Hits: 3

Annisa Al Mahgfira

Pijar, Medan. Universitas Sumatera Utara (USU) menginisiasi The 1st International Conference on Population and Family Development (ICoPoF) 2026 yang akan digelar 16 Juli mendatang di Digital Learning Center Building (DLCB) USU. Konferensi internasional ini mengusung tema “Strengthening Population and Family Development to Achieve the Sustainable Development Goals (SDGs)”.

Di tengah persiapan konferensi tersebut, realitas yang dihadapi mahasiswa justru menunjukkan arah berbeda. Dilansir dari unismanbekasi.ac.id, fenomena seperti sandwich generation, tren childfree, dan quarter-life crisis marak diperbincangkan di kalangan Gen Z.

Sebanyak 20 ruang lingkup yang akan dibahas dalam ICoPoF 2026 mencakup pilar kesehatan, ekonomi, inovasi lingkungan, serta sosial dan transformasi budaya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah konferensi internasional ini mampu menjawab kekhawatiran nyata mahasiswa sehari-hari.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi USU, Moulita, menilai bahwa kecemasan Gen Z terhadap masa depan keluarga bersifat sistemik.

“Apakah memang si kelompok generasi Gen Z ini punya ketakutan tersendiri dengan proyeksi mereka akan seperti apa kira-kira, masa depan, atau kemudian bayangan mereka terhadap membangun keluarga. Itu tercermin pada kondisi hari ini dan saya pikir itu memang sifatnya sistemik,” ujarnya.

Mahasiswa Sosiologi USU, Sandi Perdana, mengakui bahwa isu kependudukan terasa sebagai dua hal sekaligus.

“Di satu sisi, kita sebagai mahasiswa jadi lebih sadar bahwa masa depan perlu dipersiapkan dengan matang. Namun, di sisi lainnya kondisi tersebut juga menimbulkan tekanan tersendiri. Banyak mahasiswa yang mulai merasa cemas terhadap masa depan,” sebutnya.

Fenomena childfree dan quarter-life crisis turut mengubah cara pandang salah satu mahasiswa Psikologi USU, Zaskia Ramadhani. Ia menjelaskan bahwa media sosial menjadi sumber utama pembentuk perspektif.

Sandwich generation membuat banyak mahasiswa jadi lebih sadar bahwa membangun keluarga itu bukan hanya soal kesiapan emosional, tetapi juga kesiapan finansial. Sementara, quarter-life crisis membuat banyak orang lebih reflektif terhadap diri sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Alwi Yanda Sitompul, mahasiswa Sosiologi USU, menilai bahwa cakupan ICoPoF sudah relevan dengan isu aktual.

“Saat ini sedang booming masalah rape culture di lingkungan akademik. Bahkan, tiga raksasa PTN di Indonesia menjadi sarang aksi kultur ini. Potensi dari kultur ini adalah trauma psikis di masa depan dan juga peningkatan isu ketahanan keluarga,” jelasnya.

ICoPoF 2026 menghadirkan narasumber dari kementerian, UNFPA, serta mitra dari Malaysia dan India. Menurut Moulita, komunikasi dalam konferensi harus bisa menyentuh hati dan pikiran.

“Bukan hanya ke anak muda saja, tetapi ke semua golongan. Itu harus bisa menyentuh hati dan pikiran, disesuaikan konteksnya dan seperti apa kebutuhan mereka,” pungkasnya.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment