Hits: 59

Shefira Riani Manany

Pijar, Medan. Hari Buku Anak Sedunia atau International Children’s Book Day (ICBD) yang diperingati setiap 2 April, kembali hadir pada 2026 dengan tema “Plant Stories, and the World Will Bloom”. Tema ini menegaskan pentingnya peran cerita sebagai benih yang mampu menumbuhkan imajinasi, empati, dan harapan pada anak sejak dini. Buku tidak hanya dipandang sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium yang membentuk cara pandang serta masa depan generasi muda.

Pada 2026, peringatan ini diselenggarakan oleh International Board on Books for Young People (IBBY) Cyprus sebagai bagian dari rotasi penyelenggara internasional. Berbagai kegiatan literasi pun didorong, mulai dari kampanye membaca, distribusi buku anak, hingga kegiatan di sekolah dan komunitas, seperti membaca bersama, diskusi, interaksi dengan penulis dan ilustrator, serta kompetisi literasi.

Selain itu, terdapat inovasi dalam proses peringatan tahun ini, di mana untuk pertama kalinya, pesan dan poster Hari Buku Anak Sedunia dipilih langsung oleh anak-anak dari 19 sekolah. Langkah ini menjadi upaya untuk melibatkan anak secara aktif dalam dunia literasi serta memperkuat peran mereka sebagai bagian dari ekosistem membaca.

Namun, di tengah upaya global tersebut, tantangan literasi masih menjadi persoalan di berbagai daerah, terutama terkait keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang layak dan menarik bagi anak-anak.

Kondisi tersebut turut tergambar di salah satu komunitas literasi, Rumah Baca Rambutan. Muhammad Indra Nasution, penanggung jawab kegiatan literasi di komunitas tersebut, menyebut bahwa pendekatan literasi yang diterapkan memiliki karakteristik tersendiri.

“Kalau di sini, literasi bukan hanya baca buku umum, tetapi lebih ke membaca Al-Qur’an dan Iqra’. Ada juga kegiatan minat bakat, seperti menari, matematika, dan bahasa Inggris, tapi syaratnya tetap harus ngaji,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa minat baca anak sebenarnya tetap ada, tetapi jenis bacaan yang tersedia masih terbatas. Anak-anak lebih banyak diarahkan pada kegiatan keagamaan dibandingkan membaca buku umum.

Selain itu, penggunaan gawai di lingkungan tersebut tergolong minim sehingga bukan menjadi faktor utama menurunnya minat baca. Justru, keterbatasan akses buku menjadi kendala yang lebih dominan.

“Sebetulnya anak-anak suka membaca, tapi kendalanya di buku. Bantuan terakhir itu sekitar satu tahun yang lalu. Ada juga yang bawa buku sendiri, tapi jumlahnya masih sedikit,” jelas Indra.

Menurutnya, kegiatan mengaji menjadi metode yang paling efektif dalam membangun kebiasaan literasi anak di lingkungan tersebut. Meski demikian, keberadaan buku cerita, terutama yang bergambar dan menarik, dinilai penting untuk memperluas minat baca anak.

“Harapannya ke depan, ada bantuan buku, terutama buku cerita bergambar yang menarik, supaya anak-anak lebih tertarik untuk membaca,” tambahnya.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment