Hits: 25

Shefira Riani Manany

Pijar, Medan. Setiap tanggal 16 Juni, masyarakat dunia memperingati Hari Penyu Sedunia, bertepatan dengan hari lahir Dr. Archie Carr, seorang ilmuwan yang dikenal sebagai Bapak Biologi Penyu dan tokoh penting dalam gerakan konservasi global.

Peringatan Hari Penyu Sedunia bukan sekadar simbolik, tetapi pengingat akan peran penting penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Jika penyu punah, manusia ikut terancam kehilangan masa depan yang bergantung pada alam.

Di Indonesia, ancaman terhadap penyu terlihat nyata. Di banyak wilayah konservasi, penyu betina kesulitan bertelur karena habitatnya yang terganggu.

“Penyu butuh pantai gelap dan tenang, tapi kini pantai diterangi lampu, penuh kursi, musik yang keras, dan wisatawan,” jelas Matla’ah, Koordinator Senior Proyek Penyu Gili di Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat.

Penyu yang merasa terganggu bisa kembali ke laut sebelum bertelur. Bahkan, jika tetap bertelur, gangguan bisa membuat jumlah telur menjadi lebih sedikit.

“Kami pernah temukan sarang dengan hanya 14 telur. Biasanya lebih dari 100 telur,” tambah Matla’ah.

Ancaman lain datang dari sampah plastik. Banyak penyu mati karena menelan sampah plastik, mengira benda itu merupakan ubur-ubur.

“Sampah plastik menyumbat pencernaan penyu, menyebabkan kematian perlahan,” ungkap Alya Rosyadah dari Yayasan Penyu Indonesia (YPI).

Anak penyu juga sering terjebak di tumpukan sampah atau tersesat karena cahaya buatan. Pembangunan pesisir turut mengganggu navigasi alami penyu. Meski punya insting untuk kembali ke tempat menetas, perubahan drastis membuat mereka kehilangan orientasi.

Tahun ini, Proyek Penyu Gili dan YPI memilih fokus pada edukasi dan aksi nyata ketimbang acara seremonial. Proyek Penyu Gili merekrut relawan baru dan menyebarkan video edukasi di media sosial. YPI menggelar kegiatan edukatif di tiap lokasi konservasi. Di Simeulue, ada lomba mewarnai dan bersih pantai. Di Kalimantan Timur, terdapat patroli bersama TNI Angkatan Laut. Di Nias, edukasi dilakukan lewat festival masyarakat. Anak-anak, komunitas lokal, dan aparat dilibatkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya perlindungan penyu.

Kedua organisasi ini juga menolak metode headstarting atau penangkaran anak penyu di kolam sebelum dilepas.

“Anak penyu yang terlalu lama dipelihara tidak tahu cara menyelam dan mencari makan. Kami pernah temukan mereka hanya terapung, kelaparan,” ujar Matla’ah.

Sarang penyu hanya direlokasi jika berada di tempat yang berisiko. Anak penyu dilepas segera setelah menetas agar insting alaminya berkembang.

Upaya edukasi ini mulai membuahkan hasil. Masyarakat dan pelaku wisata kini lebih peduli, terlihat mereka memadamkan lampu di malam hari, memindahkan kursi dari garis pantai, dan mengingatkan wisatawan agar tidak memakai flash kamera saat memotret penyu.

Hari Penyu Sedunia mengingatkan bahwa konservasi bukan cuma tugas peneliti atau aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab semua pihak.  Oleh karena itu, menjaga penyu berarti menjaga laut. Laut yang sehat adalah kunci masa depan manusia.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment