewati proses persiapan, penulisan, revisi berkali-kali, hingga memutuskan datang langsung ke Padang.

“Ketika sampai di sana, rasanya bukan cuma sekadar datang untuk mengikuti lomba, tapi ada rasa ‘ternyata perjalanan yang kami usahakan dari awal akhirnya sampai juga di titik ini’,” ujarnya.

Kompetisi tersebut akhirnya tidak hanya meninggalkan medali perak. Dira juga bertemu dengan orang-orang baru yang masih berhubungan dengannya hingga sekarang. Baginya, pengalaman tersebut membuat kompetisi terasa lebih luas dari sekadar persoalan menang dan kalah.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, Dira juga tetap menjalani perkuliahan, organisasi, dan magang. Ia biasanya membuat daftar kegiatan setiap minggu, kemudian mengelompokkannya berdasarkan prioritas dan urgensi. Meski begitu, tidak semua rencana selalu berjalan sesuai jadwal.

“Manajemen waktu itu bukan berarti semua harus berjalan sempurna sesuai jadwal, tapi bagaimana kita bisa tetap tahu apa yang harus diprioritaskan dan bertanggung jawab dengan semua hal yang sudah kita pilih,” tuturnya.

Kini, cara pandang Dira terhadap kompetisi pun ikut berubah. Jika sebelumnya kemenangan menjadi tujuan utama, ia mulai melihat proses sebagai bagian yang tidak kalah penting. Kegagalan, kritik, kerja sama tim, hingga kesalahan menjadi pengalaman yang dibawa ke kompetisi berikutnya.

Bagi Dira, pencapaian juga tidak bisa dilepaskan dari perjuangan yang jarang terlihat. Selain pernah gagal masuk Institut Pertanian Bogor (IPB), ia juga pernah gagal masuk sekolah kedinasan dan harus melewati lima kekalahan dalam kompetisi sebelum mendapatkan kemenangan.

“Jangan hanya melihat seseorang dari hasil akhirnya, karena kita nggak pernah benar-benar tahu seberapa panjang perjuangan yang sudah dia lalui untuk sampai di sana,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment