Hits: 65
Reporter Pijar / Umniyatiy Nurul Atqiya
Pijar, Medan. Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) resmi diperingati setiap tanggal 5 November. Hal ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Cinta Puspa dan Satwa Nasional, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.
Peringatan ini dideklarasikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan puspa (tumbuhan) dan satwa (hewan). Terlebih generasi muda, diharapkan agar semakin mencintai dan peduli terhadap lingkungan, serta perlindungan spesies yang terancam punah.
Puspa nasional adalah tanaman yang diakui sebagai simbol keindahan dan kekayaan flora Indonesia. Sementara itu, satwa nasional adalah hewan yang menjadi simbol perlindungan dan pelestarian fauna di Indonesia.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia, pada kenyataannya masih menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup spesies tumbuhan dan hewan. Aktivitas manusia seperti penebangan hutan, perburuan liar, dan polusi menjadi penyebab utama yang mendorong banyak spesies terancam punah.
Puspa dan satwa berkontribusi pada keseimbangan ekosistem; tumbuhan memproduksi oksigen dan mengatur iklim, sementara hewan mendukung penyerbukan dan penyebaran biji. Hilangnya spesies dapat merusak habitat dan menurunkan kualitas lingkungan.
Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional mengajak seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah untuk bersatu dalam aksi pelestarian. Melalui kerja sama, diharapkan dapat menciptakan program dan kebijakan yang lebih efektif dalam melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia.
“Hari besar ini sangat penting untuk diperingati, karena puspa dan satwa adalah bagian dari ekosistem alam, kepunahan mereka juga akan berdampak buruk secara langsung terhadap manusia,” ungkap Nafis Athallah, salah satu mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
Azhadi Halomoan, salah satu kepala bidang di Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara, menjelaskan upaya yang sudah dilakukan untuk melestarikan puspa dan satwa nasional.
“Kami sudah menanam bibit tumbuhan untuk dikembangbiakkan, dan melindungi hewan agar dapat berkembangbiak secara alami, sehingga eksistensinya tetap terjaga,” jelasnya.
Punahnya puspa dan satwa nasional bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesejahteraan manusia. Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional adalah pengingat penting tentang tanggung jawab kita terhadap alam.
Melalui peringatan hari ini, masyarakat tidak hanya merayakan keindahan flora dan fauna, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga dan melestarikannya demi generasi mendatang. Pelestarian ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam, serta melestarikan warisan budaya dan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia.
(Redaktur Tulisan: Hana Anggie)

