Hits: 399

Stella Regina Christy

Pijar, Medan. Twitter adalah layanan jejaring sosial yang menawarkan penggunanya untuk bertukar pesan dalam bentuk teks, foto, video, dan tautan kepada sesama pengguna Twitter. Akhir-akhir ini, muncul istilah-istilah baru yang popular dan sering kali ditemui di Twitter, salah satunya adalah Alternative Universe (AU).

AU adalah cerita fiksi yang ditulis dengan menggunakan dimensi atau latar yang berbeda dari kenyataannya. Latar dalam AU bersifat multitafsir, yakni bisa berarti tempat, waktu, maupun suasana. Penulis AU biasanya menggunakan idola mereka seperti penyanyi K-pop, aktor, maupun aktris mancanegara sebagai visualisasi dari tokoh AU yang nantinya akan diubah nama, karakter, hingga status sosial aslinya sesuai dengan keinginan penulis. Contohnya penyanyi K-pop yang digunakan sebagai tokoh AU diubah menjadi orang biasa yang tinggal di Indonesia dan diberi nama lokal demi keperluan cerita.

AU ditulis ke dalam sebuah utas atau thread yang membuat penulis dapat mengunggah konteks tambahan, pembaruan, atau poin penting tambahan dengan menghubungkan dan merangkai beberapa twit bersama sehingga AU dapat dibaca secara berkesinambungan tanpa tercampur dengan twit lain.

Berbeda dengan cerita fiksi yang pada umumnya hanya bercerita dalam bentuk narasi panjang menggunakan write.as atau medium. AU cenderung menyampaikan cerita dalam bentuk visual.

Pengenalan para tokoh dan deskripsi mengenai kejadian langsung dibuat semenarik mungkin menggunakan notes layaknya cerpen dan novel. Postingan media sosial dari tokoh dan percakapan antar tokoh dari aplikasi pesan instan pun ditampilkan melalui tangkapan layar (screenshot). 

Penulis bahkan membuat sebuah playlist berisi hasil kurasi beberapa lagu yang cocok didengarkan oleh para pembaca melalui platform musik Spotify. Maka dari itu, menulis AU di Twitter membutuhkan usaha lebih dibandingkan dengan menulis cerita fiksi di platform lain karena penulis membutuhkan lebih dari satu aplikasi untuk menyelesaikan penulisan satu cerita AU. 

“Sebelumnya aku terbiasa menulis cerita full narasi di platform lain, tapi kalau di Twitter seperti dikasih kesempatan buat lebih banyak berkreasi lagi. Menurutku, Twitter bisa menjadi wadah untuk penulis mengasah kreativitas karena mostly cerita di Twitter kan social media AU ya, jadi super fun buat nyari dan edit gambar atau video buat dijadiin konten ceritanya gitu,” tutur Chelsy Cyndy, penulis AU dengan nama pengguna @dreamored di Twitter.

Ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dalam proses menulis AU. Contohnya adalah belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang bisa suka dengan cerita yang telah kita tulis. Akan selalu ada orang yang memiliki pendapat yang berbeda dan untuk itu penulis harus selalu siap menerima kritik dan saran dari orang lain.

Kritik dan saran tidak selamanya bersifat negatif. Tak dapat dipungkiri bahwa penulis juga akan mendapatkan banyak feedback positif dari pembaca yang menyukai hasil karya sang penulis. 

“Dengan menulis, akan ada pembaca yang menyukai karyaku dan mengirimkan pesan-pesan hangat untukku dan itu heartfelt banget, I feel like accomplishing something in life. Aku merasa appreciated, makanya I appreciated my readers so much. Some of them found my story helpful for them jadi aku seneng banget, it motivates me to write even more,” jelas Chelsy.

AU dengan alur cerita yang apik tidak hanya menarik perhatian pembaca, tetapi juga pihak penerbit.  Tak jarang penulis AU mendapatkan tawararan dari pihak penerbit untuk menerbitkan AU milik mereka ke dalam bentuk fisik seperti buku novel. Bahkan ada juga AU yang kemudian diberikan tawaran untuk diadaptasi menjadi film dan series

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

Leave a comment